Selasa, 11 Desember 2012

THE CASUAL VACANCY


Perebutan Kursi Kosong


Penulis : J.K. Rowling
Penerjemah: Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, dan Rini Nurul Badariah
Penerbit edisi bahasa Indonesia: Qanita
Cetakan pertama: 2012 (asli dan terjemahan)
Katagori: NOVEL DEWASA

            Pertama-tama, saya ingin menekankan posisi novel ini sebagai novel dewasa. Karena nama J.K. Rowling telanjur identik dengan kisah Harry Potter, novel anak-anak yang fenomenal. Selama 11 tahun, 1997 – 2007, Rowling menuliskan ke-7 bukunya. Gemanya berlanjut jauh setelah itu karena novel-novel ini kemudian difilmkan. Jangan sampai orang tua terjebak menghadiahkan novel ini untuk anak-anak maupun remajanya.



            Saya suka pembukaan novel ini. Langsung ke tujuan. Peristiwa kematian seorang anggota Dewan Kota cemerlang pada usia awal 40-an, Barry Fairbrother. 
Kemudian berhamburan banyak nama dalam 64 halaman pertama. Saya membaca lambat disini, karena sambil membuat catatan ringkas. Catatan yang sangat menolong saat membaca bagian-bagian berikutnya. Nama-nama, hubungan satu sama lain, profesi, alamat rumah, dan posisi rumah mereka di Pagford, sebuah kota kecil di dekat kota Yarvil, Inggris.
Tebaran nama ini menarik untuk saya, karena secara teori, sebuah novel sebaiknya tidak melibatkan terlalu banyak tokoh utama. Rowling dengan sengaja menampilkan tokoh sebanyak itu. Ditumpahkan di bagian awal semua pula. Saya merasa, ini akan istimewa. Membuat saya tak berhenti membaca, ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Beberapa bab berikutnya, membuat saya paham mengapa nama sebanyak itu disebut. Rupanya kematian Barry memang informasi “seksi”. Ada kursi kosong di Dewan Kota. Dan sungguh tak terduga ternyata banyak yang merasa layak menggantikan Barry dan lebih banyak lagi yang merasa berkepentingan dengan urusan pemilihan ini. 
Sampai sini, inti kisah rasanya sudah saya genggam. Tapi mengapa halaman yang tersisa masih banyak? Perkembangan cerita sungguh di luar dugaan. Interaksi antara para tokoh, membuat ingin menyelesaikan novel ini dalam satu kali duduk. Masalahnya, buku ini tak sekedar berukuran besar, tapi juga tebal :( .
Saya membeli Kamis malam. Dan Senin malam tamat. Ketika saya menyampaikan terima kasih kepada suami dan anak karena mengizinkan saya memantau pilkada di Pagford sampai usai :), anak saya nyeletuk “Iya, mamah hari ini nyebelin.” Hihi... maaf ya, Nak. Tulisan ini sebagai wujud tanggung jawab saya atas ketidakpedulian kepada lingkungan selama beberapa hari, khususnya hari Senin ini. Saya memaksakan diri menuntaskannya, agar besok bisa melakukan urusan lain.
Selama terlibat kisah seru di Pagford, saya hanya mengikuti berita nasional dari judul-judulnya saja. Entah mengapa, pengunduran diri Andi Mallarangeng sebagai Menpora, membuat saya menganalogikannya dengan peristiwa kematian Barry.
Rowling berhasil mengajak saya ke Pagford, menikmati suasana sebuah kota kecil yang asri khas Inggris. Saya seperti sedang duduk-duduk di alun-alun di dekat tukang koran, dan mendengarkan gosip tentang orang-orang yang tinggal di sana. Penduduk asli yang aristokrat, sangat menjaga sikap. Warga pendatang yang membawa aura egaliter. Remaja-remaja yang sedang mencoba eksis. Termasuk juga para penghuni flat di Fields, yang awalnya merupakan penampungan para tuna wisma Yarvil, orang-orang yang hidupnya ditunjang negara.
Saya sangat suka penggambaran bahwa Pagford dipenuhi rumah-rumah lama. Rumah-rumah khas, dengan usia tua. Mereka memelihara keaslian itu. Rumah-rumah itu dijualbelikan, tetapi bangunannya tidak diusik. Salah satu contoh, Barry kecil tinggal di Fields dan pernah menghadiri sebuah pesta ulang tahun di sebuah rumah berhalaman luas di Pagford. Kelak, rumah itu dibeli Barry, dan dia tinggali sampai wafatnya.
Suasananya Inggris banget. Seperti gambaran yang saya dapatkan dari Edensor-nya Andrea Hirata, ataupun jauh sebelumnya dari kisah-kisah yang ditulis Enid Blyton. Saya belum pernah ke Inggris, dan di buku Atlas yang saya punya, Yarvil tidak tercatat. Saya pun bertanya kepada paman Google, apakah Yarvil ini nama kota yang benar-benar ada atau karangan Rowling saja. Ada banyak hasil yang saya dapat. Tetapi, sampai 10 halaman pertama, saya belum menemukan jawabannya. Karena, beberapa menunjukkan Yarvil yang nama orang, dan sisanya: Yarvil benar sebagai kota besar terdekat dari Pagford...dalam The Casual Vacancy! Saya tidak melanjutkan pencarian. Jadi, tak peduli apakah ini fiktif atau nyata, biarlah Pagford dan Yarvil terbayang seperti yang saat ini ada di benak saya saja.
Penggambaran karakter para tokoh juga sangat hidup dan manusiawi. Semua sempurna sebagai manusia, karena mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Salut pada riset dan persiapan menulisnya. Data yang lengkap dan biodata tokoh yang detil, sehingga seolah-olah semua riil.   
Sesuai pakem, tokoh dalam kisah fiksi itu mengalami perubahan. Apapun bentuknya. Di novel ini, semua berubah. Paling jelas, dari penduduk biasa, menjadi anggota Dewan Kota, menggantikan posisi Barry. ini hanya pada satu orang saja. Yang lainnya, macam-macam. Dari sehat ke sakit, dari sibuk ke banyak waktu luang, dari iseng ke bertanggung jawab, bahkan dari hidup ke mati. Tak hanya yang kasat mata. Ada juga yang berubah di penilaian pembaca terhadap si tokoh. 
Untuk saya yang mempunyai anak menjelang remaja, novel ini pun memberi peringatan. Jangan terlalu tinggi menilai anak, jangan pula terlalu merendahkan. Kita harus hati-hati bersikap, agar anak dapat kita “baca” dengan benar.
Begitu halaman 593 usai terbaca, saya agak kecewa. Begini saja akhirnya? Tetapi, setelah 24 jam berlalu, saya lebih adil mencerna. Banyak “Ooh...” atas penggalan kisah dan penyelesaiannya. Bahkan “Ooh...” atas apa yang ingin disampaikan Rowling kepada kita, pembacanya. Salut.

            Saya tidak bisa bercerita lebih detil daripada ini. Takut mengganggu selera-makan-buku teman-teman :).

2 komentar:

  1. Review yang sangat bagus :)
    Yg pernah saya dengar, Pagford, Yarvil itu memang benar2 nama daerah baru yang diciptakan oleh Rowling. Luar biasa yah ^^

    BalasHapus