Jumat, 24 Oktober 2014

Introspeksi Diri Sambut 1436 Hijriah



Bismillahirrahmaanirrahim
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah
Irji’ii ilaa robbiki roodhiatammardiyyah
Fadkhulii fii ‘ibaadii
Wadkhulii jannatii

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku
(QS Al Fajr 27-30)

          Sekitar tahun 80-an akhir, ayat ini pernah beken. Adalah Emha Ainun Najib yang membacakannya sebagai bagian akhir puisi panjang. Intonasi mumpuni, membuat getar diri, menguatkan arti. Emha membacakannya dalam sebuah panggung. Saya hanya mendengar kaset rekamannya.

          Sebagai gambaran, saat itu komunikasi tak secanggih sekarang. Tape recorder menjadi andalan. Ponsel, boro-boro. Telepon rumah tak banyak. Jadi, bisa mendengarkan rekaman kasetnya saja sudah sangat menyenangkan.

          Emha dengan penuh penekanan suara membakar semangat berislam anak muda. Termasuk saya. Menjadi mahasiswa di Bandung, terlibat dalam geliat Mesjid Salman, dan   berani hijrah penampilan adalah bentuk syukur atas sebuah niscaya, pemuda (pemudi)   yang rajin mengaji ilmu agama, kelak surga akan suka cita menerima.

          Ayat ini, menghidupkan rindu. Akan cara menghadapi maut. 
Jiwa yang tenang... hati yang ridho... dan Ridho Ilahi atas semua yang terpatri, jejak kita di bumi.

          Ayat ini, membangkitkan nyali. Tantangan bukan penghalang, karena kita di dalam barisan yang dijanjikan antrian pasti, alamat kebenaran-Nya.

          Ayat ini, memberi prediksi. Gelora muda yang berapi-api pada saatnya akan berganti menjadi kedamaian hakiki, siap kembali kepada Ilahi.

          Saat itu, semangat membuncah, percaya, diri sudah berada pada jalur yang benar. Tinggal melanjutkan.

          Hari bergulir. Waktu bergerak. Sangat mulus.

          Sampai tak terasa, diri sudah di ambang pintu.

          Raga berteriak memberi tahu. Uban, maju satu demi satu.

          Diri tak terima. Tak mungkin sudah sampai di situ.

          Diri mencari-cari kartu antri. Jiwa yang tenang itu. Hati yang ridho itu. Tak ketemu.


          
          Tertohok. Termenung. Terkejut.

          Panik.

          Kapan jalan mulai tak lurus, sehingga langkahku tak fokus?

          Bagaimana semangat menggebu layu bagai angin lalu?


          Malam ini, malam tahun baru.
          Berharap. Sangat. Menemukan lagi kunci.
          Untuk kembali, ke antrian jiwa-yang-tenang-hati-yang-ridho-dan-diridhoiNya.


          Gema Chairil Anwar pun berkumandang,

          Tuhan,
          Di pintu-Mu aku mengetuk
          Aku tak bisa berpaling