Minggu, 25 Maret 2012

DEMOKRASI

Demokrasi itu apa? Senin pagi anakku memulai hari dengan pertanyaan.



Pagi-pagi saya harus menerjemahkan kata sakti menjadi aksi pasti.

Menurut KBBI, demokrasi adalah gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak DAN kewajiban, serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.


Pada setiap orang, ada hak-hak yang melekat kepadanya sebagai manusia.
Hanya, harus diingat, bahwa seperti kanan dan kiri, siang dan malam, atau atas dan bawah, hak pun mempunyai pasangan, yaitu kewajiban.


Hakmu berbatasan dengan kewajibanmu.
Misalnya, pagi hari kamu ingin santai, berlama-lama di tempat tidur. Kamu bisa berargumen bahwa menikmati hidup adalah hak asasi manusia. Tetapi, sebagai anak kamu punya kewajiban sekolah. Pemanfaatan hak harus mengalah atau ditunda setelah menjalankan kewajiban.

Di sisi lain, hakmu berbatasan pula dengan hak orang lain.
Misalnya, kamu berhak berkreasi sebebas-bebasnya di rumah, seperti membuat karya seni dari tepung terigu. Kamu tidak boleh lupa, mamah sebagai penghuni rumah juga, mempunyai hak atas kebersihan dan kenyamanan. Jadi, kamu harus hati-hati agar debu tepung tidak terbang ke mana-mana, dan bekasnya harus dibersihkan.

Begitulah, tidak 100% hakmu dapat diwujudkan, karena berbatasan dengan hak orang lain di sekitarmu. Dan, ketahuilah, ketika orang lain tidak melakukan sesuatu, itu bukan berarti mereka tidak ingin, tetapi bisa jadi orang itu sekedar sedang bertenggangrasa kepadamu, menjalankan kewajiban dia untuk menjaga agar hakmu terpenuhi.

Pun, ketika orang lain diam atas pendapatmu, belum tentu mereka setuju. Bisa jadi itu hanya agar tidak ada debat diantara kalian, yang akan mengganggu hak pihak ketiga atas ketenangan.

Itulah demokrasi, Nak.
Kita demokratis jika sudah bisa berbuat tidak hanya atas nama hak diri kita sendiri saja, tetapi sudah mempertimbangkan hak-hak orang-orang lain juga.
Kita baru di level egois, jika kita menuntut kewajiban orang lain memenuhi hak kita saja.
Semoga kita termasuk golongan yang arif, menjalankan kewajiban tanpa banyak bicara, menjaga hak orang lain tanpa banyak kata.

Selasa, 13 Maret 2012

Membuat Nasi dari Bubur

Dalam sehari, membaca dua bahasan yang sama sekali tidak berhubungan, tetapi di kepala saya terangkai dalam satu bingkai.

Di salah satu milis, teman-teman sedang membahas isu rencana pemerintah menyatukan zona waktu di Indonesia. Ada berbagai pendapat. Ada versi profesional, seorang astronom. Ada pendukung, berkaca pada negara lain. Dan banyak lagi. Saya yang biasanya pembaca pasif, kali ini pun tergoda bicara, dalam sudut pandang ibu rumah tangga.

Hingar bingar yang ditimbulkan dari suatu wacana yang dilemparkan pemerintah kepada masyarakat, dalam pandangan saya, bisa seperti bom yang meledak sebelum dirakit. Padahal bom yang direncanakan tersebut belum tentu eksplosif. Energi positif masyarakat dapat terkuras atas sesuatu yang semu.

Menjelang sore, di satu laman berita, terbaca kabar menikah ulangnya Aa Gym dengan Teh Ninih. Dalam sekejap, reaksi masyarakat berhamburan.

Entah bagaimana sel-sel kelabu saya berkomunikasi, tiba-tiba saja terpeta jelas kemungkinan persamaan kasus antara kedua masalah tersebut. Tiba-tiba saja saya ingin memperingatkan pemerintah atas kemungkinan ini. Tetapi, siapalah saya? Hehe... Di warung kopi ini saja ya ngerumpinya...

Sekitar tahun 1987 pertama kali saya mengenal Aa. Saat itu ada pengajian dengan teman-teman SMA yang kuliah di Bandung, di sebuah rumah kontrakan mahasiswa, di dalam gang, di daerah Muararajeun. Da'i muda yang berceramah dengan gaya khas, itu kesan saya.

Tak sampai 10 tahun, Aa telah menjadi ikon da'i secara nasional. Pencapaian yang luar biasa. Betapa kemesraannya dengan teh Ninih menjadikan dia indikator suami teladan bagi para istri. Jamaah tidak terlalu mendengarkan isi ceramah. Bukti sikap Aa saja sudah menjawab segala kebutuhan ummat atas contoh pengejawantahan agama dalam kehidupan berumah tangga.

Sampai hari itu, ketika Teh Ninih dengan pakaian merah marunnya mendampingi Aa mengumumkan pernikahan Aa dengan Teh Rini. Tentu ada proses dan alasan yang benar yang mereka bertiga pertimbangkan, tetapi bagi masyarakat, ini senjata nuklir yang menghancurleburkan kepercayaan kepada Aa.

Tampaknya, Aa sangat yakin dengan langkah menikah lagi. Bahwa ini jalan dakwah, bahwa ini sunnah, dll.
Tapi ternyata masyarakat mempunyai logika berbeda. Aplikasi "pasal" yang ini tidak laku dijual.
Nama Aa semakin tidak populer ketika akhirnya Aa melepas Teh Ninih, bukan teh Rini.

Pernikahan ulang mereka hari ini, tentu atas pertimbangan panjang dan matang. Banyak yang bersyukur, tetapi tak sedikit pula yang sekedar mengangkat sebelah alis. Ada apalagi ke depannya?

Tak pernah mudah membangun kembali rumah utuh dari puing-puing kehancuran.
Analisis emosional seorang istri ---baca: saya, hehe--- menyimpulkan, bahwa pada akhirnya Aa menyadari, Teh Ninih belahan jiwa yang sesungguhnya. Istri yang menentramkan hatinya, sehingga dia bisa optimal berbuat bagi ummat.

Dengan 2 istri dan 8 anak, Aa harus bekerja keras lagi jika ingin mencapai kondisi seperti di saat awal, yaitu saat ummat mempercayainya dari perwujudan nilai-nilai agama dalam hidup keseharian.


Apa relevansinya dengan zona waktu?

Penyatuan 3 zona waktu masih berupa rencana. Bahkan mungkin masih di level wacana. Pemerintah mengungkap alasan dari sisi kemungkinan keuntungan sekian triliun rupiah. Tampaknya, manis sekali.

Sementara, sebagian orang yang waspada, melihat berbagai masalah yang mungkin timbul. Mereka mengungkap alasan ini dan itu yang mendasarinya. Sebagian lagi, yang berpikir positif, menyatakan ini tidak rumit, tak perlu dibesar-besarkan.

Menurut saya, pemerintah cukup berkaca kepada Aa saja. Sebelum mengambil keputusan.

Karena, begitu palu telah diketuk, akan menjadi sesuatu yang telanjur.

Jika memang itu baik, alhamdulillah, tinggal melanjutkan.

Tetapi, jika pembahasannya kurang komprehensif, hanya fokus kepada masalah ekonomi dan kurang mempertimbangkan aspek sosial dan budaya masyarakat yang terbangun lebih dari setengah abad, pemerintah harus siap dengan resiko. Jika bisa bicara tentang keuntungan maksimal, maka terhadap resiko pun harus siap dengan yang terbesar.

Jangan sampai, setelah disatukan, kembali ditigakan lagi. Tak pernah mudah membuat nasi dari bubur kepercayaan.

Senin, 12 Maret 2012

Anti ANTI

Anti, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mempunyai 2 macam penggunaan. Dalam bentuk terikat, yaitu menempel pada kata yang diikutinya, "anti" mempunyai arti melawan, menentang, atau memusuhi. Sedangkan penggunaan lain adalah sebagai partikel dan berarti tidak setuju, tidak suka, atau tidak senang.
Setelah kemarin membaca berita tentang kerja sama KPK dan Depdiknas untuk menyelenggarakan pendidikan antikorupsi, hari ini surat kabar menyajikan berita rencana pemerintah membentuk tim khusus antipornografi.
Saya jadi ingin menulis ini :)
Belum cukupkah kampanye gaya "anti" selama ini?
Belum adakah yang mengevaluasi secara adil dampak penggunaan kata "anti" dalam kaitan memberantas berbagai hal negatif?
Belum bisakah kita mengurai masalah, kemudian melakukan pencegahan, daripada sekedar merespon saja?
Apakah kata-kata seperti perilaku jujur, baik, dan sopan sudah kadaluarsa dari kamus bahasa kita?
Dua dasawarsa terakhir, setidaknya ini yang saya ingat, banyak psikolog menyampaikan metode terbaik membesarkan anak.
Daripada melarang makan dengan tangan kiri, lebih baik meminta mereka makan dengan tangan kanan.
Daripada mengatakan, "Jangan lari!" lebih baik memberitahunya, "Berjalan pelan-pelan saja."
Daripada berteriak, "Jangan nakal!" lebih baik menyebut, "Ajak temanmu bermain bersama."
Beritahu anak tentang hal-hal baik , sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan, bukannya malah melarang melakukan hal tidak baik yang justru membuat mereka penasaran atas kelakuan yang disebutkan tidak baik tersebut.

Jadi, saat banyak anak sedang dididik orang tua untuk selalu berpikir positif, mengapa mereka dijejali dengan cara berpikir negatif oleh lingkungan?

Minggu, 11 Maret 2012

Seblak Ma Annis Level 5 :)


Saat ini, ketika kata "seblak" disebut, rata-rata orang akan menghubungkannya dengan keripik seblak Ma Icih yang terdiri dari level kepedasan 1-10. Padahal makanan bernama seblak ini sudah jauh lebih dulu populer di kalangan rakyat Jawa Barat, khususnya Bandung dan bagian Selatannya (Garut, Tasik, Ciamis).

Seblak sendiri adalah nama untuk kerupuk aci (sagu) yang biasanya dipakai untuk pelengkap bubur ayam, kupat tahu, atau nasi goreng. Pada umumnya berwarna oranye. Harganya murah meriah. Gizinya? Pamali ditanyakan :)



Seblak pada foto di atas, diolah saat mentah, tidak digoreng.

Untuk membuat olahan seblak sebanyak 1 piring makan biasa, dibutuhkan :

- 3 genggam seblak mentah.
Seblak dicuci bersih, kemudian direndam dalam air pada suhu kamar sekitar 15 menit, agar cukup layu, sehingga proses memasak tidak terlalu lama.

- 3-4 siung bawang putih
- kencur seukuran 2 jempol
- cabe rawit oranye. Saya biasa menggunakan 5 buah.
Semua dihaluskan.

- 1 batang daun bawang, diiris kasar

- 1/2 sdt garam, 1/2 sdt gula pasir

- air panas 100-200 ml

- pelengkap : telur, bakso, sosis, atau kornet. (bebas, sesuai selera)

- 2-3 sdm minyak goreng

Cara membuat:

Tumis bumbu halus. Bumbu ini harus matang agar tidak ada bau langu dari kencur maupun bawang putih.

Kemudian tambahkan air panas 100 ml. Setelah mendidih, masukkan garam, gula, dan bawang daun. Cicipi dahulu. Rasanya gurih sedikit manis.

Masukkan pelengkap, aduk.

Masukkan seblak mentah. Aduk.
Cicip, sampai kekenyalan seblak enak dirasakan.
Jika masih agak liat atau keras, tambahkan lagi air.
Aduk terus. Sampai air habis.

Sajikan panas.



Seblak olahan ini cocok untuk mengatasi ketidaknyamanan saat flu ataupun saat udara dingin, karena kencur menghangatkan badan. Apalagi jika pedas, hidung menjadi lega.

Resep di atas pemberian dari penjual Seblak Seuhah di halaman Darut Tauhid, Bandung, tempat saya pertama kali mengenal nama seblak. Saya suka rasanya, harganya murah, tetapi di Bogor belum ada yang menjual.

Sang penjual baik hati, tanpa banyak alasan, dia memberikan resepnya begitu saja. Dia merasa, ini bukan hak prerogatif dia juga karena ini makanan biasa rakyat Sunda, katanya. Sebagai anak kos di Bandung, dia sering mengalami keterbatasan dana, tetapi cuaca dingin Bandung membuat lapar dan ingin ngemil. Seblak mentah di dapur menjadi sasaran.

Ketika teman-teman kos dari daerah lain menyukainya, dia melihat ini peluang usaha. Maka dia menjual seblak ini dengan berbagai modifikasi pelengkap. Olahan asli, hanya seblak saja, tanpa telur sekalipun.

Saya tidak tahu apakah teteh baik itu masih berjualan di Darut Tauhid, karena sudah lama sekali, lebih dari 3 tahun lalu saya dapatkan resepnya. Tetapi, belakangan saya menemukan restoran yang mencantumkan seblak dalam daftar menu di Ciwalk. Di restoran sebelum The Kiosk (lupa namanya).

Jadi, jika ingin mencicipi, silakan ke Ciwalk.
Jika tak sempat ke Bandung, silakan masak sendiri. :)

Minggu, 04 Maret 2012

Berpikir Positif

Membiasakan anak untuk berpikir positif adalah proses seru.

Mudah, karena pada dasarnya seorang anak memang baik. Berpikir positif bukan hal baru yang kita ajarkan kepada anak. Itu hanya sebuah usaha mempertahankan apa yang sudah menjadi bawaan mereka sejak lahir.

Kesulitan justru ada di pihak kita sebagai orangtua. Andaipun setiap bangun tidur kita jejali anak dengan perintah untuk berpikir positif, itu tak akan berarti jika kita tidak memberi contoh. Sebagai orang yang terbiasa memperhitungkan segala kemungkinan dari setiap peristiwa, pikiran saya tidak hanya memunculkan pertimbangan positif, tetapi juga peluang kejadian negatif. Menurut suami saya yang beraliran positif, apa yang saya lakukan bukan berpikir negatif, tetapi suatu bentuk kewaspadaan. Sikap hati-hati. Dan, itu perlu.
Tuh kan, beliau tetap berpikir positif...

Yang menjadikan proses ini seru adalah ketakterdugaan aplikasinya. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana anak akan menerapkan hal ini.

Keterkejutan pertama yang saya ingat adalah saat dia taman kanak-kanak. Hari itu adalah hari bahasa. Ada berbagai lomba. Diantaranya mewarnai dan bercerita. Anak saya dan sahabatnya ikut lomba bercerita. Dan dua-duanya kalah. Sambil berjalan menuju gerbang keluar, Ibu sahabatnya menegur sang anak. Katanya, andai saja kamu menuruti saran Ibu untuk ikut lomba mewarnai, Ibu yakin kamu bisa menang. Anak saya yang tak sengaja mendengar, langsung berkomentar,"Seharusnya Tante bersyukur dong anaknya sudah mau ikut lomba." Saat itu justru saya yang bersyukur, dalam hati. Boleh juga nih pemikiran anak saya. Matang.

Tapi, dua contoh di bawah ini, adalah penerapan ilmu berpikir positif di kelas, versi lain dari anak yang sama.

Saat pengambilan rapot di semester 1 kelas 4, wali kelas menceritakan perilaku anak saya. Pernah ada pembagian berkas ulangan. Setiap anak dipanggil ke depan kelas untuk mengambil berkasnya. Anak pertama, mendapat nilai 97. Kembali ke kursi dengan wajah tegang, karena biasanya dia mendapat 100. Anak kedua, mendapat nilai 90. Kepalanya langsung tertunduk kecewa. Giliran anak saya, nilainya 71. Dengan tenang dia bertanya, "KKMnya berapa, Bu?". "70," jawab Ibu Guru. Anak saya? Berlari ke tempat duduk sambil mengacungkan berkas ulangan dan berteriak, "Horeeee, di atas KKM!"

Minggu lalu, sepulang sekolah anak saya bercerita dengan semangat. Pada materi pengayaan IPA, setiap anak diminta mengerjakan 5 soal. Anak saya hanya sempat mengerjakan 4. Dia tidak menceritakan mengapa tidak selesai. Dugaan saya, dia bercanda dengan teman, karena dia mengatakan bahwa ibu guru yang biasanya paling asyik dan sabar, menegur dia dengan ekspresi menahan marah.
"Mengapa kamu tidak mengerjakan soal-soal itu?"
"Kata siapa saya tidak mengerjakan?" Anak saya balas bertanya dengan ringan karena merasa sudah mengerjakan, walau tidak semua.
"Ibu melihat sendiri kamu tidak mengerjakan."
Respon anak saya adalah...
"Alhamdulillah Ibu masih bisa melihat..."
Bu guru pun kehilangan kata.

Nak, nak...salut pada refleks berpikir positifmu. Tapi kalau Mamah jadi guru kamu, bisa kurus kering

Sabtu, 03 Maret 2012

Pintu Keabadian

Sama sekali saya tidak sedang membicarakan pintu akhirat. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sebuah pintu.

Sebuah pintu di dalam ruang utama rumah kami ini sangat berjasa. Dia sering menolong saya pada saat darurat.

Penghuni rumah kami hanya suami yang jarang bertemu matahari Bogor, seorang anak yang lambungnya mungil, dan saya yang penyayang (merasa sayang kalau harus membuang sesuatu). Anak saya makan siang di sekolah. Suami hanya minta disediakan buah-buahan jika malam-malam lapar. Jadi, untuk kebutuhan kami sekeluarga, memasak nasi satu gelas takar saja bersisa. Jika saya sedang telaten, nasi ini dihangatkan untuk sarapan keesokan harinya. Tetapi saat harus menginap, saya titipkan kepada penunggu rumah saya yang setia. Dia.

Kadang saya simpan dengan rapi, dikemas dahulu. Jika terburu-buru karena menyelesaikan berbagai urusan rumah, semua yang di atas meja makan saya titipkan kepada dia begitu saja.

Ketika kembali dari perjalanan, biasanya saya ambil dulu titipan saya pada dia. Jika tidak biasa, itu berarti saya lupa. :)

Saya jarang menginterogasi dia tentang apa saja yang sedang saya titipkan. Mungkin karena saya terlalu percaya pada integritasnya.

Suami saya pun tak kurang yakinnya atas kesetiaan dia. Setiap pulang dari perjalanan dinas, satu bukti kecil dititipkan padanya. Ada yang berbentuk miniatur gedung, gambar pemandangan, atau simbol yang bisa mengingatkan ke mana saja kakinya telah menjejak.

Sampai beberapa hari terakhir, saya merasakan dia mengeluh. Baunya bagai orang tak mandi seminggu. Di tengah janji menyelesaikan tulisan untuk teman, saya sisihkan satu hari untuk merawatnya bagai di spa.

Terkejut saya ketika menemukan banyak titipan yang sudah menjadi harta karun. Sayangnya bukan emas berlian yang saya simpan. Kadaluarsa saja yang ada. Bumbu rujak yang tumpah ternyata menjadi penyebab dia menutup hidung tapi tak berdaya untuk berteriak apa-apa.

Maaf ya....

Setengah hari berlalu, semua di belakangnya telah bersih dan wangi. Ternyata dia masih cantik dan berfungsi baik. Saya merasakan dia menggeliat kesenangan karena lega.

Sisa hari, saya mulai menyiapkan pembersihan bagian depannya. Saat saya lepaskan satu demi satu titipan suami, saya terhenyak atas informasi yang tersampaikan. Betapa jauh kaki suamiku telah melangkah, betapa banyak jejak telah dia tinggalkan di banyak tempat. Semoga semua menjadi berkah dan membawa kebaikan.

Tubuhnya yang kini telanjang, mengingatkan saya pada memori yang berbeda. Jejak anak. Ada cerita atas proses hidup. Bagaimana sticker-sticker itu menempel dari tempat terbawah sampai ke posisi tertinggi. Sejak belajar merangkak, berdiri, dan meninggi. Bagian-bagian yang terlepas atau tercoreng, menunjukkan pelampiasan rasa ingin tahu. Bahkan setiap gambar tempel mempunyai kisahnya sendiri-sendiri.

Terharu... Betapa dia ternyata menyimpan banyak sejarah keluarga kecil saya.

Tahap terakhir mengelap tubuhnya saya lakukan dengan lebih penuh sayang dan terima kasih kepadanya. Kepada pintu keabadian. Pintu kulkas.


*terima kasih kepada mbak Tias Tatanka atas ide menuliskan pintu keabadian ini, dan kepada Yuanita Dwiyani yang pernah berbagi kisah tentang memori di pintu kulkas.