Rabu, 29 Februari 2012

Merek Dagang Anakku

"Mengapa kamu sering mention @bacem_keren di twitter?" tanya teman-teman suami.
"Apa yang dimaksud 'bacem' distatusmu?" tanya teman-teman saya.

Kami tertawa mendengar komentar-komentar itu. Bacem adalah nama alias yang digunakan anak kami Amira, 11 tahun, sejak 1-2 tahun terakhir.

Amira bercita-cita menjadi komikus sejak usia 5 tahun. Dari berbagai buku, komik, dan sumber informasi lain, dia menemukan bahwa banyak komikus mempunyai nama alias, nama pena. Dia tahu ada komikus lokal yang menggunakan nama Jepang, mungkin karena komik manga yang komikus itu sukai berkiblat ke Jepang.

Amira berusaha mencari nama yang dia suka. Mudah diucapkan, sederhana, dan meng-Indonesia. Ditemukannyalah kata Bacem. Sejak itu, alamat e-mail, akun twitter, dan status-status yang dia tulis di media sosial lain menggunakan nama Bacem. Karena usianya belum 13 tahun, dia belum mempunyai akun facebook sendiri, belum memegang ponsel sendiri. Masih bergabung dengan saya. Sehingga, status yang dia tulis terbaca juga oleh teman-teman saya. Sering teman saya menganggap status itu berarti hari itu saya masak tempe bacem atau tahu bacem :)

Kisah "nama lain" Amira, sesungguhnya sudah dimulai sejak kecil. Setiap saat, hampir selalu dia mempunyai nama khusus.

Saat balita, film kesukaannya adalah The Lion King. Sampai suatu hari, saya ajak menjajagi taman bermain di dekat rumah. Karena sifat taman bermain lebih longgar dari sekolah tingkat atas, Amira bisa langsung masuk hari itu juga. Amira pun diminta memperkenalkan diri di depan guru-guru, kepala sekolah, dan teman-teman sebayanya.

"Siapa nama kamu?" tanya kak Agus D.S., kepala sekolah Titania tersebut.
"Simba!" jawab Amira.
Meledaklah tawa semua orang dewasa di sana. Amira bengong karena bingung, tidak merasa ada sesuatu yang aneh dari situasi saat itu.

Amira masih menyebut diri Simba sampai dia paham bahwa Simba itu singa jantan. Yang betina adalah Kiara, anak Simba. Dia akhirnya mengubah namanya menjadi Kiara, tetapi tidak lama.

Pada usia TK, Amira mulai sering mendengar kisah para Nabi. Suatu hari, ayahnya berkata, "Kalau punya anak laki-laki, Papa ingin memberi nama Ibrahim."
"Kalau adiknya Ibrahim, kakaknya Siti Hajar dong," kata Amira.
Sejak itu, Amira selalu menyebut nama dirinya adalah Siti.

Saya ladeni saja. Semula saya pikir itu hanya di rumah. Sampai suatu hari gurunya bertanya kepada saya, Siti itu siapa? Rupanya, di tugas-tugas sekolah, dia selalu menuliskan namanya sebagai Siti. Pun saat bercerita tentang diri.

Pada hari pertama masuk SD, setiap murid diminta membawa kalung nama. Saya tanyakan kepada Amira, nama apa yang mau dipakai di SD. Dia bilang, "Amira, tapi di belakangnya Siti". Akhirnya saya tuliskan di karton itu 2 nama. Halaman muka Amira, halaman belakangnya Siti.

Perkenalan dengan teman-teman di kelas berlangsung lancar. Sampai tiba saat permainan mengingat nama teman. Dua anak diminta maju ke tengah lingkaran, kemudian kalung namanya dibalik, dan masing-masing diminta menyebutkan nama teman barunya itu.
Saat giliran Amira maju, Ibu Guru membalik kalung nama Amira. Ternyata, ada nama Siti. Bingunglah beliau. Siti ini siapa?

Dia mengenalkan diri kepada teman-temannya sebagai Siti. Maka semua memanggil Siti. Tetapi, saat diabsen, yang dipanggil adalah Amira.

Peristiwa yang mengelikan pun terjadi pada suatu hari. Saya sedang menunggu Amira di sekolah. Teman-temannya sudah bubar, tetapi Amira belum terlihat. Seorang sahabatnya, Aurrel, mendekat kepada saya dan bertanya,"Mamah Amira, Sitinya mana?"

Lama juga Amira menjadi Siti. Sampai suatu saat dia tiba-tiba tertarik kepada kuda. Entah apa yang berproses di kepalanya, dia menganggap kuda itu temannya, artinya memposisikan dirinya juga sebagai kuda. Jika melihat delman, atau kuda tunggang, dia akan sapa sambil melambaikan tangan,"Halo teman...". Dan kalau dia meringkik....persis kuda. :)

Bahkan, dia pernah meminta untuk memelihara kuda di rumah. Pada saat itu kami sedang menumpang di rumah orang tua saya di Bandung. Rumah di kompleks, dengan halaman terbatas. Saat saya ceritakan bahwa kuda itu butuh ruang luas untuk berlari, melompat, dan berteriak, dia menjawab,"Ya sudah, kita pelihara anak kuda saja."

Jika saya ingat-ingat, ketertarikan kepada kuda ini mungkin berawal dari menonton film Spirit. Film yang menceritakan kuda liar yang tertangkap, kemudian berusaha memerdekakan diri. Saya juga suka film ini. Film yang mengambil sudut pandang dari si kuda, bukan manusia. Seperti juga Lion King, Amira menonton Spirit berkali-kali.

Kelas 3 SD Amira pindah sekolah ke Bogor. Saya sempat menganggap dia akan terus memakai nama aslinya karena di hari pertama dia semangat ke sekolah dan mengenalkan diri sebagai Amira. Tetapi ternyata, di kelas 3 ini dia punya nama panggilan juga. Kopiko. Nama ini julukan dari teman-temannya karena Amira berkulit gelap. Julukan lain dari teman-teman baru di kelas tiga ini berbau fisik, tapi ternyata efektif mengakrabkan Amira yang murid baru dengan mereka yang sudah kenal sejak kelas 1.

Ada yang memanggil Si Pesek atau Muka Rata. Amira dengan santai mengomentari julukan ini dengan, "Berarti aku anak jujur, gak pernah bohong." Memangnya Pinokio...
Ada juga yang menyebut Pantat Capung. Ini karena "parabot calik" Amira yang kurus ini, mantap. Itu sih warisan leluhur.

Kelas 4. Nah, ini. Nama julukannya berderet. Semua pemberian teman. Ada yang memanggil Lombok karena pernah membagikan oleh-oleh sepulang dari Lombok. Ada yang menyebut Tomboy karena tingkah lakunya sama sekali tidak anggun. Ada yang menjuluki Si Ijo karena suka warna hijau. Ada pula yang mengatakan Piku-piku, mungkin karena hobi Amira menggambar komik di setiap kesempatan. Di antara semua itu, nama paling populer dan lama bertahan adalah Om Bip Bip. Bip Bip, mirip dengan karakter Chibi. Om, karena tomboy. Om Bip Bip ini digunakan sahabat-sahabatnya untuk nama panggilan biasa, tidak dalam rangka menggoda. Jadi saat mereka mengobrol atau bertemu di jalan, dengan ringannya mereka memanggil anakku Om Bip Bip.

Kadang saya nelangsa sendiri mendengar panggilan-panggilan bagus ini. Karena, saya sudah menentukan nama Amira, jauh hari sebelum dia lahir. 6 tahun. Ternyata pada perjalanan hidupnya, nama cantik ini jarang dia pakai. Kalah oleh nama-nama kreasinya, maupun nama dari teman-temannya.

Setelah 2 tahun mendapat banyak nama julukan, Amira memperkenalkan nama temuannya sendiri. Sempat dia pakai nama Miyuki. Hanya sebentar. Amira yang sangat nasionalis, mencari nama lain yang menunjukkan identitas kebangsaannya. Bacem. Sampai hari ini.

O ya, suatu hari, kami pernah bertemu dengan Kak Agus D.S. di Cianjur secara tidak sengaja. Amira memberi salam, Kak Agus ingat dan menyapanya, "Apa kabar, Simba?" kemudian dengan wajah serba salah beliau melanjutkan,"Duh, saya malah lupa nama asli kamu..."

Minggu, 26 Februari 2012

Nikah Siri saja!

Mitsaqan Ghalidza, perjanjian yang amat kuat. Itu yang dinyatakan Allah tentang pernikahan dalam Qur'an surat An Nisa ayat 21.

Ijab qabul yang hanya sesaat diucapkan, mengubah banyak sekali hubungan. Yang semula haram menjadi halal. Yang tadinya dosa menjadi pahala.

Saya yakin, pada awalnya, semua manusia dewasa pasti bermimpi menikah sekali saja seumur hidup. Dan untuk menyempurnakan rumah tangga satu-satunya itu, tentu masing-masing berusaha yang terbaik.

Menyiapkan diri menjadi pribadi terbaik, dan berusaha menemukan pasangan terbaik.

Perjalanan hidup, membuat semua mulai lebih realistis.
Menyadari diri tak kunjung sempurna, membuat kita lebih toleran terhadap kekurangan pasangan.

Satu hal, kehormatan, selalu menjadi prioritas penjagaan.

Ketika akhirnya berhasil masuk ke gerbang pernikahan dengan catatan kosong, kebahagiaan yang didapat menjadi berlipat. Suami adalah orang pertama yang mendapatkan segalanya. Istri adalah perempuan terbaik yang menerima perlindungan abadi. Bahu membahu memulai semua dari titik awal, baik itu semangat, pengertian, ataupun materi.

Waktu bergerak, menggulung, mengguling, dan menggulirkan semua variabel. Bagai satu titik di bola salju, setiap faktor mengalami perubahan posisi dan pertambahan ketebalan. Ekonomi naik turun. Untungnya, kesepahaman pun begitu. Sehingga semua hal tetap bisa kembali kepada rel semula, mengarah ke tujuan akhir, menjaga keluarga yang dibina sekuat tenaga.

Semua dapat tetap harmonis karena ada landasan kuat. Pernikahan. Tepatnya, pernikahan tercatat oleh negara.

Selama ini saya merasa sangat aman dan nyaman atas pernikahan yang tercatat di KUA. Saya merasa buku nikah yang saya punya adalah buku sakti, yang membuat saya cukup bersyukur saja atas segala yang dialami. Saya tinggal memberi kepercayaan kepada suami, menjalankan kewajiban saya sebagai istri, dan membesarkan anak dengan kapasitas maksimal saya. Titik. Toh suami juga melakukan hal yang sama, bekerja sebaik mungkin demi kebahagiaan kami semua.

Lebih dari 17 tahun bola salju tadi bergulir, diameter yang semakin tebal membawa banyak kedalaman urusan. Alhamdulillah rezeki selalu tepat, karena kami berprinsip cukup dengan merasa cukup. Tidak berkeinginan di luar kemampuan.

Tiba-tiba saja saya teringat pada bola salju lain. Keluarga yang sudah menggelinding bersama bertahun-tahun. Sang istri telah mendampingi si suami di banyak puncak bola, yang semakin lama semakin tinggi. Tetapi, jangan lupa, sang istri ini pula yang tetap menemani si suami saat berada di dasar bola, yang semakin lama semakin dalam, semakin jauh jarak dari pusat dan puncak.

Saat sang suami berada di titik puncak bola salju yang telah bergulir panjang, ada pihak yang memandangnya dengan silau karena dia berada seolah-olah di tempat sangat tinggi. Sangat menjanjikan kenyamanan perlindungan. Sementara lelaki di puncak bola yang bergerak pun tentu mudah tergelincir. Bola salju besar pun retak dan terdiam.

Sang suami pun bergulir dengan sang pengagum, tidak dari titik awal. Bahkan, mereka tidak membentuk bola salju, hanya berseluncur di lapisan es setinggi puncak bola. Buktinya, ketika ritme sang lelaki mulai bergerak turun, sang pemuja tak turut serta. Mereka berpisah begitu saja. Seorang anak tak berdaya, telanjur ada.

Bola pertama telah retak. Itu saja sudah cukup membuat sang istri berteriak dalam hening. Berpuluh tahun.

Ditinggal kepala keluarga tanpa dicerai saja sudah malapetaka. Kini, tiba-tiba, negara memukulkan palu raksasa kepada bola yang telah retak itu. Anak dari pencuri kebahagiaan itu berhak atas nama suami di belakang namanya.

Dan, walau tak tertulis, akibat dari penggunaan nama pun jelas, hak waris.

Inikah yang namanya adil? Atas nama hak asasi anak, asalkan bisa membuktikan kesamaan DNA, atau yang sejenisnya, si anak terhubung secara perdata dengan ayahnya. Hubungan yang berakibat pada hak penggunaan nama sang ayah. Tapi tidak itu saja, dia akan berhak mendapatkan akta kelahiran dengan nama ayah dan ibunya. Dan akta, pada akhirnya akan dapat digunakan untuk meminta hak waris.

Betul bahwa tak ada lagi yang seperti nabi Isa, lahir tanpa ayah. Tetapi, dalam aturan agama pun jelas tercantum, anak dari luar pernikahan hanya tercatat dalam garis keturunan ibunya.

Hanya satu pertanyaan saya, mengapa negara -dalam hal ini MK- tidak menyoroti dari sisi nikahnya saja?

Selama anak itu lahir dari suatu pernikahan yang sah, dia sah sebagai anak dari ibu dan ayahnya.

Pernikahan yang benar dan tercatat di KUA, sudah cukup.

Bagaimana jika pernikahannya benar tetapi tidak tercatat di KUA?
Nikah siri, atau nikah tak tercatat di KUA, adalah pernikahan yang sah secara Islam, ASAL syarat-syarat sah nikah terpenuhi. Yaitu, ada calon mempelai yang memenuhi syarat, ada wali, ada 2 saksi, ada mahar, dan ada ijab qabul.
Andai karena berbagai alasan pernikahan ini tidak dipublikasikan, dan suatu saat ada masalah yang berkaitan dengan hukum, negara bisa meminta sumpah dari saksi pernikahan, dan kemudian mencatat/menerima pernikahan itu sebagai kebenaran. Sebagai akibat, anak dari pernikahan ini pun akan diakui, dan akibat berikutnya mengikuti.

Jika aturan yang dikenakan dimulai dari keberadaan anak, menurut saya, agak riskan. Karena, anak yang mana pun akan terkena. Tak peduli apakah hubungan ibu dan ayahnya itu sah atau tidak. Agama saja sudah mengatakan, anak hasil zina tidak ada hubungan dengan ayahnya.

Bagaimana jika nikah siri tanpa saksi?
Nah, ini dia, negara harus mensosialisasikan definisi nikah siri yang benar.
Tak ada pernikahan tanpa saksi.
Tak bisa sepasang perempuan dan laki-laki menikah tanpa ada saksi.


Semua pendukung keputusan ini beralasan, tak ada anak haram, yang ada orang tuanya yang berdosa. Sehingga, keputusan ini adalah kemenangan para anak haram ini. Padahal, jika nikah sirinya yang diakui, anak dari nikah siri ini tidak disebut sebagai anak haram. Semua akan di jalur halal, meskipun tetap akan menyakitkan bagi keluarga resmi.

Baiklah. Atas nama kemanusiaan, saya turut memberi selamat.
Semoga para lelaki hidung belang tersadarkan karena resiko yang berat di belakang perbuatan.

Tapi, sejauh ini, saya belum mendengar antisipasi pembuat aturan untuk mengatasi para perempuan instan, perempuan yang ingin hidup nyaman secara cepat. Jika para lelaki nakal akan berpikir dua kali untuk berbuat, maka para perempuan seperti ini sekarang tidak perlu berpikir lagi untuk beraksi. Mereka bisa memalingkan perhatian seorang laki-laki dari keluarganya kapan saja. Jika tak hamil, mereka mendapat kesenangan. Jika hamil, tak perlu pusing masalah tanggungan.

Bagaimana pula dengan anak halal? Anak hasil pernikahan resmi mempunyai hak penuh atas perhatian ayahnya. Gangguan dari perempuan yang bukan ibunya, berpotensi mengurangi waktu sang ayah untuknya. Dan, kini, berpeluang pula memberinya banyak saudara :)
Aturan yang menguntungkan anak haram ini, merugikan anak halal.

Sabtu, 11 Februari 2012

KREATIFnya Bangsaku

Maaf, judulnya agak lebay. Saya hanya sedang mencoba memaknai yang saya lihat sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda.

Jalur rutin saya saat ini adalah Jl. Soleh Iskandar, yang lebih terkenal sebagai jalan baru, dan jalan raya di depan kompleks rumah, Jl. Abdullah bin Nuh.

Kedua jalan utama yang selalu saya lalui ini adalah jalan besar dengan pembatas antara dua arah yang berlawanan. Artinya, pada satu saat, saya hanya akan mengemudi di satu sisi jalan yang searah. Tidak perlu mempertimbangkan kendaraan dari arah yang berlawanan. Ini sangat memudahkan ketika saya keluar dari jalan kecil tempat sekolah dan tempat les anak, ataupun dari halaman Bogor Indah Plaza, tempat dapur, gudang, brankas, ruang rias, jogging track, dan lemari buku saya berada :). Pun ketika saya akan berputar arah, saya hanya tinggal membelokkan mobil pada tempat yang disediakan, dan memperhatikan kondisi dari sebelah kiri jalur yang akan saya masuki. Tidak ada kesulitan sama sekali.

Tetapi, apa yang selalu saya temui dan mengganggu kenyamanan mengemudi? "Pak Ogah" di setiap tempat. Di setiap tempat putar balik, selalu ada 1-2 orang yang sibuk meniup peluit dan melambai-lambaikan tangan seperti menyetop kendaraan lain agar saya bisa lewat. Urusan putar balik itu sederhana. Kita pasti bisa melakukan itu tanpa kesulitan, tanpa perlu mereka sibuk. Keberadaan mereka malah menghambat. Kadang-kadang mereka berdiri di posisi yang mempersulit gerak kendaraan kita.
Kendaraan yang akan memberi uang kepada mereka, tentu akan beberapa detik memperlambat lajunya, atau bahkan berhenti sejenak. Jika sedang ramai, ini berefek pada kemacetan di belakang, dan bahkan justru menutup peluang mobil di belakang untuk berputar pada saat itu.

Posisi tempat putar balik di depan Dinas Pemadam Kebakaran Yasmin, yang mau tidak mau harus saya lewati setiap akan pulang ke rumah, sangat unik. Tak jauh dari situ ada perempatan dengan lampu lalu-lintas. Sangat wajar, ketika lampu sedang hijau untuk yang dari arah Bubulak, kendaraan akan padat. Itu tidak akan lama. Begitu di sana lampu merah, jalur pun akan sangat kosong. Jadi, lengangnya jalur bukan karena peluit mereka selama padat. Tak ada jasa mereka sama sekali dalam hal ini. Tetapi mereka selalu berdiri di posisi tempat mobil akan lewat. Kadang pikiran iseng muncul, bagaimana kalau saya tabrak saja. Resminya kan dia yang salah karena menghalangi jalan. Untung anggota tubuh yang lain masih baik. Menolak mengikuti pikiran :).

Di tempat lain, sama. Selalu ada yang berisik meniup peluit. Sehingga ketika kita lewat dengan aman itu seolah-olah karena jasanya. Padahal, hanya belok kiri memasuki jalan searah. Beberapa oknum bahkan sering mengomel jika kita lewat tanpa memberi satu rupiahpun atas jasa yang bukan jasa itu.


Sampai pagi itu.
Kami sarapan tentang kemandirian bangsa di meja makan berdasarkan topik utama surat kabar yang membahas tokoh-tokoh muda kreatif. Sebagian dari mereka berjaya di usia muda dengan berbisnis kuliner. Baba Rafi, misalnya. Kebab Turki itu dari namanya saja jelas bukan makanan asli Indonesia. Tadinya tidak ada. Dan, kita pun tidak perlu makan itu untuk bertahan hidup. Tetapi, sang pemilik "menciptakan" jenis makanan ini, dan membuat kita membutuhkannya.

Keripik Ma Icih. Tiba-tiba saja generasi muda merasa kuno jika belum pernah mencicipi keripik yang memiliki berbagai level kepedasan ini. Rasa? Biasa, menurut saya yang bukan pecinta keripik. Gizi? Minim. Harga? Mahal. Tapi, laku keras. Ternyata, di balik kehebohan yang diciptakan Ma Icih, ada sosok kreatif yang mencoba memikirkan sesuatu yang baru dari yang sudah ada. Menciptakan kebutuhan untuk makan keripik pedas.

Ada banyak lagi sosok kreatif yang akhir-akhir ini banyak diekspos media. Mereka adalah orang-orang yang menciptakan lapangan kerja. Bukan mencari pekerjaan.

Apakah hanya sosok-sosok populer ini yang kreatif?

Tiba-tiba saya teringat mereka. Yang berdiri di setiap tikungan dan tempat putar balik, di sepanjang jalan yang saya lalui. Bukankah yang mereka lakukan juga sama? Menciptakan lapangan kerja dengan menciptakan kebutuhan dari orang-orang yang sebenarnya tidak butuh.

Saat ini, banyak di antara kita yang refleks mengambil uang receh saat hendak putar arah. Artinya, mereka berhasil mempengaruhi bawah sadar kita, bahwa keberadaan mereka di ujung jalan itu memang diperlukan. Dari pengaruh tersebut, mereka mengumpulkan rupiah. Ini menjadi pekerjaan mandiri mereka. Ini bukti kreativitas mereka.

Jadi, bangsa ini tenang sajalah.
Pasti akan sanggup bertahan hidup, karena penghuninya adalah orang-orang kreatif, dalam berbagai tingkat "kepedasan"nya.

Selasa, 07 Februari 2012

JUJUR Itu Hebat!

Sticker dan pin dengan tulisan "Jujur Itu Hebat" menjadi oleh-oleh yang dibawa pulang anak saya usai pelatihan jurnalistik sehari di KPK. Bersama sekitar 60 siswa SD dari berbagai sekolah dia diberi materi jurnalistik oleh Antara dan penguatan untuk bersikap jujur dari KPK. Dua hari kemudian, ketua KPK saat itu mengadakan konferensi pers yang hanya dihadiri ke-60 wartawan cilik ini.

Peristiwa itu teringat kembali ketika minggu lalu anak saya bercerita tentang obrolan teman-temannya di kelas. Entah apa pemicunya, para siswa kelas 5 ini kemudian saling mengungkapkan pengetahuan mereka tentang koruptor kelas kakap. Tentu tak luput dibumbui pendapat pribadi dan dilengkapi kata-kata "penyeru", kata-kata yang membuat cerita menjadi semakin seru :) . Misalnya, "Gile ya, masa koruptor X punya rumah sekian," kata si A. "Lebih parah koruptor Y, kemarin aku lihat di TV katanya begini begitu di penjara," timpal si B. Membayangkan suasana kelas berdasarkan cerita anak saya, saya langsung teringat kuis "Are you smarter than the 5th grader?". Anak-anak yang sedang merasa di puncak kepandaian beradu argumen. Pasti seru.

Sungguh, saya kaget dan miris mendengar obrolan tentang korupsi masuk ke ruang pembicaraan anak SD dengan cara seperti ini.

"Lantas, apa komentar kamu?" tanya saya pada anak.

"Ya dengerin aja. Aku kan gak ngerti yang mereka omongin," jawabnya polos. Terbayang, anak saya tidak bisa masuk ke topik pembicaraan karena TV di rumah kami jarang sekali mengganggu kenyamanan telinga dan matanya.

"Menurut kamu, korupsi itu apa?"

"Apa ya? Nyuri?"

"Itu salah satunya. Kalian ngomongin koruptor, tapi tidak tahu korupsi itu apa," ujar saya sambil tersenyum. "Mau tahu apa itu korupsi?" Anak saya mengangguk.

" Kalian ngobrol di kelas, itu korupsi. Tugas anak sekolah selama jam pelajaran adalah belajar. Korupsi waktu, tidak benar. Apalagi dipakai untuk membicarakan koruptor. Menjadi ironis, kan? Menyalahkan orang lain, tapi diri sendiri melakukan."

"Iya juga ya, Mah."

"Kamu cukup jujur dan ingat Allah setiap saat. Itu saja." saya menutup pembicaraan.


Sebenarnya, saya justru memulai pembahasan dalam diri. Geregetan. Bagaimana usaha melawan korupsi justru berakibat semakin populernya si korupsi itu sendiri? Sudah dua digit tahun kita gunakan untuk memberantas korupsi. Mengapa seolah korupsi tak jua henti?

Menurut saya, pemilihan jargon kampanye anti negatif menjadi salah satu sebab. Silakan telusuri jalanan, atau media iklan lain. Pandang kampanye yang dilakukan oleh lembaga antikorupsi, pemerintah, parpol, maupun jargon kampanye calon kepala daerah. Apa yang paling banyak mereka tulis?

Anti korupsi-kah? Lawan korupsi-kah? Jauhi korupsi-kah? Bukan! Yang paling banyak adalah TULISAN korupsi. Apapun kata depannya, kata belakangnya adalah "korupsi". Dengan font yang jauh lebih besar pula dibandingkan kata pendahulunya.

Ingatkah ketika anak-anak kita baru bisa membaca? Mereka antusias sekali membaca semua tulisan, termasuk yang ada di pinggir jalan. Bayangkan, dalam kendaraan yang bergerak, apa yang terbaca? Tulisan yang paling menonjol. Huruf-huruf terbesar dan warna yang menyolok. Jauhi narkoba-kah atau narkoba-nya saja? Lawan Korupsi-kah atau korupsi-nya saja?

Ketika dia telah semakin lancar membaca, seluruh frase terbaca tuntas. Bagaimana database di kepalanya? Setelah membaca antikorupsi, lawan korupsi, jauhi korupsi, tercatat dalam memorinya: anti=1, lawan=1, jauhi=1, dan korupsi=3!

Korupsi pun menjadi trendsetter di memori anak.

Okelah, dia akan sering mendengar dan membaca bahwa korupsi itu salah. Buktinya, koruptor ditangkap karena urusan sekian milyar. Dia tahu itu. Tapi, apakah dia sudah tahu juga, bahwa menggunakan sebagian uang kembalian membeli telur untuk mendapatkan sebungkus permen tanpa izin ibu sebagai pemberi tugas, termasuk bibit korupsi?

Apakah terhadap anak-anak, kita sudah cukup memberi contoh dan informasi tentang perbuatan yang benar?

Apakah kita sendiri tahu, bahwa yang benar adalah ini, ini, dan ini, sedangkan yang termasuk katagori korupsi atau dapat berkembang menjadi korupsi adalah itu, itu, dan itu?

Jika menyanyikan lagu Indonesia Raya saat upacara saja perlu menyamakan suara, maka tampaknya perlu juga kita samakan definisi korupsi. Agar suasana tidak hiruk pikuk seperti saat ini. Ada pihak yang menuduh seseorang korupsi dengan alasan ini itu, sementara pihak yang dituduh membantahnya dengan alasan yang kuat pula terhadap data yang sama, bahwa itu bukan korupsi.

Eh, terlalu jauh. Intinya, saya merasa, kampanye KPK seperti pada judul tulisan, perlu diperbanyak. Ajakan untuk berbuat benar, bukan untuk menghindari yang salah!

Senin, 06 Februari 2012

Batas hidup

Pagi ini berjalan seperti biasa. Menemani anak berjuang menjauhkan diri dari magnet tempat tidur sampai akhirnya keluar rumah menuju mobil jemputan. Tapi di saat-saat terakhir, keengganan anak meninggalkan rumah menimbulkan dialog spontan yang kemudian terngiang-ngiang setelah dia pergi.

"Kenapa sih aku harus sekolah? Aku kan ingin menikmati hidup," ujar anakku sambil minum susu.

"Memangnya kamu tidak menikmati hidupmu di sekolah?" aku bertanya, sambil terkenang betapa hebohnya dia bercerita tentang pengalaman hari itu di sekolah setiap tiba di rumah.

"Iya. Tapi di sekolah kan banyak aturan. Banyak batasan."

"Lantas, apakah kamu pikir hidup itu tidak ada batasannya?"

"Tapi kan mamah enak, di rumah saja tidak dibatasi waktu."

"Kata siapa tidak dibatasi waktu? Pekerjaan mamah di rumah tetap dibatasi waktu. Apa yang harus mamah lakukan setiap saat ada jadwalnya juga. Contoh, seragam sekolah kamu untuk hari Senin sudah harus mamah siapkan sebelumnya agar saat kamu perlu sudah bersih dan rapi."

"Iya deh....tapi kan di sekolah itu batasan waktunya ketat," kata dia yang seperti sedang membayangkan suasana di sekolah.

"Hidup kita juga dibatasi waktu secara ketat. Batasannya adalah mati. Kita tidak tahu kapan kita mati, tapi itu pasti." Kemudian aku lanjutkan, "Sekolah adalah tempat kamu belajar. Belajar segala hal. Tidak hanya mempelajari IPA atau bahasa, Matematika atau SBK, tetapi jauuuh lebih banyak dari itu. Kamu belajar berteman, belajar menyelesaikan masalah, dan belajar hidup. Salah satunya adalah, belajar untuk hidup dibatasi waktu."

Mobil jemputan tiba, anakku pun seolah lupa dengan semua pertanyaannya. Berangkat dengan gembira. Tinggallah aku di rumah, termenung. Dalam sekali sejatinya percakapan kami pagi ini.

Sekolah adalah miniatur hidup. Ada aturan, ada tanggung jawab, ada hubungan dengan orang lain. Ada ujian, tetapi ada juga kegembiraan. Dan, karena sekolah adalah tempat belajar, dia masih memberi ruang untuk perbaikan kegagalan. Ada remedial, ada tugas tambahan. Bahkan, kalaupun tidak naik kelas, masih bisa mengulang di kelas yang sama tahun berikutnya, agar siswa benar-benar paham materi yang diajarkan. Nikmati sajalah kemewahan ini. Kemewahan sebagai pelajar. Karena, begitu kita hidup di alam nyata, semua yang kita lakukan harus benar. Kita bisa rehat sejenak, mengambil jeda untuk perbaikan. Tetapi, ujiannya hanya sekali. Setelah batasan waktu hidup itu terlewati, tak ada lagi peluang perbaiki diri.