Selasa, 15 Juli 2014

R1435H : Psikologi SHAUM Dalam SHALAT



*Berdasarkan tulisan KH Drs. Muchtar Adam, Pesantren Al Qur’an Babussalam, Bandung

          Buklet ini menjadi oleh-oleh suami sepulang tarawih di Jakarta, Senin malam lalu. KH Muchtar Adam sebagai penceramah membagikan materinya kepada para hadirin. Alhamdulillah, beliau masih sehat di usia lanjutnya. Saya juga bisa ikut bernostalgia, seolah-olah mendengar tausiyah beliau. Saat mahasiswa, 2 kali ikut pesantren kilat berlokasi di Babussalam, yang beliau dirikan. Selain itu, beberapa kali mendengar ceramah beliau di mesjid Al Azhar, dekat rumah orangtua saya.

          Buklet ini  khas gaya pembahasan KH Muchtar Adam. Tak banyak berbunga-bunga. Isinya ayat al Qur’an dan hadits dengan sumbernya saja. Sedikit sekali kata-kata penghubung. Karenanya, saya lebih banyak menyingkat isi buklet ini dengan tak mencantumkan kalimat bahasa Arabnya saja. Tak bisa disingkat lebih singkat lagi. #


          Shalat pada hakikatnya adalah hubungan langsung dengan Allah Swt. Kita tahu, makan dan minum membatalkan shalat, ini kan sama dengan shaum. Makan dan minum membatalkan shaum. Bisa jadi, saat shaumpun sebenarnya kita dituntut melaksanakan apa yang wajib kita lakukan saat shalat, yaitu khusyu’. Karenanya, yang akan dibahas kali ini adalah khusyu’, khususnya khusyu’ dalam shalat. Dengan harapan, kekhusyu’an yang sama bisa kita terapkan dalam shaum.

          QS Al Mukminun: 1-2. Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.

Definisi Khusyu’

          Menurut Imam Ali bin Muhammad al Sayyid al Syarifal Jurjany dalam kitab Mu’jam al Ta’rifat, Khusyu’ adalah alkhudhu’ dan al tawadhu, ini artinya sama.
1.      Khusyu’ adalah ketundukan kepada Allah Swt.
2.      Khusyu’ adalah hati yang selamanya takut kepada Allah.
3.      Tanda-tanda khusyu’ :  jika seorang hamba marah, disingkirkan, atau ditolak, dia menerima dengan senang hati. Dari definisi ini, khusyu’ berlaku dalam segala hal kehidupan, bukan pada saat shalat saja.
Karenanya, lapangan khusyu’ menjadi sangat  luas, terus-menerus dalam kehidupan, tak henti-hentinya, kapanpun, dan dimanapun.

          Menurut tanwir al Miqbas li Ibni ‘Abbas. Laki-laki yang khusyu’ (al khaasyi’iina) ialah orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah dari kalangan laki-laki. Sedangkan perempuan yang khusyu’ (al khaasyi’aati) adalah orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah dari kalangan perempuan.

          Menurut tafsir al Qasimiy. Mereka rendah diri kepada Allah dengan hati dan anggota badan mereka dan khusyu’, yaitu tenang dan tukmaninah serta memenuhi segala kewajiban, dan rasa hormat serta rendah diri. Hal ini membawanya kepada takut kepada  Allah Ta’ala sehingga mencapai derajat muraqabah.

Sifat-sifat Khusyu’

          QS Al Anbiya: 90. ...Mereka itu bersegera di dalam Islam (dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan  baik), dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

          Khusyu’ disini adalah dalam segala urusan hidup,

          Menurut Hadits Nabi Saw, ciri orang khusyu’ itu ada 4
1.      Merasakan pengawasan Allah baik saat sendirian maupun dalam keramaian.
Disini nampak jelas ma’rifat seseorang.
Makna khusyu’ disini adalah:
-          Tak ada kesempatan untuk berbuat maksiat.
-          Zikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi.

2.      Senantiasa berada di atas kebaikan, keindahan, kesalehan, dan kepenyantunan.
Sikap hidupnya selalu dihiasi amal saleh dan menggembirakan orang lain.
Ini berarti memiliki jiwa kesalehan sosial.

3.      Senantiasa mentafakkuri hari kiamat.
a.       Banyak mengingat hari pembalasan
b.      Hidupnya diarahkan untuk kebahagiaan akhirat (zuhud).

4.     Senantiasa munajat kepada Allah
a.       Tak lepas hubungan dengan Allah melalui zikir, doa, dan munajat.
b.      Mengimplementasikan doa dan zikirnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat Nabi Saw ditanya, apakah khusyu’ itu? Maka Nabi bersabda: tawadhu di dalam shalat dan Allah ‘Azza wa Jalla terhunjam secara total  dalam hati seorang hamba. 

Selain ke-4 point di atas:

5.      Khusyu’ adalah hiasan wali-wali Allah
QS Al Anbiya:90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. ...dst (telah ditulis di atas).
Khusyu’ adalah sikap hidup keseharian. Khusyu’ di dalam shalat hanya setetes dari makna khusyu’ ini, yaitu sebagaimana pada point 6. Dan didetilkan pada bagian berikutnya.

6.      Khusyu’ di dalam shalat.
Uraian hadits oleh Imam al Raghib al Isfahany: Jika hati (qalbu) sudah tunduk, maka anggota badan (fisik) juga akan khusyu’.
QS Al Isra: 109. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’

Khusyu’ di dalam shalat.

1.     Khusyu’u al Bashar. Pandangan yang tunduk, hanya melihat ke tempat sujud, kecuali saat tasyahud.
a.       QS Al Mu’minun:1-2
b.      QS Al Naziat: 9
c.       QS Al Qalam: 43
d.      QS Al Qamar: 7

2.      Khusyu’u al Shawt. Suara yang khusyu’.
a.       QS Thoha: 108

3.      Khusyu’u al Qalb. Khusyu’nya hati.
a.       QS Al Hadid: 16
b.      Imam Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur menafsirkan sebuah hadits sebagai: Belum sampailah masanya merasa tenang dan tentram hati orang-orang beriman untuk menegakkan shalat dan hukum-hukum al Qur’an sehingga gemetar hatinya jika disebutkan ayat-ayat Qur’an.

4.      Khusyu’u al Jawarih. Khusyu’nya anggota badan
Khusyu’ keempat ini berdasarkan hadits-hadits.
Contoh. Dikisahkan, saat masuk mesjid Rasulullah melihat seseorang sedang shalat sambil mengelus-elus jenggotnya. Beliau bersabda, ”Sekiranya orang ini khusyu’, maka tangan dan seluruh anggota badannya juga akan khusyu’.”

Puncak  Khusyu’

          Sedangkan puncaknya khusyu’, implementasinya dalam ibadah adalah adanya 7 kata bukiyyan dalam Al Qur’an, yang mengungkap tentang tangis, tangisan,  dan menangis.
          
          Akar kata bukiyyan, yaitu bakkah, terungkap pada QS Ali Imran:96. Menurut Ibnu Abbas, bakkah berasal dari bakaa__yabkii__bukaa-an yang berarti menangis. Dari bakkah berubah menjadi Makkah, yang berarti kota untuk menangis.

          Imam al Rifa’i dalam kitab Halah Ahli  al Haqiqah Ma’allah mengungkapkan tingkatan-tingkatan menangis berdasarkan 7 kata nangis dalam al Qur’an, yaitu:

1.      Tangisan karena malu. Menangisnya Adam ketika dipindahkan dari surga. Allah menegurnya karena menangis bukan karena meninggalkan ibadah. Adam pun mengucap kalimat ikhlas. QS Al Baqarah: 3. Maka Allah pun mengampuninya.

2.      Tangisan karena kesalahan, seperti tangisan nabi Dawud ‘as.

      3. Tangisan karena takut, seperti tangisan nabi Yahya bin Zakaria ‘as.

4.      Tangisan karena merasakan kehebatan Allah Swt, yaitu tangisan para nabi, para wali Allah, dan ahli ma’rifat. Seperti pada QS Maryam: 58. “...apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

5.      Tangisan karena kehilangan sesuatu, seperti tangisan nabi Ya’qub ‘as. Ketika 1 dari 12 anaknya dijauhkan Allah darinya, Ya’qub menjadi buta karena menangis.

6.  Tangisan karena cinta dan rindu kepada Allah Swt, yaitu tangisan nabi Syuaib ‘as sampai buta 3x berulang-ulang. Allah Swt menegurnya: Jika engkau menangis karena takut neraka, Aku sudah mengamankanmu. Jika engkau menangis karena mengharapkan surga, Aku sudah menyediakan surga untukmu.” Nabi Syuaib menegaskan, “Tidak, wahai Tuhanku, aku menangis karena sangat rindu kepada-Mu, ingin memandang wajah-Mu yang Maha Mulia itu!”
 
Hakikatnya, tangis dan tawa itu dari Allah. QS Al Najm: 43, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

Para ahli ma’rifat tertawa karena gembira dengan ma’rifatnya, dan menangis jika berpisah dengan Allah.
Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa tangisan dan air mata yang berguguran, maka seperti itulah bergugurannya dosa-dosa. Maka karena itu para nabi, sahabat, dan ulama-ulama salihin ahli dalam bidang ini dalam rangka taqarrub kepada Allah. 

Jika tak dapat menangis, maka boleh saja  dengan tabaaki (pura-pura menangis), atau nangis hakiki, yaitu menangis dalam hati, tangisan batiniyah.

7.      Tangisan dalam hati ini adalah tenggelam dalam kesedihan. Catatan amal saleh kaum mukminin nanti di akhirat banyak yang merupakan akibat penderitaan dan kesedihan. 

Imam Hasan Basri seluruh hidupnya tak lepas dari bencana dan kesedihan.
Saat Fudhail bin Iyadh wafat, imam al Waki berkata,”Hari ini kesedihan sudah lenyap dari muka bumi.” Ini karena beliau terus dirundung kesedihan, dan dari kesedihan inilah memancar amal-amal kebaikan dan pahala yang banyak, serta selalu bersatu dengan Allah.
Nabi Ya’qub kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, sehingga beliau terus bertawarrub kepada Allah (QS Yusuf:84-86).
Nabi Ibrahim kesedihan-kesedihannya selalu diadukan kepada Allah. (QS Hud: 75)


          Buklet 12 halaman ini berhenti di sini. Tak ada uraian lain lagi. Saya agak bingung, apa kaitannya dengan judul. Mungkin aplikasinya KH Muchtar  Adam sampaikan dalam ceramah langsung yang  tidak saya hadiri.

          Setelah saya baca ulang, mungkin, berbekal petunjuk pada alinea pertama kita bisa ambil kesimpulan. Shaum dan Shalat sama-sama batal jika makan dan minum. Shalat terbaik adalah jika kita bisa khusyu’. Maka, shaum juga akan memberi hasil terbaik jika kita khusyu’. Tak sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga mengajak seluruh qalbu dan tubuh kita shaum sepanjang waktu. Mengingat Allah. Merendahkan diri kepada  Allah. Mengagungkan  namanya dengan lisan maupun tindakan. Dan puncaknya, membuat qalbu dan tubuh kita “menangis”.

          Ya Allah, malu benar. Saya masih sangat jauh dari itu. Saya tak di posisi menyampaikan sesuatu yang belum saya lakukan. Tulisan ini terutama mengingatkan diri saya sendiri, sebagai bentuk mencari ilmu di Bulan Berguru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar