Rabu, 02 April 2014

Belajar (Matematika) dari Musibah MH370





Pertama-tama, mohon maaf kepada semua pihak yang berkaitan dengan musibah MH370, terutama keluarga penumpang dan kru pesawat. Turut prihatin atas gelisah panjang yang terjadi, karena tak hanya tak sampai ke tujuan, melainkan juga ketakjelasan peristiwa maupun keberadaan mereka kini. 

Saya hanya ingin menuliskan dialog dengan anak berkaitan dengan berita hilangnya pesawat 8 Maret 2014 lalu.
-----

Obrolan pertama, pada hari pesawat Boeing 777 ini menghilang. Malam Minggu itu kami menyalakan TV tepat pada saat berita tentang pesawat Malaysia Airlines tersebut. Reporter televisi mengatakan, “ Pesawat yang hilang kontak itu berpenumpang xx orang China, 1 orang bayi, xx orang Malaysia, dan xx orang Indonesia.

“Ada yang aneh?”  tanya saya kepada anak.
“Iya. Kok ada 1 orang bayi disitu?”
“Seharusnya bagaimana?”
“xx orang China, xx orang Malaysia, dan xx orang Indonesia. Atau, xx bayi, xx anak-anak, dan xx dewasa.”
“Ya. Saat memilah sejumlah obyek menjadi himpunan, harus antar sesuatu yang sejenis atau setara. Tidak bisa dicampuradukkan, meskipun itu sama-sama tentang manusia.”

Malam Minggu pun berlalu dengan secara tak sengaja menambah satu penguatan konsep Matematika.
-----

Hari-hari terlewati, keberadaan pesawat berpenumpang 239 orang itu tak juga pasti. Wilayah pencarian diperluas. Ada kabar pesawat pemindai mendeteksi benda yang diduga serpihan pesawat di suatu titik di Samudera Hindia. Media menyebutkan koordinatnya. Penasaran, saya mencari buku atlas  di kamar anak.
 
“Ada apa, Mah, nyari-nyari peta?”
“Ini, penasaran saja dengan apa yang ditulis koran.”
Kami  pun membuka peta bersama-sama dan memperkirakan posisi terpindainya kepingan logam.
“Lihat! Pesawat ini kan bergerak dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Komunikasi tercatat hanya sampai di suatu posisi menjelang Vietnam. Kurang lebih di sini,” saya menunjuk sebuah titik pada peta.
“Semula, pencarian hanya difokuskan di wilayah ini,” saya menggambarkan sebuah lingkaran kecil di peta dengan telunjuk. 

Asumsinya kan pesawat mengalami kerusakan mesin atau kehilangan daya terbang. Maka dengan melihat catatan di ketinggian berapa pesawat  seharusnya berada, kecepatannya, dan berat fisiknya, bisa dihitung radius kemungkinan jatuhnya. Pun jika pesawat meledak, maka bisa diperkirakan sejauh mana serpihannya bisa menyebar. Di wilayah cakupan dugaan itulah dilakukan pencarian. 

Satu minggu pertama, bertahan di lokasi itu karena diperhitungkan juga bahwa jika pesawatnya terhempas ke laut, maka akan butuh waktu untuk muncul kembali ke permukaan.
“Seperti saat kamu berenang. Setelah melompat ke dalam kolam, kamu kan akan terdorong lagi ke permukaan setelah beberapa saat. Bayangkan ini dari ketinggian yang besar, masuk ke lautan yang dalam. Pasti butuh waktu lebih lama lagi untuk mengapung.”

Belakangan, ditengarai kemungkinan pesawat berubah arah. Mungkin dibajak, atau ada alasan lain yang belum diketahui. Akibatnya, wilayah pencarian jadi sangat luas.
“Kok bisa jadi luas?” tanya anak saya.

“Pesawat ini terpantau di 2 jam pertama, kemudian hilang kontak mulai di suatu titik menjelang Vietnam. Pesawat memuat bahan bakar untuk penerbangan selama 7,5 jam. Ini lebih banyak dari yang dibutuhkan karena dia direncanakan terbang 6 jam saja.”

“Jadi, pesawat ini masih bisa terbang  selama 5,5 jam dari titik terakhir tadi. Kemana? Nah, ini yang membuat wilayah pencarian menjadi lebih luas. Pesawat ini bisa terbang ke arah mana saja. Dengan menghitung konsumsi bahan bakar per kilometernya pada  kecepatan tertentu, kita bisa mendapatkan jarak terjauh yang mungkin ditempuh jika pesawat bergerak lurus,” lanjut saya.

Saya menunjukkan jarak terjauh ini sebagai jarak antara ujung ibu jari dan ujung telunjuk. Saya tempelkan ibu jari di titik pesawat mulai tak terlacak, dan telunjuk di tempat lain.
“Lihat, ini jarak yang bisa ditempuh pesawat. Jadi, kita harus mencari pesawat itu di rentang antara titik awal hilang sampai titik terjauh yang mungkin.”

“Lebih jauh dari Beijing dong?”
“Iya banget. Padahal, pesawat berubah arah. Bisa ke sini, atau ke sini,” sambil saya gerakkan posisi telunjuk, dengan jarak yang tetap terhadap ibu jari. “Apa yang kita dapat?”

“Lingkaran!”
“Tepat sekali. Semua titik yang dilewati sisi lingkaran ini merupakan jarak terjauh yang mungkin. Dan, semua wilayah yang tercakup dalam lingkaran tadi mungkin menjadi tempat jatuh atau mendaratnya pesawat itu.”

“Luas sekali!”
“Yup. Amat sangat luas. Jika di darat, pasti akan ada laporan penduduk yang melihat atau mendengar sesuatu. Sayangnya, tak ada laporan seperti itu. Jadi, kemungkinan besar jatuh ke laut. Kamu ingat saat di selat Pelawangan Lombok? Sekitar kita ombak dan laut yang gelap. Padahal itu hanya satu titik kecil di peta kita,” saya menunjuk perairan di atas pulau Lombok.

“Bayangkan, mayoritas wilayah yang harus diperiksa adalah samudera,” kami memperhatikan warna biru yang seperti alas peta saja. Lautan yang sangat luas dan sangat dalam. Bagaimana tidak menggetarkan hati para pencari.
“Makanya, citra satelit yang menunjukkan ada benda asing terapung di koordinat tertentu ini menyemangatkan kembali upaya pencarian. Lokasi penelusuran jejak bisa dipersempit.”
-----

Sampai 2 minggu kemudian, serpihan yang terpindai satelit itu belum juga ditemukan secara fisik. Bahkan di lokasi yang sudah dipersempit ini saja, medan pencarian masih sangat terasa luas dan ganas. Saya sempat melihat tayangan yang diambil dari salah satu kapal pencari. Ombak-ombak tinggi sebesar gaban. Mengerikan.

“Heran ya, Mah. Pesawat sebesar itu kok bisa tak terlacak. Seperti hilang ditelan bumi.”
“Benar, nak. Dari peristiwa ini kita bisa melihat juga bahwa memang bumi kita sangat luas. Pesawat sebesar itu pun  ternyata kecil sekali dibandingkan ukuran bumi.”

“Itu yang  disebut relativitas?”
“Ya, kurang lebih begitu. Perbandingan suatu benda terhadap benda  lain, membuat ukuran menjadi relatif. Tapi kalau yang kamu maksud adalah teori relativitas Einstein, itu lebih berkaitan ke kecepatan. Saat di dalam pesawat, kita kan merasa diam. Sementara, kalau dari darat, kita melihat pesawat bergerak perlahan di udara. Padahal, sesungguhnya pesawat bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, 3-4 kali lebih cepat dari mobil di jalan tol.”
“ O iya...”
-----

Alhamdulillah, ada sedikit pelajaran yang turut kami petik dari musibah internasional ini. Kami hanya bisa membantu mendoakan, semoga segera bisa didapat kepastian, apa yang terjadi pada pesawat MH370 yang sudah hampir sebulan hilang.

Selasa, 01 April 2014

Introspeksi



Hidup adalah hari ini.
Melihat masa lalu hanya sebagai cermin
Dan masa depan sebagai harapan.
Bahkan, itu bukan tentang rentang yang luas.
Ketika kemarin sudah menjadi masa lalu,
Esok pun tetap merupakan suatu masa depan
Dimana harap masih bisa diletakkan,
cita-cita masih bisa digantungkan,
dan upaya masih bisa dilakukan 
untuk menggapainya.