Rabu, 09 Januari 2013

Dari Habibie ke Ainun



            Sebagai remaja di tahun 80-an, saya termasuk pengagum pak Habibie. Menristek yang lincah, selalu bersemangat dalam segala hal. Apalagi jika bicara tentang pesawat terbang, matanya selalu berbinar-binar. Beliau penggagas berdirinya pabrik pesawat terbang di Bandung. Kurang keren apalagi, coba? Saat itu, sebagai negara agraris, Indonesia sudah bisa mencukupi kebutuhan berasnya. PT Nurtanio akan melengkapi kebanggaan sebagai orang Indonesia dengan membuat pesawat sendiri.

            Sebagai kepala BPPT, Pak Habibie pun membuka peluang sekolah teknik di luar negeri untuk para lulusan SMA. Beasiswa BPPT menjadi tujuan mayoritas siswa laki-laki  berprestasi dari jurusan IPA. Peminat perempuan ada, tapi belum banyak.

            Saya sempat sangat ingin menjadi bagian dari pelajar istimewa itu, tetapi tidak mengetahui prosedurnya. Saya kira akan ada penawaran, ternyata tidak. Saya baru tahu saat teman-teman saya sudah  mendapat panggilan tes tertulis. Terlambat. Rasa tak nyaman itu muncul lagi saat di pertengahan semester 1, beberapa teman kuliah tiba-tiba menghilang. Rupanya mereka lolos sampai seleksi tahap akhir dan mulai mempersiapkan keberangkatan ke negara tujuan masing-masing.

            Beberapa tahun saya menjalani kesibukan sebagai mahasiswa seperti pada umumnya dengan berbagai kehidupan sosial di luar pelajaran. Sampai di tahun keempat, saya membaca penawaran beasiswa BPPT untuk mahasiswa tingkat akhir di dalam negeri. Teringat keinginan dahulu, saya pun melamar. Program yang ini sudah sangat spesifik. Saat mendaftar kita sudah langsung menentukan di instansi mana nanti akan mengabdi. Saya memilih PT IPTN, Industri Pesawat Terbang Nusantara, nama baru dari PT Nurtanio.

            Alhamdulillah, lolos. Bangganya...karena saya akan satu perusahaan dengan Pak Habibie, Dirut PT IPTN. Hanya setahun saya mendapat beasiswa. Lulus. Dan langsung bekerja. Saya ditempatkan di Pusat Komputasi, bagian Analisis Data, dengan ruang kerja di Lantai 6 Hanggar. Dari jendela ruang kerja, tampak pesawat-pesawat keluar masuk hanggar. Walau lutut gemetar karena saya takut ketinggian, saat istirahat saya suka sekali memandang dari jendela ini. Apalagi saya belum pernah naik pesawat terbang.

            Jika waktu shalat Jumat tiba, saya sangat menikmati perjalanan dari gedung Hanggar ke gerbang depan untuk makan siang di luar kantor. Selain karyawati, yang melintas di jalur utama itu adalah para ekspatriat. Saya suka berkhayal sedang berjalan-jalan di Eropa :).  Tahun 1992-1994, ekspatriat masih banyak di IPTN.

            Pekerjaan saya tidak berkaitan langsung dengan pembuatan fisik pesawat. Saya menggali informasi dari berbagai departemen, mempelajari proses kerja dan kebutuhan data mereka. Informasi ini nantinya akan menjadi dasar pemrograman komputer yang terintegrasi.

Berkaitan dengan pekerjaan ini, saya pernah diajak masuk ke lokasi perakitan pesawat. Jeleknyaaa pesawat yang sedang dirakit :). Penuh dengan sekrup yang mengikat lempengan-lempengan kecil yang membentuk badan pesawat. Di IPTN, saya hanya 1/16.000 karyawan saat itu. Tapi, saya bangga menjadi 1 sekrup di industri berteknologi tinggi ini. 

Mimpi saya untuk menjadi seperti Pak Habibie masih hidup. 3 kali seminggu, sepulang kerja di kompleks lanud Husein Sastranegara, saya menuju Goethe di jalan Martadinata untuk belajar bahasa Jerman. Saya memilih kursus bahasa Jerman, karena masih berharap bisa kuliah S2 atau S3 di sana. Lelah dan dinginnya malam sering terlupakan.

            Beberapa kali upacara dipimpin langsung Pak Habibie. Saya selalu antusias mendengar pidato beliau. Dinamis. Optimis. Apalagi saat itu PT IPTN sedang menyiapkan pesawat N-250.

            Motivasi saya sempat terganggu ketika mulai bergaul dengan lebih banyak orang. Mendengar gosip ini itu, menyadarkan saya bahwa dunia kerja bukan prototype hidup, tapi kenyataan. Ada baik buruk, ada positif negatif.

Saya tersemangati lagi saat mendapat sebuah penugasan, berkaitan dengan Rencana Strategis perusahaan. Ada sesi penjelasan 5 tahap alih teknologi yang dicanangkan IPTN/Pak Habibie dari awal. Kurang lebihnya sebagai berikut:

Tahap pertama, menjadi “tukang”. Menerima order membuat bagian-bagian pesawat dari perusahaan pesawat yang sudah mapan. Pemesan sudah menggambarkan spec detilnya, IPTN tinggal membuat. Tujuan tahap pertama ini adalah mengenalkan pabrik ini, sambil kita mempelajari teknologi yang sudah dikuasai perusahaan lain. 

Tahap kedua, membuat pesawat atas nama perusahaan lain. Gambar detil, dibuat pemesan. IPTN merakit. Ibarat tukang jahit, saat itu IPTN hanya menjahit. Pola baju sudah dibuatkan orang lain.

Tahap ketiga, membuat pesawat bekerja sama dengan perusahaan lain. Hasilnya adalah pesawat CN – 235, CN singkatan dari Cassa dan Nurtanio.

Tahap keempat, membuat pesawat hasil desain sendiri. Contohnya N-250. Desain asli di IPTN, badan dibuat di IPTN, tetapi mesin masih dipesan ke pihak ketiga.

Dan tahap kelima adalah, suatu saat akan membuat pesawat dengan seluruh komponen dibuat di Indonesia.

Lima tahap alih teknologi yang luar biasa. Saat awal, tenaga ahli kita belum banyak. Jadi, sambil menyekolahkan generasi muda ke luar negeri di bidang perpesawatan, para ahli dari luar juga dipekerjakan di IPTN. Secara bertahap, ekspatriat ini akan digantikan oleh ahli lokal yang sudah terdidik. 

Lebih jauh lagi, jika teknologi pesawat terbang yang sulit saja sudah terkuasai, diharapkan kepercayaan diri bangsa Indonesia dalam bidang teknologi meningkat. Kemampuan membuat mobil, alat telekomunikasi, dan lain-lain akan menyusul berkembang. Untuk ini, selain IPTN, ada 8 industri strategis lainnya dalam kelompok BPIS.

Impian besarnya, selain swasembada beras, Indonesia suatu saat akan bisa swasembada alat transportasi. Pesawat kecil buatan sendiri yang akan menghubungkan ribuan pulau di negeri ini. Demikian juga produk BPIS lainnya, misalnya kapal laut dan kereta api.

Satu hari di tahun 1994, kebanggaan saya memuncak. Pesawat N250 roll out. Keluar dari ruang produksi. Tinggal mempersiapkan penerbangan perdananya di tahun 1995. Desain dan pembuatan pesawat ini murni di Indonesia, kecuali mesinnya. Konsep Fly By Wire pada  N 250 termasuk mendahului zamannya pada saat itu.

Sesuatu mengubah saya.

Seseorang melamar saya. 
Dan, saya pun tersadar, menjadi istri dan ibu adalah cita-cita tertinggi saya. 

Saya mengundurkan diri dari IPTN, karena kebetulan juga masa ikatan dinas sudah jauh terlewati. Saya pun beralih profesi menjadi dosen di Bogor, mendekat kepada suami yang bekerja di Jakarta. Saya merasa tak berkhianat kepada negara, karena toh berpindah dari karyawan BUMN menjadi PNS. Sama-sama mengabdi kepada negeri.

            Sering saya bercanda, bahwa saya ibu rumah tangga yang nyambi jadi dosen. Karena saya hanya memenuhi syarat wajib sebagai pegawai fungsional. Mengajar. Di luar itu, jika tidak ada tugas administratif, saya pulang. Bahkan persiapan mengajar pun saya lakukan di rumah. Apalagi setelah ada anak.
 Sampai di satu titik. 
Suami yang selama ini bekerja dan berwirausaha di sektor swasta, mendapat amanah di sebuah BUMN. Di sisi lain, saya juga masih ingin punya anak. Ada juga beberapa hal lain yang saling berkaitan.  Akhirnya, saya memutuskan mundur dari dunia kerja di luar rumah. 

Bukan hal mudah, tentu saja, menjalani perubahan kondisi. Dari bekerja, menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Niat mendukung suami apapun yang terjadi, tidak selalu berhasil. 


Lalu, Bu Ainun wafat. Membuat banyak kisahnya tertulis di media. Saya jadi semakin tahu tentang beliau. 

Dan, tiba-tiba saja, saya merasa ada panutan. Saya tidak sendiri. Kondisi yang dihadapi Bu Ainun lebih kompleks. Tetapi semua bersaksi, beliau luar biasa sabar. Saya jadi merasa tak mahir menghadapi kondisi yang jauh lebih ringan. Saya semakin salut kepada beliau mengingat apa yang berhasil dicapai Pak Habibie, suaminya.

Saya belum sempat tuntas membaca buku Habibie dan Ainun, telanjur diputar filmnya. Saat menonton, saya tersenyum sendiri ketika anak saya nyeletuk, “Mamah sering bilang begitu!” pada adegan Bu Ainun marah dan berkata “Saya tidak suka...”

Adegan itu, memanusiakan Bu Ainun di mata saya. Ternyata beliau ada batas sabarnya juga. Ternyata beliau tidak melulu patuh pada suaminya juga. Membuat saya semakin suka, karena beliau tidak berpura-pura menjadi malaikat. 

Yang saya kagumi jadi dua, Pak Habibie dan Bu Ainun.
Tetapi, idola saya bergeser, dari Pak Habibie ke Bu Ainun.

Minggu, 30 Desember 2012

Andai Saya Dahlan Iskan

            Sebagai Menteri BUMN, saya mempunyai nilai lebih. Saya mempunyai kewenangan mengambil keputusan. Saya juga mempunyai keuntungan dari sisi keberpihakan masyarakat kepada segala tingkah laku saya. Selain itu, saya punya pendukung yang kuat, media massa.

            Sebagai Menteri, saya menjadi sorotan. Menteri adalah posisi sangat tinggi. Dibayar oleh negara, berdasarkan pembayaran pajak masyarakat. Tugasnya sangat mulia. Turut menjalankan pemerintahan. Ikut mewarnai merah putihnya bangsa ini. Ibadah yang bernilai luar biasa tinggi di mata-Nya.

            Saya sudah melakukan banyak langkah spektakuler sepanjang menjadi menteri. Saya pernah membebaskan antrian di sebuah pintu tol dalam kota. Saya pernah menaiki KRL Jakarta Bogor dan dilanjut dengan menggunakan ojeg. Saya pernah inspeksi mendadak di pintu tol Cikarang Utama dan ruang kontrol bandara Soetta. 

            Dan, semua tahu, saya tidak mencapai posisi ini dari warisan. Saya anak miskin yang harus mengikatkan sarung kencang-kencang untuk menahan lapar di saat muda.

            Jadi:
Saya paham macetnya Jakarta, di jalan biasa ataupun di tol. Saya juga paham ketergantungan masyarakat pada keberadaan KRL, transportasi termurah. Dan, terutama, saya sangat paham bagaimana rasanya menjadi orang dengan kemampuan ekonomi terbatas. 

Sebagai mantan wartawan dan pemilik media besar, saya juga mengikuti berita nasional. Jika tak sempat membaca sendiri, staf saya bisa membuatkan resume dari berbagai peristiwa di negeri ini, khususnya di Jakarta, kota tempat saya tinggal sekarang.

Saya tinggal duduk manis. Bukan melamun dan bersantai, itu gak gue banget. Tetapi, merenungkan bagaimana kewenangan yang saya miliki bisa menjadi solusi bagi banyak hal yang seolah tidak berhubungan.
Saya lihat di televisi, mas Jokowi sedang mencoba mengurai dan menggulung ulang benang masalah di Jakarta, si kembar siam macet dan banjir. Saya juga membaca teriakan para orang tua atas tingginya biaya pendidikan. Saya ikut mendengar jebolnya APBN untuk subsidi premium. Saya tahu juga berita terbaru, PT KAI segera menghapuskan KRL Ekonomi. 

Jika Minggu pukul 5 pagi saya gunakan untuk rapat dengan direksi BUMN, maka pada hari Senin s.d. Jumat pukul 5 saya keluar rumah. Berjalan atau berlari menuju Monas, kemudian mengelilinginya beberapa kali. Segar dan menyehatkan. Biasanya, setelah cukup berkeringat, saya tinggal menyeberang ke kantor, mandi, dan langsung menjalankan tugas-tugas  sebagai menteri.

Menghirup udara pagi sambil melihat perubahan cepat lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki di seputar Monas menjelang jam 7 pagi, tiba-tiba menyalakan lampu pijar 5 cm di atas kepala saya. Saya yakin sekali apa yang harus segera saya lakukan.

Saya akan memanggil Dirut PT KAI. Saya akan memaksanya membatalkan rencana penghapusan KRL Ekonomi. Harus! Benar bahwa KRL Ekonomi tidak ekonomis bagi perusahaan. Tapi PT KAI adalah sebuah BUMN. BU, tapi MN. Badan Usaha, tapi Milik Negara. Dan UUD mengamanatkan, negara diselenggarakan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Sebagai penyelenggara negara, saya belum bisa memakmurkan rakyat dalam waktu singkat. Tetapi, saya bisa, perlu, dan harus membuat mereka tidak menjadi lebih sengsara dari sebelumnya.

Hiruk pikuk Jakarta tidak hanya disebabkan kaum menengah ke atas. Pembuat keramaian di pagi hari justru para pekerja fisik. Misalnya, office boy. Mereka harus datang lebih pagi dari jam kerja karyawan kantor, dan pulang setelah yang lembur usai. Hanya sedikit saja penduduk sekitar perkantoran, selebihnya mereka adalah orang-orang yang berjarak dari tempat kerja. Banyak yang berasal dari sekitar Jabodetabek. 

Selama ini, mereka rela berdesakan, di KRL Ekonomi. Karena, hanya itu alat transportasi yang bisa membawanya ke tempat kerja sesuai kemampuan mereka. Bogor-Jakarta hanya Rp 2.000 saja! Turun di Gondangdia atau Cikini, misalnya, untuk melanjutkan dengan berjalan kaki ke kawasan perkantoran seputar Monas. 

(Commuter Line padat oleh kelompok lain, karena penggunanya karyawan berpenghasilan jauh di atas UMR. Membeli tiket Rp 9.000. Dan masih sanggup membayar ojeg atau bajaj minimal Rp 10.000 untuk sampai ke kantor.)

Pengguna KRL Ekonomi yang lain adalah pemilik warung, pedagang asongan, pelayan, atau penjual jasa apapun di seputar perkantoran. Mereka menyokong kenyamanan para karyawan ini. Sarapannya, minumnya, pijat refleksinya, dan lain-lain. Mereka dibutuhkan, tetapi mereka harus berhitung untuk mengatur pengeluaran. Dan tarif Commuter Line (CL) jauh di atas anggaran mereka.

Dengan biaya transportasi yang ringan, para pemakai KRL Ekonomi masih bisa menyisihkan penghasilannya untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan anak, dan kebutuhan utama lain. Sehingga, peningkatan kesejahteraan rakyat bisa diwujudkan pada generasi berikutnya, anak-anak mereka. Ayah dan ibunya rela berpeluh tanpa mengeluh, agar anak mereka tetap sekolah. Pun, orang-orang ini bisa fokus pada pekerjaannya sehingga peran mereka walau “kecil” tetap optimal.

Di KRL Ekonomi pula, banyak orang menggantungkan hidupnya. Pedagang asongan segala macam barang melihat para penumpang ini sebagai target pasar mereka. Saat naik KRL, saya melihat ironi. Berapa banyak orang yang rela mengeluarkan uang lagi untuk kebutuhan tersier (tisu, gantungan kunci, masker, dll.), jika untuk kebutuhan utama mereka (transportasi ke tempat kerja) saja, mereka hanya sanggup membayar yang termurah? Tetapi para pedagang ini tetap ada. Berarti, apa yang mereka lakukan cukup memberi penghidupan.

Jika KRL Ekonomi dihapus, bagaimana para pekerja ini ke Jakarta? Apalagi tarif CL sedang dalam proses dinaikkan. Naik bis? Hampir semahal CL. Dan masih harus dilanjut dengan angkot atau kendaraan lain. Bike to Work? Yang benar saja! Dari Bogor gitu lho. Kapan sampai kantornya? Paling masuk akal adalah mengetatkan ikat pinggang untuk membeli motor. 

Terbayang, mas Jokowi akan tambah pusing dengan serbuan motor ke Jakarta. Ruang yang dipakai motor di jalan ataupun di tempat parkir jauh lebih kecil daripada mobil, tetapi jika jumlahnya jauh lebih banyak? Sekarang motor menjadi alternatif kendaraan dibandingkan mobil karena bebas macet, maka, kelak, motor pun akan ikut terjebak macet. Jika sekarang saja jalur busway atau trotoar bisa dilalui pemotor tanpa merasa berdosa, bukan tak mungkin nanti mereka akan merasa berhak menerobos jalan tol agar bisa lepas dari kemacetan di jalan biasa.

Dan, nasib APBN karena peningkatan konsumsi premium... Pemborosan uang rakyat untuk dibuang di tengah kemacetan.

Dan, karena dananya untuk cicilan motor serta biaya transportasi, sekolah anak ditangguhkan serta pilihan makanan disederhanakan.

Dan, rasa terbatas membuat orang mencari-cari alternatif pemasukan. Bekerja pun tidak fokus pada tugas utama. Secara massal, kinerja menurun. 

Padahal, ada yang disebut PSO dan CSR. 

Public Service Obligation. Dari namanya, seharusnya jalur PSO ini bisa menjadi alasan keberadaan KRL Ekonomi. Agar tidak menjadi pembuat merah rapot kinerja PT KAI, masukkan saja kereta ekonomi ini ke PSO. Dana PSO dari negara ini bisa sepenuhnya digunakan untuk masyarakat, bukan untuk masyarakat dalam saja, tambahan penghasilan bagi karyawan. 

Masyarakat tetap membayar walau dibawah biaya operasional. Ini penting untuk harga diri pemakai. Dan rasa tanggung jawab atas kenyamanan bersama. PSO untuk menggenapkan kekurangan pembayaran penumpang ini. 

Dana CSRnya bisa digunakan untuk edukasi penumpang, terutama berkaitan dengan sikap di kereta, atau untuk penyediaan tempat-tempat sampah. Lagipula, CSR yang seperti ini lebih sesuai lembaga. Daripada dananya diberikan kepada pengusaha manisan pala, misalnya. Membantu masyarakat sih, tetapi masih ada para penumpang kereta yang lebih langsung hubungannya dengan perusahaan.

Ya, saya yakin, memaksa agar KRL Ekonomi tetap ada, akan menjadi amal jariah jangka panjang. Saya belum mampu menyelesaikan semua persoalan. Tetapi, setidaknya, saya tidak menambah masalah lagi bagi bangsa ini. 

Jika keputusan menghentikan operasional KRL Ekonomi diambil para petinggi PT KAI karena mereka tidak bisa berempati pada yang lemah, maka saya bisa membatalkannya dengan 2 alasan. Saya menteri BUMN, saya punya kewenangan melakukan yang terbaik. Dan, saya pernah menjadi rakyat yang di bawah. Tak sekedar empati yang saya punya, tetapi saya tahu bagaimana rasanya ada di sana. 

Ini saatnya saya membuktikan, tak salah mereka mengagumi saya.

Rabu, 26 Desember 2012

Banda Aceh, 26 Desember 2004

Minggu pagi yang cerah, secerah hatiku. Ah, bukan hanya hari ini. Satu bulan terakhir, setiap hari cerah bagiku. Sejak surat izin cuti di luar tanggungan negara ditandatangani Rektor Unsyiah, aku bersemangat menyiapkan diri pindah ke Surabaya. Akhirnya, kami akan berkumpul bertiga seperti keluarga lain.

Karena bahagia sudah menanti di depan mata, tak apalah aku berbagi rahasia. Hampir dua tahun aku memendam rasa, sejak awal kenal di Ganesha, sebagai mahasiswa pasca. Sikapnya yang tak acuh, penampilan yang sesuka hati, tetapi tak pernah gagal mengurai soal Matematika yang kami pelajari. Perhatiannya yang samar membuatku tersanjung sekaligus penasaran. Tak pernah terucap kata suka, tetapi dia selalu ada untuk membantuku menyelesaikan tugas.

Jawabannya baru jelas sebulan sebelum sidang tesis. Dia melamarku! Kami pun menikah segera. Di Bandung. Jauh dari orang tuaku, maupun orang tuanya. Tak ada masalah soal izin mereka, semua hanya alasan ekonomis semata. Kami di Bandung, orang tuaku di Banda Aceh, dan orang tuanya di Surabaya. Kakak Ayahku yang tinggal di Jakarta datang untuk menjadi wali nikah kami di kantor KUA.

Sebulan yang paling istimewa dalam hidupku. Aku pindah ke kamar kosnya, tidur di kasur beralaskan tikar. Dinginnya malam tak terasa karena dia suami yang luar biasa. Tetapi di siang hari aku menemukan hal-hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Kaos kaki di pojok sini, jaket teronggok di ujung sana.

Hanya satu bulan. Tak lebih. Aku harus kembali ke Banda Aceh seminggu setelah dinyatakan lulus. Suamiku –ehm, begitu aku menyebut teman kuliahku ini sekarang- kembali ke Surabaya. Tak akan lama dia di sana karena di awal tahun ajaran berikutnya dia sudah harus di Bandung lagi, memulai program doktor.

Seperti biasa, aku pulang naik bis ALS. Entah karena galau memikirkan jarak yang tiba-tiba menjauh dari suami, atau pedih karena kehilangan malam-malam yang penuh arti, perjalanan kali ini sangat menyiksaku. Aku mual dan muntah beberapa kali. Pusing. Menyesal aku menolak tawarannya menemani perjalananku. Aku hanya memikirkan biaya saja. Berapa yang harus terbuang jika dia mengantarku dulu ke Banda Aceh, kemudian menuju Surabaya?

Sesampainya di rumah orang tua, baru terungkap sebab ketidaknyamananku. Aku hamil! Aku akan menjadi ibu! Tiba-tiba saja aku merasa tercabik. Kemana bahagia itu? Inikah yang harus didapat seorang perempuan? Diberi kenikmatan semalam, untuk menderita 9 bulan. Dua tahun lalu, aku keluar dari rumah ibuku sebagai seorang gadis singset bermasa depan gemilang. Kini aku pulang tak hanya membawa gelar, tetapi juga “gembolan”.

Hari-hari menyiksa menghadangku. Andai tahu begini rasanya, tentu aku berpikir ulang menerima lamaran. Pernikahan hanya memberi masalah. Gajiku pun harus dicukupkan untuk makanan bergizi. Belum banyak  yang bisa diharapkan dari suami. Gajinya baru cukup untuk biaya hidup dan menabung agar bisa menengok kami. Komunikasi paling hanya melalui e-mail. Telepon hanya sesekali karena biaya tinggi. Sabar, itu selalu yang diucapkan suami. Sabar, memang hanya itu yang bisa kujalani. Ada lagi?

Lima tahun berikutnya berjalan bagai mimpi. Anak menjadi pelipur lara sekaligus pelampiasan kemarahanku pada keadaan. Tak sampai sepuluh kali suamiku menengok selama itu. Biasanya saat dia libur semester. Untungnya Salsabila tak lupa pada ayahnya.

Kedatangan suami yang terakhir melambungkan bahagiaku. Januari 2005 dia akan sidang terbuka. Dia mengajak kami pindah ke Surabaya setelahnya. Aku sudah leluasa karena masa ikatan dinas sudah usai. Setiap hari sejak dia kembali ke Bandung, aku mengumpulkan ini itu, memilih dan memilah barang untuk dibawa pindah. Seperti yang kulakukan pagi ini.

Lantai bergetar hebat. Tumpukan kardus di samping pintu kamarku berjatuhan. Aku sempat kesal karena hasil kerjaku menjadi berantakan, sebelum tiba-tiba sadar. Ini gempa. Kencang sekali. “Salsa....!” teriakku panik sambil berlari keluar kamar. Aku menemukan Salsa diam ketakutan di samping TV sambil memeluk boneka kesayangannya. Aku raih dia dan kubawa ke luar.

Aku terduduk di dekat pagar rumah. Menenangkan tangisan Salsa, dan menenangkan diriku sendiri. Kulihat ibu di jalan, berkumpul dengan tetangga. Tetapi tak kulihat ayah. “Ayah sedang di kamar mandi,” ucap ibu menjawab tatapanku.

Setelah tangisnya reda, Salsa bertanya tentang gempa. Aku sedang memikirkan kalimat sederhana untuk menjawab pertanyaan Salsa ketika mataku tertumbuk pada gerombolan orang yang berlari berkejaran dari arah pantai yang terletak sekitar 1 km dari rumahku. “Air...air...,” teriak mereka. Aku bingung apa maksudnya. Tapi jantungku berdetak lebih cepat, aku merasa ada sesuatu yang tak terduga sedang terjadi. Gemuruh kaki-kaki yang berkejaran menimbulkan suara mencekam. Gemuruh kaki-kaki? Bukan begitu seharusnya. Lantas suara apakah itu?

Aku masih bertanya-tanya sambil memeluk erat Salsa. Aku lihat ibu dan para tetangga sudah ikut berlari. Tapi kakiku serasa terpaku. Berat sekali untuk dilangkahkan. Aku menatap orang-orang yang berlari itu. Aku merasa sudah ikut berlari juga, walau pada kenyataannya aku masih diam di tempat. Langit tiba-tiba menghitam. Ah, bukan! Bukan langit, tetapi sesuatu yang hitam besar bergerak ke atas. Meninggi dan maju seolah hendak menerkam orang-orang itu. Air laut! Ya Tuhan, lambat sekali kesadaran ini datang. Aku pun segera menyusul mereka berlari. Aku berusaha berlari sekencang-kencangnya. Aku ingin lari lebih cepat dari degup jantungku. Tetapi andai ada yang sempat memperhatikan, mereka akan melihat aku hanya berjalan pelan menggendong Salsa yang gemuk lucu itu.

Hantaman keras ke punggung tidak membuatku terjerembab, tetapi justru mendorongku meluncur jauh di gelombang air hitam. Salsa terlepas dari pelukan. Aku terantuk-antuk berbagai benda. Mungkin itu lemari, panci, atau bahkan ibuku sendiri. Tak lama aku terombang-ambing. Kala udara yang kucari tak jua terhirup, aku temukan diriku sedang dibimbing Salsa di suatu ruang hening putih. Dengan bergegas dia membawaku melintasi lorong tak tembus waktu, menuju namanya, Salsabila Adnia, sungai yang mengalir di surga.

*Untuk Novi dan putrinya, dan orang-orang yang pulang saat tsunami melanda.

*Ditulis Juni 2011 

Jumat, 21 Desember 2012

PARKIR Bersama di JORR


Baru saja membaca sebuah tautan tentang hasil penelitian di Amerika pada pecandu sosialisasi di dunia maya. Dikatakan bahwa rata-rata mereka mempunyai kontrol diri yang rendah. Tapi, saya melihat, justru keaktifan di media sosial malah menyelamatkan banyak orang dari frustasi yang tak tersalurkan. Khususnya, bagi penikmat lalu lintas di Jakarta.

Mencermati ungkapan teman-teman, sangat menarik.

Selama beberapa tahun terakhir, istilah yang awalnya dipopulerkan sebuah radio swasta, biasa dipakai untuk menggambarkan lalu lintas di Jakarta. Diantaranya: Padat Merayap, atau Ramai Lancar. Ungkapan ini sering dimodifikasi sedemikian sehingga menarik perhatian. PAdat MERayap tanPA HArapan. Atau PAdat MERayap sampai Pengen NangIS. Mungkin juga memberi istilah untuk menyalurkan kekesalan karena urusannya terhambat macet.

Beberapa bulan terakhir, kemacetan semakin parah dan tak mengenal tempat dan waktu. Bisa dimana saja dan jam berapa saja. Yang istimewa, justru semakin sedikit teman yang menulis status: macetttt.

Sebagian mungkin sudah melihat macet sebagai aktivitas harian yang tidak istimewa lagi untuk dilaporkan kepada khalayak. Sebagian lagi mungkin tidak sempat update status karena sedang mengemudi. Sebagian lagi...memilih sudut pandang lain :)
 
Mereka yang memilih sudut pandang .lain, tetap membayar pajak, tetap beraktivitas, dan tetap eksis di media sosial. Hanya sekarang “fokus” mereka sudah berubah. Semoga terasa perbedaannya saat yang terbaca adalah:

“Parkir bersama di JORR. Tarif flat, Rp 7.500, tanpa batasan waktu.”
“Tumben Jakarta tertib. Tak ada yang kebut-kebutan. Tak ada yang main salib seenaknya. Semua antri dengan teratur. Dengan kecepatan 2 km/jam.”
“Menikmati pajak yang kita bayarkan kepada negara. Menyusuri jalan sepuas-puasnya, tanpa diburu waktu.”
“Telah dibuka lapangan parkir baru. Gratis. Di seputar Bundaran HI.”
“Lowongan kerja: dicari sopir yang bisa menjalankan kendaraan 1 km/jam ++. +sabar, +humoris, biar gak bete di jalan.”
Bahkan,” Pak SBY kalau mau lewat cepetan dong, kami sudah menunggu lama lho di Cibubur... :)
           
            Sudah bisakah kita simpulkan, bahwa masyarakat sudah melewati ambang emosi wajarnya menghadapi kemacetan ini? Hampir tak ada lagi sumpah serapah, semua tampaknya pasrah. Masih untung, ada telepon pintar di tangan. Asal tidak habis batere, kejengkelan bisa disalurkan.

            Saya tidak menghitung dan mencari tahu, tetapi cukup yakin, bahwa aktivitas media sosial di Indonesia menempati ranking tinggi di antara banyak negara lain. Salah satu penyebabnya adalah, banyak orang yang mempunyai banyak waktu untuk bersosialisi. Tidak hanya yang menyampaikan kemacetan dengan cara masing-masing, tetapi juga yang mengisi masa tunggu itu untuk menyampaikan ide-idenya. Apapun. Apalagi untuk orang-orang yang jenis pekerjaannya lebih membutuhkan hasil karya daripada kehadiran. Jam kerja bisa dimulai sejak keluar rumah, bukan saat tiba di kantor. Kirim-kirim e-mail, sms, bbm, telepon, dan lain-lain. Macet pun tak terlihat :)

            Jadi, begitulah. Kesan pembiaran dari pihak berwenang, memunculkan tanya: Presiden dan jajarannya tahu tidak ya bahwa “ada” kemacetan? Kan kemanapun beliau pergi, jalan dikosongkan, mobilnya melaju dengan lancar jaya...

NB: Kutipan berasal dari status BB, FB, maupun Twitter beberapa kawan. Semoga tak digugat karena saya lupa sebagian namanya. .

Selasa, 11 Desember 2012

THE CASUAL VACANCY


Perebutan Kursi Kosong


Penulis : J.K. Rowling
Penerjemah: Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, dan Rini Nurul Badariah
Penerbit edisi bahasa Indonesia: Qanita
Cetakan pertama: 2012 (asli dan terjemahan)
Katagori: NOVEL DEWASA

            Pertama-tama, saya ingin menekankan posisi novel ini sebagai novel dewasa. Karena nama J.K. Rowling telanjur identik dengan kisah Harry Potter, novel anak-anak yang fenomenal. Selama 11 tahun, 1997 – 2007, Rowling menuliskan ke-7 bukunya. Gemanya berlanjut jauh setelah itu karena novel-novel ini kemudian difilmkan. Jangan sampai orang tua terjebak menghadiahkan novel ini untuk anak-anak maupun remajanya.



            Saya suka pembukaan novel ini. Langsung ke tujuan. Peristiwa kematian seorang anggota Dewan Kota cemerlang pada usia awal 40-an, Barry Fairbrother. 
Kemudian berhamburan banyak nama dalam 64 halaman pertama. Saya membaca lambat disini, karena sambil membuat catatan ringkas. Catatan yang sangat menolong saat membaca bagian-bagian berikutnya. Nama-nama, hubungan satu sama lain, profesi, alamat rumah, dan posisi rumah mereka di Pagford, sebuah kota kecil di dekat kota Yarvil, Inggris.
Tebaran nama ini menarik untuk saya, karena secara teori, sebuah novel sebaiknya tidak melibatkan terlalu banyak tokoh utama. Rowling dengan sengaja menampilkan tokoh sebanyak itu. Ditumpahkan di bagian awal semua pula. Saya merasa, ini akan istimewa. Membuat saya tak berhenti membaca, ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Beberapa bab berikutnya, membuat saya paham mengapa nama sebanyak itu disebut. Rupanya kematian Barry memang informasi “seksi”. Ada kursi kosong di Dewan Kota. Dan sungguh tak terduga ternyata banyak yang merasa layak menggantikan Barry dan lebih banyak lagi yang merasa berkepentingan dengan urusan pemilihan ini. 
Sampai sini, inti kisah rasanya sudah saya genggam. Tapi mengapa halaman yang tersisa masih banyak? Perkembangan cerita sungguh di luar dugaan. Interaksi antara para tokoh, membuat ingin menyelesaikan novel ini dalam satu kali duduk. Masalahnya, buku ini tak sekedar berukuran besar, tapi juga tebal :( .
Saya membeli Kamis malam. Dan Senin malam tamat. Ketika saya menyampaikan terima kasih kepada suami dan anak karena mengizinkan saya memantau pilkada di Pagford sampai usai :), anak saya nyeletuk “Iya, mamah hari ini nyebelin.” Hihi... maaf ya, Nak. Tulisan ini sebagai wujud tanggung jawab saya atas ketidakpedulian kepada lingkungan selama beberapa hari, khususnya hari Senin ini. Saya memaksakan diri menuntaskannya, agar besok bisa melakukan urusan lain.
Selama terlibat kisah seru di Pagford, saya hanya mengikuti berita nasional dari judul-judulnya saja. Entah mengapa, pengunduran diri Andi Mallarangeng sebagai Menpora, membuat saya menganalogikannya dengan peristiwa kematian Barry.
Rowling berhasil mengajak saya ke Pagford, menikmati suasana sebuah kota kecil yang asri khas Inggris. Saya seperti sedang duduk-duduk di alun-alun di dekat tukang koran, dan mendengarkan gosip tentang orang-orang yang tinggal di sana. Penduduk asli yang aristokrat, sangat menjaga sikap. Warga pendatang yang membawa aura egaliter. Remaja-remaja yang sedang mencoba eksis. Termasuk juga para penghuni flat di Fields, yang awalnya merupakan penampungan para tuna wisma Yarvil, orang-orang yang hidupnya ditunjang negara.
Saya sangat suka penggambaran bahwa Pagford dipenuhi rumah-rumah lama. Rumah-rumah khas, dengan usia tua. Mereka memelihara keaslian itu. Rumah-rumah itu dijualbelikan, tetapi bangunannya tidak diusik. Salah satu contoh, Barry kecil tinggal di Fields dan pernah menghadiri sebuah pesta ulang tahun di sebuah rumah berhalaman luas di Pagford. Kelak, rumah itu dibeli Barry, dan dia tinggali sampai wafatnya.
Suasananya Inggris banget. Seperti gambaran yang saya dapatkan dari Edensor-nya Andrea Hirata, ataupun jauh sebelumnya dari kisah-kisah yang ditulis Enid Blyton. Saya belum pernah ke Inggris, dan di buku Atlas yang saya punya, Yarvil tidak tercatat. Saya pun bertanya kepada paman Google, apakah Yarvil ini nama kota yang benar-benar ada atau karangan Rowling saja. Ada banyak hasil yang saya dapat. Tetapi, sampai 10 halaman pertama, saya belum menemukan jawabannya. Karena, beberapa menunjukkan Yarvil yang nama orang, dan sisanya: Yarvil benar sebagai kota besar terdekat dari Pagford...dalam The Casual Vacancy! Saya tidak melanjutkan pencarian. Jadi, tak peduli apakah ini fiktif atau nyata, biarlah Pagford dan Yarvil terbayang seperti yang saat ini ada di benak saya saja.
Penggambaran karakter para tokoh juga sangat hidup dan manusiawi. Semua sempurna sebagai manusia, karena mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Salut pada riset dan persiapan menulisnya. Data yang lengkap dan biodata tokoh yang detil, sehingga seolah-olah semua riil.   
Sesuai pakem, tokoh dalam kisah fiksi itu mengalami perubahan. Apapun bentuknya. Di novel ini, semua berubah. Paling jelas, dari penduduk biasa, menjadi anggota Dewan Kota, menggantikan posisi Barry. ini hanya pada satu orang saja. Yang lainnya, macam-macam. Dari sehat ke sakit, dari sibuk ke banyak waktu luang, dari iseng ke bertanggung jawab, bahkan dari hidup ke mati. Tak hanya yang kasat mata. Ada juga yang berubah di penilaian pembaca terhadap si tokoh. 
Untuk saya yang mempunyai anak menjelang remaja, novel ini pun memberi peringatan. Jangan terlalu tinggi menilai anak, jangan pula terlalu merendahkan. Kita harus hati-hati bersikap, agar anak dapat kita “baca” dengan benar.
Begitu halaman 593 usai terbaca, saya agak kecewa. Begini saja akhirnya? Tetapi, setelah 24 jam berlalu, saya lebih adil mencerna. Banyak “Ooh...” atas penggalan kisah dan penyelesaiannya. Bahkan “Ooh...” atas apa yang ingin disampaikan Rowling kepada kita, pembacanya. Salut.

            Saya tidak bisa bercerita lebih detil daripada ini. Takut mengganggu selera-makan-buku teman-teman :).