Rabu, 25 Januari 2012

MENJADI IBU SEIBU-IBUNYA

Judul Buku : Mother Bukan Monster
Penulis : Gol A Gong-Tias Tatanka, dan 15 penulis lain.
Penerbit : Glitzy, Kompas-Gramedia, 2011
Tebal 145 halaman.

Rabu, 25 Januari 2012 pagi. Ingin sekali gerak badan, jalan-jalan di taman kompleks, tetapi pemandangan di dalam rumah menuntut pengalihan rencana. Saya pun mencari keringat dari olah raga in door saja. Nyapu, ngepel, nyuci :)

Sambil menemani mesin cuci bekerja, saya menyambar Mother Bukan Monster dari lemari buku. Membaca kisah pertama, saya tersenyum dalam hati. Kok bisa pas. Mbak Tias ternyata menceritakan tentang mesin cucinya di salah satu bagian tulisan.

Urusan mencuci dan menyetrika memang keseruan tersendiri. Paling banyak menyita waktu dibandingkan urusan rumah yang lain. Mencuci bisa dilakukan secara massal, tetapi menyetrika harus satu demi satu. Saya senang menyetrika, tapi kadang terkendala waktu. Beruntung, saat ini jasa cuci atau setrika kiloan menjamur. Setidaknya saya punya alternatif ketika gunungan pakaian bersih sudah hampir meletus.

Kisah mesin cuci mbak Tias tidak berkaitan dengan waktu, tetapi berurusan dengan pembantu. Ini bukan masalah mbak Tias saja, karena saya sering mendengar dari teman-teman juga. Walaupun sudah diajari, sering kali pembantu tidak teliti. Selain mengaktifkan kedua fungsi bersamaan, kesalahan pembantu biasanya memasukkan terlalu banyak pakaian dan memutar balik timer untuk menghentikan mesin secara paksa.

Meminta pembantu mencuci manual pun berpeluang memunculkan masalah lain. Seperti yang dialami Triani Retno di halaman 103-112. Pembantunya hanya memerlukan 50x50x15 cm kubik air untuk mencuci pakaian dia, suami, dan seember popok bekas ompol bayi. Terbayang kan tidak berfungsinya Pewangi merk apa pun? Kisah ini bertentangan dengan banyak pengalaman tetangga. Keluhan mereka biasanya berkenaan dengan borosnya air dan sabun jika ada pembantu.

Di bagian lain, Nunik Utami menceritakan kisah yang berbeda. Dia mendapatkan maidpreneur, pembantu yang berjiwa pengusaha :). Sang pembantu mengoptimalkan rumah majikan tidak sebagai tempat kerja saja, tetapi juga sebagai pusat sosialisasi dan bisnis sampingan. Dia mengundang teman-teman dan saudaranya untuk bersenda gurau dan menonton TV. Dia juga mempersilakan mereka mandi dan mencuci pakaian dengan imbalan rupiah. Uang jasa ini untuknya, padahal listrik, air, dan sabun kan milik sang majikan.



Mbak Tias menceritakan juga tentang simfoni pagi di rumahnya. Ada nada bisik dari keyboard laptop Mas Gong, ada dengkur anak yang serupa bass menanti saat berperan, dan tentu ada sang komposer merangkap dirigen merangkap lain-lain, mbak Tias sendiri. Menyiapkan sarapan, mendidihkan air, membangunkan anak, memandikan si bungsu, dan membacakan koran untuk berita pagi kepada suami.

Membangunkan anak adalah seni tersendiri. Menemani mereka mengumpulkan nyawa di pagi hari adalah perjuangan sesungguhnya seorang ibu....terhadap kesabaran. Bahkan seorang mbak Tias pun, yang saya kenal sebagai putri Solo berwajah lembut dan selalu memancarkan keteduhan, bisa bertanduk dan taringnya memanjang :). Sungguh saya terhibur membaca bagian ini. Karena...ternyata saya punya teman seperjuangan...

Jadi teringat kisah beberapa teman. Ada yang disebut "mengonggong" oleh suaminya, ada juga yang disindir dengan pertanyaan, "Kok, serasa di terminal bis, ya?", atas kehebohan yang diciptakan seorang ibu di pagi hari. Saya sangat bisa memaklumi karena saya mengalami. Berbagai cara, trik, taktik, dan apa pun namanya, pernah saya coba. Volume terendah sampai maksimal pernah didengungkan. Main tangan dengan berbagai variasi juga sudah diterapkan. Mulai diusap-usap, dikelitiki, dipeluk, sampai dikepret (diperciki air dengan cara mengibaskan tangan basah kita).

Sampai saya mendapat kesimpulan, ini bukan tentang anak yang malas atau membangkang. Tetapi tentang nyawa yang belum terhubung. Anak masih setengah mimpi. Karena, begitu dia sadar penuh, biasanya setelah mandi, dia akan menjadi anak yang sangat manis dan ceria. Bahkan, jika dia menjadi tergesa-gesa menyiapkan diri karena sudah hampir terlambat, seringkali berkata, "Kok Mamah gak membangunkan aku dari pagi sih?" Hallooo, memangnya apa yang Mamah lakukan dari subuh tadi kepadamu?

Hubungan ibu dengan anak dibahas pada bagian pertama buku ini. Berbagai peristiwa bisa memunculkan momster di rumah maupun di tempat umum. Pada banyak kasus, perpanjangan cakar seorang ibu biasanya merupakan kombinasi berbagai variabel, bukan akumulasi kesalahan anak. Perbuatan yang sehari-hari kita anggap biasa, bahkan lucu, tiba-tiba bisa menjadi petaka dan mengubah kepala menjadi perebus telur. Mungkin saat itu sang ibu sedang lelah, panik, atau menjelang menstruasi.

Dalam kondisi demikian, seorang ibu tidak butuh nasihat atau brosur seminar pendidikan anak. Dia hanya minta dimengerti. Empati dari orang terdekat. Seperti saat Indah IP (halaman 12-20) refleks berteriak kepada Kira ( 5 tahun) yang berlari mendekati eskalator. Indah panik karena jarak mereka terlalu jauh. Jika Kira iseng menyentuh eskalator, Indah tak akan sempat menyelamatkannya. Kepanikan ini yang menyebabkannya berteriak marah. Kira terbelalak kaget, Indah pun menyesal. Melihat ini, sang suami segera meraih Zyla, saudara kembar Kira, dan menjauh. Indah tak perlu ditegur karena berteriak. Sikap suami yang memberi ruang bagi dia dan Kira untuk menetralkan suasana, sangat patut diapresiasi.

Dan, yang paling melambungkan perasaan seorang ibu adalah jika empati tersebut justru datang dari anak yang menjadi pemicu kemarahan. Ini dialami Anisa Widiyarti (halaman 3-11). Ihsan (2 tahun 7 bulan) dengan polosnya bertanya "Ibu kenapa?" saat sang ibu tiba-tiba menjadi Karate-Moms dengan mematahkan sapu usai disuguhi karya seni alami di ruang tamunya. Tebaran pup Ihsan.

Marah pada anak bukan dosa. Itu manusiawi. Apalagi jika setelahnya kita meminta maaf kepada anak sambil menjelaskan sebabnya. Kita hanya perlu melihat lingkungan. Kapan dan bagaimana menegur anak. Sedapat mungkin tidak di depan umum. Tempat favorit saya untuk menegur anak adalah di dalam mobil. Just the 2 of us. Bisa dengan banyak kata, atau justru dengan diam yang panjang. Setelahnya, kami biasa melakukan "cantel", saling mengaitkan kelingking kanan, tanda perdamaian. Berlanjut dengan senyuman, pelukan, dan penjelasan.

Penghargaan Nobel yang saya raih untuk ini adalah ungkapan anak di usianya yang ke-10. "Aku bersyukur punya Mamah yang jujur. Aku ditegur kalau salah, tetapi aku dipuji kalau baik. Mamah gak pernah pura-pura baik kalau memang tidak suka."



Di atas semua permasalahan dengan anak dan pembantu, tantangan seorang ibu paling utama adalah menghadapi si anak sulung, suami. Menghadapi anak sangat mudah karena bagaimanapun pernah ada placenta yang mengikat kita. Menghadapi pembantu lebih mudah lagi, karena mereka tak ada hubungan keluarga. Jika kesalahannya ekstrim, kita tinggal mengambil langkah ekstrim juga, pecat. Menghadapi suami, ini yang unik.

Suami adalah laki-laki dewasa yang "tiba-tiba" harus kita patuhi seumur hidup. Laki-laki baik, tampan, saleh yang membuat kita menjawab "Ya" saat dilamar itu, mengenalkan kita pada dengkur, sarung, dan sepak bola :) . Dan, padanya terletak pintu surga kita.

Luar biasanya tantangan berumah tangga membuat saya sempat "menganalisis hadits". Semua tentu pernah mendengar ungkapan "menikah adalah setengah ibadah". Saya tidak paham asal usul dan sahih tidaknya hadits ini. Tetapi saya memaklumi mengapa bisa ada ungkapan seperti itu.

Ada 5 kisah dalam buku ini, dan sebagian besar pernah saya alami juga dengan koefisien yang berbeda. Menulis surat (Jazimah Al Muhyi) untuk mengungkapkan perasaan, makan hati karena sepak bola (Aney Maysarah), dan jadwal liburan yang terganggu (Nunung Yuni Anggraeni). Bahkan bagi Dewi Ulfah, keramahan suami juga bisa memicu cemburu.

Proses memahami pasangan adalah proyek berkelanjutan. Saya belum bisa mengatakan kami berhasil, karena kami belum sampai ke tujuan. Selalu ada yang harus direvisi, ditambalsulamkan, dan direnovasi dari hubungan ini. Masih akan ada kerikil maupun batu besar di depan sana. Tetapi, memayungi semuanya, adalah kebahagiaan. Rasa syukur yang banyak, atas keberadaan pasangan hidup.

Membaca buku Mother bukan Monster membuat saya lega. Jejak hidup saya, serupa dengan tapak banyak orang. Menjadi ibu seibu-ibunya, menjadi sebenar-benarnya ibu.

Minggu, 22 Januari 2012

TROTOAR

Kami sedang menginap di sebuah hotel di Jalan Sudirman, jalan utama di kota Serang. Serang adalah ibukota propinsi Banten, propinsi yang "nempel" ke ibukota negara.

Hari Minggu pagi, 22 Januari 2012, kami jalan pagi. Di seberang hotel ada stadion yang berdampingan dengan Taman Makam Pahlawan. Kami pun menuju ke sana. Banyak warga masyarakat yang melakukan aktivitas serupa. Mengelilingi stadion. Ada yang berjalan, berlari, bersepatu roda, ataupun bersepeda.

Menjadi menarik karena semua melakukan olah raga di luar stadion olahraga. Bukan di dalam. Semua akses menuju bagian dalam stadion terkunci. Rumput dan beragam tanaman tumbuh subur di sekelilingnya, secara liar. Mungkin ini stadion yang sudah tidak dipakai, karena katanya ada stadion olah raga yang baru di tempat lain.

Setelah menuntaskan satu putaran, kami memutuskan berganti jalur, berharap menemukan pemandangan yang lebih menyehatkan mata. Kami pun kembali ke jalan utama tempat kantor-kantor pemerintah, lembaga besar, dan perusahaan-perusahaan kelas atas berada. Kami berencana menyusuri jalan Sudirman ini sampai ke pusat hiburan rakyat di hari libur. Alun-alun.

Trotoar pun menjadi jogging-track kami. Saya, suami, dan anak sangat menikmati kesempatan jalan santai bersama kali ini. Kondisi yang sangat jarang terjadi. Kami bisa jalan dengan rileks karena tidak ada acara apa-apa lagi selain libur. Tidak diburu waktu.

Setelah berjalan beberapa meter, sebagian indera saya terganggu. Pemandangan seperti di luar stadion tadi tampak pula di sini, rerumputan. Bahkan sekarang ada bonusnya, got di samping trotoar yang diisi genangan air hitam dengan topping sampah dan essens khasnya. Sebagian pavingblock pun melatih kejelian langkah.

Agar kebahagiaan hati tetap terjaga, saya terpaksa melanggar aturan dan menantang bahaya, berjalan di jalan raya. Beruntung kami berada di kanan jalan sehingga bisa waspada terhadap kendaraan dari depan.

Singkat cerita, kami kembali ke hotel naik angkot masih dengan emosi terjaga. Gembira. Berkeringat, tetapi senang. Kami langsung sarapan. Setelah beristirahat, sekitar pukul 11.00 anak berenang, saya dan suami menemani di tepi kolam. Kebahagiaan kami berlanjut menyaksikan anak bermain air dengan sangat lepas. Berganti-ganti gaya, menari di dalam air, bahkan mengambang tanpa beban. Free.

Sungguh, kami tak menyangka. Ketika kami di puncak kenikmatan libur panjang ini, pada jam yang sama, kebahagiaan keluarga lain direnggut tiba-tiba di trotoar yang berbeda. Padahal, trotoar yang mereka injak sangat terpelihara. Mereka tertib, tidak seperti kami yang terpaksa menantang maut. Mereka sedang menuju pusat hiburan rakyat ibukota di hari libur. Monas.

Selasa, 17 Januari 2012

DISIPLIN

Tahun baru, semangat baru

Jelang akhir tahun lalu, seperti banyak orang, saya mencoba membuat evaluasi tahun berjalan, dan merancang rencana untuk tahun yang akan datang.

Dari berbagai hal, saya menyimpulkan, tidak banyak yang perlu saya lakukan di tahun 2012. Hanya satu hal saja. Disiplin. Disiplin atas target yang sudah ditulis. Disiplin atas tujuan utama. Disiplin atas pemanfaatan waktu.

Tidak muluk mimpi saya di tahun ini. Meningkatkan nilai kedisiplinan diri. Itu saja.

Senin, 31 Oktober 2011

Semua Orang Tua Sukses

Mendidik anak itu unik.

Tidak ada kursusnya, tetapi kita diharapkan terampil.
Tidak ada sekolahnya, tetapi ada kurikulum dengan mata pelajaran yang sangat banyak dengan nilai KKM masing-masing.
Tidak ada ujian nasionalnya, tetapi setiap orang tua harus lulus tanpa ada kesempatan remedial.

Kabar baiknya, semua orang tua berhasil.

Benarkah tidak ada orang tua yang gagal? Ya.

Karena, setiap orang tua mempunyai keleluasaan yang luar biasa untuk menggunakan kurikulum yang mereka rancang sendiri. Setiap orang mempunyai latar belakang, standar nilai, prioritas, dan jenis aplikasinya sendiri. Ketika dua orang yang unik ini bergabung dalam satu rumah tangga, ada kompromi dan pengejawantahan baru atas penerapan cara hidup ini. Ini pun tidak bisa diterapkan sama kepada setiap anak, karena setiap anak unik. Mempunyai ciri khas dan kehidupannya sendiri. Satu aturan atau nilai yang sama dari orang tua akan disikapi dengan cara maupun kadar yang tidak sama oleh setiap anaknya.

Tetapi buktinya ada anak yang gagal hidup...

Benarkah dia gagal hidup?
Siapa yang mengatakan?

Jika orang lain yang mengatakan, apa hak dia?
Sejauh mana pengetahuan dia tentang anak ini?
Terhadap apa dia sandarkan standar nilai untuk sampai ke kesimpulan?
Jika pembandingnya adalah nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang dia anut, apakah itu "fair"? Karena anak ini dibesarkan tidak dengan koefisien variabel yang sama dengan si penilai.

Jika orangtua si anak yang mengatakan, benarkah dia sudah menilai secara menyeluruh?
Bahwa, setiap langkah yang kita lakukan itu menjadi "sebab". Konsekuensi logis dari suatu sebab, adalah adanya "akibat". Apakah si orang tua sudah memperhitungkan SEMUA kemungkinan sebab-akibat dari kombinasi semua langkah yang telah dilakukannya selama ini?

Selain itu, pertanyaan "kapan penilaian itu dilakukan?" juga memberi andil.
Membesarkan anak adalah "timeless".

Andai hanya ada 5 variabel saja yang dilihat. Membandingkan 5 orang anak berusia 5 tahun dengan menggunakan ke-5 variabel ini sangat tidak adil. Karena sangat mungkin terjadi setiap anak berkembang dominan pada 5 variabel yang berbeda, dan urutan perkembangan yang berbeda.

Misalkan A berkembang dominan dalam hal kemandirian, B dalam hal kejujuran, C dalam hal kepedulian sosial, D dalam hal cinta lingkungan, dan E dalam religiusitas. Demikian pula urutan waktu perkembangan dan pencapaian anak untuk setiap hal yang dinilai. A mandiri, cukup jujur, agak peduli teman, mulai rajin berdoa, tetapi belum peduli kebersihan lingkungan. Yang lain akan mempunyai kondisi yang berbeda.

Orang tua A mungkin memang lebih memberi lingkungan yang merangsang anak mandiri, sedangkan orang tua E menekankan ibadah didahulukan atas apa pun. Definisi dan standar tuntutan setiap orang tua pun belum tentu sama. Ada yang lebih mengutamakan anak disiplin shalat sejak kecil, ada yang lebih menekankan rasa ingat pada Tuhan. Masing-masing punya alasan. Yang pertama meyakini anak harus dibiasakan melakukan ibadah ritual dari kecil, agar saat dewasa tidak merasa beban. Orang tua yang kedua lebih yakin bahwa jika anak selalu ingat Tuhan, pada saatnya akan menggerakkan diri sendiri untuk melaksanakan semua ritual dengan ikhlas dan sebagai kebutuhan, bukan keharusan.

Tuh kan, sudah terlihat banyak perbedaannya... Padahal ini baru dari 5 kategori, dengan standar penilaian sederhana.
Sementara, jumlah mata pelajaran hidup yang harus dikuasai anak sebenarnya jauh lebih banyak lagi variabelnya. Bayangkan akan semakin kompleks jika kita hitung kemungkinan atas perbedaan nilai koefisien dari setiap variabel tersebut. Belum lagi kalau kita tambahkan variabel waktu.

Jadi, tak perlulah kita memusingkan diri dengan mencari dan menghitung ada koefisien apa saja dan bagaimana koefisien setiap variabel tersebut yang dapat menilai dan menghasilkan anak-anak sukses.

Cukup kita kaji apa yang kita punya, apa yang kita yakini, apa yang kita inginkan, dan apa yang telah dan ingin kita lakukan, terhadap anak-anak kita. Semua. Lengkap. Kita akan tahu, hal itu akan mengarah kepada terwujudnya apa yang kita harapkan.

Jika ternyata berbeda, kita bukan gagal, tetapi kita kaji kembali. Mungkin ada beberapa faktor yang luput dari perhitungan menyeluruh tadi. Biasanya, faktor sebab akibat dari kombinasi segala hal tadi yang lupa kita perhitungkan.

Menghalalkan Segala Cara

Idiom yang sering kita dengar, menghalalkan segala cara. Biasanya ini dikaitkan dengan politisi. Mungkin karena masyarakat sering mendengar kabar tentang kelakuan para politisi tersebut. Padahal, menghalalkan segala cara bisa juga dilakukan oleh pejabat di berbagai tingkatan, perusahaan swasta, atau bahkan perorangan.

Tetapi, benarkah demikian? Belum tentu.

Belum tentu mereka benar-benar melakukan penghalalan segala cara tersebut. Bukankah yang dijadikan landasan julukan ini adalah kabar yang sampai kepada masyarakat. Kabar ini bisa nyata bisa juga hasil rekayasa. Bisa juga karena kekuranglengkapan pewarta menyampaikan berita. Bahkan bisa juga karena pesanan pihak lain yang berkepentingan.

Belum tentu juga karena dimaksudkan begitu. Seorang politisi melakukan perbuatan yang dinilai masyarakat tidak benar, tetapi dia membela diri mengatakan itu benar. Peristiwa ini mungkin terjadi karena kabar yang sampai kepada khalayak tidak utuh. Pemenggalan informasi secara kurang tepat bisa memberikan arti yang berbeda.

Belum tentu juga karena pelaku berniat menghalalkan cara apa pun untuk mencapai tujuannya. Ini yang paling banyak terjadi. Bukti paling nyata dari kondisi ini adalah sering terjadi dua berita yang berlawanan, tetapi kedua terberita menganggap dirinya pihak yang benar. Sementara rakyat secara umum melihat memang ada kesalahan tata cara dari masing-masing pihak.

Dari kemungkinan terakhir, tiba-tiba terpikir... Jangan-jangan, memang mereka tidak menghalalkan segala cara... Tetapi, mereka menganggap segala cara itu halal!

Terasa kan bedanya? Menghalalkan segala cara, artinya si pelaku mengetahui bahwa apa yang dilakukannya tidak halal, tetapi dia menganggap, mengesankan, atau memperlakukan seolah-olah cara itu halal.

Sedangkan, menganggap segala cara itu halal, mempunyai arti yang berbeda jauh. Di sini, pelaku memang tidak tahu menahu apakah yang dilakukannya halal atau tidak. Jika ini yang terjadi, kita tidak lagi akan kesal kepada pelaku. Malah akan muncul rasa kasihan, karena mereka tidak paham tentang apa yang mereka lakukan.

Kamis, 27 Oktober 2011

Cerpen: GELISAH DIAH


“Tidak!” seru Diah tertahan. Kepala lima orang lelaki di ruang tamu itu serentak bergerak. Menoleh ke arahnya. Sementara, langkah Diah malah terhenti. Permukaan air teh di lima cangkir bening itu bergelombang. Imbas dari getaran kedua tangan Diah yang memegang nampan. Mewakili gemuruh yang tiba-tiba runtuh di hatinya.
”Kenapa, Say?” Kata salah seorang dari kelima lelaki itu. Mas Hadi. Suaminya.
”Saya tidak setuju.”
”Apa yang dikau tidak setujui?”
”Pencalonan itu.”
”Mengapa, Bu?” suara salah seorang tamu suaminya. Suara yang sama dengan yang tadi didengarnya, selangkah sebelum memasuki ruang tamu. Suara yang mengatakan ’Partai-partai kami sepakat untuk mengusung Pak Hadi sebagai calon Walikota Cirebon pada pilkada awal tahun depan.’
Hadi pun berdiri. Berjalan ke arahnya. Mengambil nampan yang sedang bergetar di tangan Diah. Sesaat mata mereka bertatapan. Hanya sekejap, tapi Diah tahu, kekhawatirannya berlebihan. Kerlip mata itu, yang sudah dikenal dan dipujanya selama 15 tahun, berkata banyak. ’Tenang saja, Say. Aku tidak macam-macam.’
”Maaf kalau saya mengganggu pembicaraan Bapak-bapak. Permisi, saya akan meneruskan pekerjaan saya,” kata Diah. Dia pun meninggalkan ruang tamu.
Sayup terdengar suara Mas Hadi menyilakan para tamu untuk meminum air teh yang baru saja dihidangkan.
==========
Dan, mulailah hari-hari itu. Silih berganti telepon, sms, dan kunjungan tamu-tamu yang menggunakan jaket berbeda-beda warna. Belakangan, bahkan ditambah dengan kunjungan para pedagang atau wirausahawan yang selama ini memang sering berkunjung. Hanya saja, kali ini yang dibicarakan berbeda.
Tidak terdengar orang-orang yang bertanya kiat sukses jadi pengusaha, atau meminta bantuan modal. Suara yang terdengar sayup dari dalam rumah semua tentang satu hal. Membujuk Mas Hadi agar berkenan menjadi bakal calon Walikota Cirebon 2009-2014.
Sampai saat ini, Diah masih memegang kata-kata suaminya yang diucapkan pada malam itu, setelah kelima orang tamu Mas Hadi pulang.
”Tenang saja, Say, aku bilang belum bisa memutuskan.”
”Kok belum, sih. Bilang saja, tidak mau.”
”Kan tidak bisa begitu. Kita harus tetap menghargai pendapat orang lain. Apa yang sebenarnya mereka harapkan. Apa alasan mereka berpikir begitu. Kita hanya bisa memberi alternatif pemikiran lain yang mungkin.”
”Tapi... Kalau dikau tidak eksplisit menolak, mereka akan merasa ada peluang dikau berkenan. Mereka akan terus berusaha meyakinkan dikau. Itu kan buang-buang waktu mereka dan waktu dikau juga.”
”Insya Allah tidak begitu. Aku tetap yakin, kalau kita berpegang pada kata hati, sikap dan ucap kita akan selaras. Sehingga, esensi yang kita sampaikan akan tertangkap dengan jelas oleh kata hati mereka. Kita malah punya teman baru lho.”
”Pokoknya, aku sama sekali tidak setuju dengan usulan itu.”
”Memangnya, dikau tidak ingin jadi ibu walikota, Say?” Mas Hadi mulai menggoda. ”Kan enak. Kakak ke sekolah bisa jalan kaki, jadi dikau tidak perlu mengkhawatirkan angkot ngebut lagi. Rumah dinasnya kan dekat SMPN 1. Dikau juga akan tambah sering masak enak, kan pasar Pagi dekat.”
”Iya juga, ya,” Diah meladeni pancingan suaminya. ”Tapi, nanti Pak Walikota masih mau diajak ngejamblang di trotoar gunungsari gak ya?”
”O itu toh alasan utama penolakan dikau,” Mas Hadi semakin menggoda. ”Pak Wali kan bisa menyuruh tim Kamtib menciduk pedagang yang berjualan di trotoar. Kalau mereka bertanya, memangnya kami salah apa, akan dijawab, Bu Wali sedang ingin makan nasi jamblang. Hehehe...”
”Iiih, ini yang orang-orang itu tidak tahu. Mereka akan menyesal mengusulkan dikau. Pak Jaya akan ke Cirebon, memberi anugerah Rekor Nasional untuk kategori Walikota paling jail se-Indonesia,” ujar Diah menutup percakapan mereka malam itu.
Diah sedang menyiapkan makan siang untuk kedua anaknya ketika bel berbunyi. Si Sulung yang baru saja pulang sekolah membukakan pintu.
”Mah, ada tamu.”
”Siapa?”
”Gak tahu. Rasanya Kakak baru lihat deh.”
”Ya sudah. Makasih. Kakak makan dulu saja ya.” Diah pun melangkah ke ruang tamu.
”Assalamu’alaikum, Bu,” sapa suara itu. Suara yang beberapa hari lalu mengucapkan hal yang paling tidak ingin didengar Diah.
”Wa’alaikum salam. O, Bapak. Maaf, Pak, suami saya sedang tidak ada.”
”Tidak apa-apa, Bu. Saya datang ke sini memang untuk menemui Ibu.”
”Menemui saya? Ada apa, Pak? Apa yang terjadi dengan suami saya?” Diah tiba-tiba khawatir.
”Oh, tidak apa-apa, Bu. Saya bahkan tidak tahu Bapak sekarang dimana. Saya hanya ingin ngobrol dengan Ibu.Mengganggu?” tanya tamu tersebut.
”Ini saat menemani anak makan siang sih, tapi tidak apa-apa. Silakan masuk.”
”Begini, Bu, saya ke sini mewakili teman-teman. Saya ... ,”
”Sebentar, Pak. Boleh saya tahu, Bapak siapa?”
”O iya, maaf, Bu. Saya Rudi. Kita baru kali kedua bertemu. Tapi, saya dan Pak Hadi sudah saling kenal sejak kecil. Kami sesekolah di SD dan SMA. Saya atas nama teman-teman ingin menyampaikan, betapa kami melihat Bapak sebagai sosok yang paling istimewa di Cirebon saat ini. Sangat menginspirasi generasi muda seperti kami. Dalam usia yang sama dengan kami, Bapak sudah berbuat sangat banyak untuk masyarakat.”
Diah diam mendengarkan. Dia belum bereaksi, walau dalam hati ada banyak kata yang ingin diungkapkan.
”Ibu tahu, langkah Bapak membina pedagang docang, memodali, dan membantu promosi, sangat luar biasa. Docang yang selama ini dipersepsikan makanan rakyat jelata, bahkan keberadaannya sudah mulai punah, dibangkitkan lagi oleh Bapak. Sekarang, tidak ada orang yang ke Cirebon tanpa mencicipi docang. Tidak ada warga Cirebon yang dalam seminggu tidak sarapan docang. Tidak lengkap wisata kuliner di Cirebon tanpa makan docang. Nasi jamblang yang semula primadona saja kalah pamor.”
”Tapi, pada saat yang sama, kaum marjinal pun merasa terangkat harga dirinya. Makanan yang semula dibeli karena terpaksa, karena tidak sanggup membeli jajanan yang lain, kini naik gengsi tanpa naik harga.”
”Bapak telah secara jenius mengubah imej. Atraksi menghancurkan kerupuk menggunakan siku tangan yang dulu dianggap jorok, kini malah menjadi atraksi yang merupakan daya tarik utama pedagang docang.”
Diah masih belum berkomentar. Tidak salah yang diungkap Pak Rudi. Tapi Diah tahu, awalnya, sama sekali tidak ada alasan kemanusiaan seperti itu. Docang adalah jajanan murah meriah favorit Mas Hadi sejak kecil.
Setiap pagi, dia mengantar ibunya berjualan di Pasar Kanoman. Setelah usai mengangkut barang dagangan, ibunya memberi upah sekedarnya. Dia pun biasanya segera berlari ke bagian belakang pasar, menuju tukang docang. Sarapan. Irisan ketupat yang ditaburi kelapa parut, cacahan daun singkong rebus, kerupuk yang digeprek menggunakan siku tangan si pedagang, kemudian disiram kuah panas berbumbu oncom tumbuk. Ditambah sambal, lengkap sudah pagi harinya. Pemuda kecil itu pun siap berlari lagi. Menuju sekolah.
Kembali ke Cirebon setelah 10 tahun merantau. Kuliah sambil bekerja. Yang dicari pertama kali, docang. Perlu waktu untuk menemukan penjual langganannya dulu. Mereka pindah lokasi karena setelah pasar direnovasi, mereka tidak sanggup membayar sewa di lokasi yang lama. Sempat berkeliling Cirebon mencari penjual docang lain. Dia hanya berhasil menemukan dua lagi. Di Pasar Drajat dan di Pasar Gunungsari.
Sangat kontras dengan penjual nasi jamblang yang bertebaran di banyak tempat di Cirebon saat itu. Bahkan, di foodcourt setiap mal, selalu ada gerai nasi jamblang. Jika di sekitar penjual nasi jamblang parkir berderet mobil-mobil mewah, maka pembeli docang adalah kelompok pinggiran. Hampir tidak ada yang memakai mobil. Ketika harga sebungkus kecil nasi jamblang Rp 1.000,- (padahal orang makan minimal 3 bungkus, belum lagi lauk pauknya), docang masih bisa dibeli dengan Rp 700,- seporsi. Lengkap.
”Selain itu, Bu,” terdengar Pak Rudi bicara lagi. Dengan agak tergagap Diah mengembalikan fokusnya ke tamu yang ada di hadapannya. ”Di tengah kesibukan Bapak mengembangkan bisnis batik cirebon, Bapak masih berkenan membantu mengembangkan usaha daur ulang. Membuat tas dari plastik bekas kemasan sabun. Pada saat bersamaan, Bapak mendekati para pengelola mal untuk menggunakan produk ini menggantikan tas plastik sekali pakai.”
”Semua orang tahu siapa sosok dibalik anugerah ”Kota Hijau” dari Green Community yang diterima Cirebon tahun lalu. Semua berawal dari lomba antar mal dan pasar swalayan dalam mereduksi penggunaan tas plastik sekali pakai yang digagas Bapak. Beberapa tahun terakhir, berbagai hadiah bagi pengunjung yang membawa tas sendiri jika berbelanja, terutama yang membawa tas daur ulang dengan merk supermarket yang sama, bertebaran. Semakin hari semakin kreatif. Dan, kini, pola seperti itu mulai ditiru supermarket-supermarket di kota lain. Luar biasa!”
”Terima kasih, Pak, atas segala yang Bapak sampaikan,” Diah akhirnya bersuara. ”Sesungguhnya, tidak ada yang istimewa dari semuanya. Itu kan kerja keras, kesadaran dan kerja sama semua pihak. Siapalah suami saya. Maaf, Pak, kalau saya boleh tanya, apa maksud Bapak dengan menceritakan semua ini?” Diah mencoba bertanya, walau dalam hatinya dia sudah menduga arah segala puja-puji ini.
”Ini dia,” kata Pak Rudi dengan semangat, ”Dengan segala sepak terjang Bapak, ide dan kekonsistenan Bapak memberdayakan kaum marjinal dengan tetap memberi peran pemilik modal, Bapak saat ini menjadi tokoh muda yang paling dikenal masyarakat Cirebon. Bapak dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Sehingga kami yakin, tidak akan ada yang keberatan jika Cirebon dipimpin oleh Bapak. Muda, mapan, putra daerah, dan kiprahnya di masyarakat tak ada yang meragukan. Kami ingin mengusung Bapak sebagai calon Walikota pada Pilkada awal tahun depan.” Deg! Walaupun sudah menebak arah pembicaraan, Diah kaget juga mendengar usulan ini.
”Terima kasih atas kepercayaannya. Tetapi, suami saya itu pengusaha, bukan politisi. Tak adalah pengalamannya memimpin birokrasi.”
”Ibu jangan memandang rendah kemampuan suami sendiri. Kami semua yakin kok Bapak mampu. Bahkan, sebagai pengusaha, Bapak malah punya nilai lebih. Tak akan ada yang menggugat sumber dana pencalonan Bapak, karena Bapak sudah diketahui sebagai pengusaha yang mapan.”
”Lho, memangnya perlu dana juga?” Diah berlagak tidak paham.
”Ya iyalah, Bu. Bagaimanapun terkenalnya Bapak, tetap perlu ada usaha sistematis untuk lebih menguatkan posisinya.”
”Oooh...” gumam Diah. Sungguh, ada nyeri yang tiba-tiba menusuk di hati Diah. Jujurkah alasan yang Pak Rudi kemukakan, bahwa suaminya tokoh yang paling pantas memimpin Cirebon? Apakah bukan hanya karena, suaminya seorang yang mapan secara ekonomi, dan dikenal tidak segan memberi bantuan atau pinjaman modal kepada pengusaha pemula? Mereka yakin, suaminya akan mudah pula mengucurkan dana untuk mendukung pencalonannya ini.
Diah tahu, tidak ada yang mencalonkan seseorang untuk pilkada secara gratis. Partai-partai yang mendukung itu pada saatnya akan minta imbalan. Entah dengan alasan untuk logistik atau bahkan atas nama kepentingan dakwah. Belum lagi untuk persiapan kampanye, pembicaraan konsep, dan segala tetek bengeknya. Dan, tentu bukan hanya uang, tapi waktu pun akan banyak terpakai. Rapat ini itu, konsolidasi, ataupun kunjungan ke masyarakat.
”Jadi, Bu, kami harap Ibu dapat mendukung pencalonan ini.” Lanjut Rudi demi melihat Diah terdiam.
”Mengapa saya, Pak? Mengapa bukan suami saya yang dimintai pendapat?”
”Sudah, Bu. Ibu ingat kan pada malam saya datang dengan teman-teman? Kami sudah menyampaikannya kepada Bapak. Waktu itu Bapak memang belum mengatakan bersedia atau tidak. Tapi, kami berani bertaruh, saat itu Bapak lebih cenderung menyetujui. Nah, belakangan ini kami merasa, Bapak lebih cenderung untuk menolak. Kami jadi teringat ucapan Ibu saat itu. Kami berkesimpulan, Ibu yang tidak setuju. Akhirnya, kami sepakat untuk meminta seseorang menjelaskan alasannya kepada Ibu. Saya yang mendapat tugas itu. Kami yakin, jika Ibu paham kondisinya, Ibu malah akan mendukung pencalonan ini. Ini kan tidak hanya untuk kebaikan Cirebon, tapi juga untuk kebaikan Ibu sekeluarga.”
”Begitu ya Pak?” Komentar singkat Diah. Sungguh, ada magma yang mulai memanas di hati Diah. Sangat ingin dia mengucapkan penolakan secara tegas. Tetapi, Diah masih ingat sopan santun. Laki-laki ini tamunya, dan sikap dia akan berpengaruh juga terhadap kondite suaminya.
”Saya sangat yakin pada kemampuan Bapak. Saya tahu sejak dulu, saat kami sesekolah, bahwa Bapak pekerja keras. Dia sering berjualan atau usaha apa saja di luar jam sekolah,” lanjut Rudi.
Mendengar ini, magma di hati Diah tiba-tiba bergejolak. Marah. Seberapa jujur dia bicara? Seberapa dekat hubungannya dengan suaminya? Lima belas tahun menikah, baru kali ini Rudi mengunjungi rumahnya, padahal katanya dia teman masa kecil suami. Kemana saja dia selama ini? Kemana dia ketika Diah dan Mas Hadi harus puasa Daud untuk menghemat pengeluaran? Dimana dia ketika usaha yang baru mulai menampakkan hasil jatuh lagi karena tertipu rekan yang berlagak akan membantu pemodalan? Mengapa dia baru teringat lagi mempunyai teman kecil bernama Hadi sekarang ketika suaminya sudah menjadi pengusaha sukses?
Di luar kemungkinan daya tarik Mas Hadi dari sisi materi, Diah juga takut akan kemungkinan kehilangan waktu suaminya. Selama ini saja, dia harus sering menahan diri untuk meminta waktu suaminya sendiri. Karena, Mas Hadi selain selalu bekerja keras untuk menghidupkan perusahaannya, dia juga hampir tak pernah menolak permintaan orang-orang yang mengajaknya bertemu. Diah ingat malam-malam suburnya yang berlalu begitu saja karena Mas Hadi tidak bisa pulang. Mata Diah panas mengingat berkali-kali masalah keluarga yang sudah di ujung lidah tidak jadi diungkap karena tak tega melihat Mas Hadi masuk rumah dengan fisik yang sudah sangat lelah.
Apakah, ketika kini waktu Mas Hadi sudah mulai menjadi miliknya, harus diserahkannya lagi kepada kepentingan masyarakat? Apakah, ketika kini dia mulai bisa menabung untuk masa depan kedua anaknya, dana cadangan itu harus direlakannya untuk dimanfaatkan orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya? Apakah, semua pengorbanan, air mata, dan doa yang bertahun-tahun dijalaninya dengan sabar harus diikhlaskan untuk dinikmati orang lain?
Sungguh, dada Diah sangat gemuruh dengan segala tanya dan marah. Tapi, seperti semula, dia tidak sanggup untuk mengungkapkan semuanya itu kepada sang tamu. Benar-benar tidak mudah berlaku santun di tengah kemarahan.
Diah sudah sangat ingin mengusir tamunya, tapi dia masih mencoba bersikap sopan. ’Ya Allah, tolong....’ harap Diah dalam hati.
Allah Maha Mendengar. Tiba-tiba, terdengar suara mobil berhenti di muka pagar rumahnya. Putri bungsunya yang masih di Taman Kanak-kanak pulang sekolah. ’Alhamdulillah,’ Diah merasa sangat lega. Tak pernah suara mobil jemputan yang menderu-deru terdengar semerdu itu di telinganya.
”Maaf Pak Rudi, anak bungsu saya sudah pulang. Kalau yang ini, masih harus saya bantu ganti pakaian dan makannya,” Diah menutup percakapan sambil berdiri dan berjalan menuju pintu. Sikap tubuh Diah sangat jelas, meminta sang tamu untuk segera meninggalkan rumahnya.
Bandung, Agustus 2008

Minggu, 12 Desember 2010

Sisi Lain 65

Buku Kumpulan Cerpen “Mati Baik-baik, Kawan”
Penerbit Akar Indonesia, 2009

dan

Cerpen Melarung Bro di Nantalu, Nova 13 Desember 2010

Penulis : Martin Aleida


Membaca cerpen di Nova terbaru hari ini, karya Martin Aleida, mengingatkan saya kepada buku kumpulan cerpen dari penulis yang sama. Saya memang sedang berniat menuliskan kesan saya terhadap buku tersebut. Munculnya cerpen sang penulis buku di tabloid yang saya terima tadi pagi menguatkan rencana. Sekalian saja saya bahas dua-duanya.

Buku “Mati Baik-baik, Kawan” memuat 9 cerita pendek. Saya mendapat hadiah buku ini dari Ibu Maria Andriana tahun lalu, saat baru diterbitkan. Buku yang ditandatangani penulisnya ini langsung menjadi penghuni lemari karena, sejujurnya, saat itu saya kurang tertarik untuk membacanya. Melihat ilustrasi sampul dan membaca halaman pertama dari cerita pembuka, saya langsung menyimpulkan ini buku sastra politik, berat. Nanti saja dibaca saat leluasa.

Buku setebal 144 halaman ini mungkin masih akan terus nyenyak tidur di rak paling atas lemari buku saya andai saya tidak mengikuti pelatihan menulis feature di LPJA dengan Pak Martin sebagai salah seorang pengajar, pada pertengahan 2010. Saya sungguh terkesan dengan keteraturan bahasa lisan beliau. Saya tertegun mendengar kisah-kisah bermakna darinya tentang profesi wartawan yang sempat dia tekuni pada tahun 70-80-an. Pak Martin mengatakan, betapa keterikatan seorang jurnalis saat itu terhadap kombinasi bunyi tuts mesin tik dan suara teleks yang berpadu dengan tenggat sangat mempengaruhi pengeluaran potensi diri. Suasana itu hilang ketika era komputer dan internet datang, walaupun teknologi ini membawa berbagai kemudahan, ujarnya pula.

Cerita pertama berkisah tentang Mangku yang pergi dari tanah kelahirannya, Bali. Mangku trauma. Ayahnya, yang semula petani bukan pemilik sawah, mati dibunuh secara kejam hanya karena menjadi penerima tanah yang dibagikan oleh organisasi tani. Mangku tak ingin mati nelangsa seperti itu, dia ingin mati terhormat. Dia tahu, di Lampung dia bisa mendapat itu.

Mangku beranjak dari Bali ditemani seekor anjing dan seekor monyet. Dengan mengandalkan atraksi sang anjing dan sang monyet Mangku mendapat cara untuk bertahan hidup sambil terus bergerak menyusuri kota-kota sepanjang pulau Jawa. Di Jakarta anjingnya disita petugas dengan alasan pencegahan rabies, walau beberapa hari kemudian Mangku menemukannya terikat di halaman rumah mewah. Dengan hati luka dia melanjutkan perjalanan.

Di pelabuhan di ujung Barat Jawa, saat beristirahat, giliran sang monyet mati digigit anjing rabies. Mangku dengan hati yang semakin luka melanjutkan perjalanan sambil memangku mayat monyetnya. Di Lampung, di tanah tujuan, tempat dia ingin dimakamkan secara terhormat, dia menuju puncak bukit. Menggali sendiri, memakamkan monyetnya dengan cara seterhormat mungkin, ironis jika dibandingkan dengan proses penguburan ayahnya dulu, yang hanya bisa dia intip dari balik pintu.

Cerita kedua tentang kematian orang yang selama tiga puluh tahun menjadi sumber informasi bagi penguasa sehingga berakibat mengantar tukang jagal ke leher sahabat dan orang-orang di sekitarnya. Untuk karirnya tersebut, dia sempat melangkah sampai ke Paris, mampir ke sebuah restoran milik kawan lamanya yang tak mungkin kembali ke tanah air, berusaha menginap di salah seorang karyawan restoran, tapi misinya tak berhasil karena di Paris hukumnya berbeda dengan di tanah air.

Kisah sepenggal ini, dikembangkan penulis menjadi satu cerita lain, dimuat di Nova minggu ini, yang dilihat dari sudut pandang sang pemilik restoran. Bro, si tokoh, seorang guru besar yang ke Tiongkok untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia. Tak lama, karena ada Revolusi Kebudayaan di sana yang membuatnya tak leluasa hidup di Tiongkok, tapi juga tak mungkin pulang ke tanah air. Dia melarikan diri ke Eropa, terdampar di Paris. Membuka restoran. Setelah wafat, sesuai permintaannya, sang anak mengkremasikan, mengirim ke tanah air, dan meminta abu sang ayah dilarungkan di pusaran air di hulu sungai di Nantalu kepada sahabat ayahnya, tokoh aku dalam cerpen ini yang memimpikan jasadnya berakhir persis seperti itu.

Kembali ke kisah di cerita kedua dalam buku. Mayat dalam peti itu hanya diantarkan secara terpaksa oleh petugas sampai ke tanah pemakaman. Hanya satu orang yang mengantar, istrinya yang seumur hidup perkawinan menanggung derita akibat profesi suami sebagai pengkhianat. Di pemakaman, sang istri menangis, sedih dan bingung. Tak ada penggali kubur yang bersedia menggalikan lubang untuk mayat suaminya. Dari kisah ini kita belajar bahwa perbuatan nista seseorang karmanya kadang tidak ke yang bersangkutan, melainkan kepada orang-orang di sekitarnya, orang-orang tercintanya.

Cerita ketiga tentang seorang pemuda Sumatra yang dengan antusias turun di stasiun Balapan, Solo, untuk menemui calon istri di Sosroyudan. Beriringan dengan seseorang yang ternyata carik di kampung tersebut. Mereka pun berjalan bersama. Perbincangan selama perjalanan menguak fakta bahwa sang gadis adalah anak seseorang yang membela Barisan Tani di pengadilan, padahal sang carik adalah salah seorang pemilik tanah yang direbut dan kemudian dibagi-bagikan oleh Barisan Tani. Ayah sang gadis diadili massa, dan keluarganya dikucilkan. Menarik, betapa semangat menggebu menjemput cinta berhadapan dengan realita keterasingan sang pujaan dari lingkungan sekitar.

Cerita keempat tentang suami yang sedang menunggui istri yang sekarat karena kanker. Suami bertekad menguak rahasia yang 30 tahun disimpannya sebelum sang istri dijemput ajal. Dengan berbisik di telinga istri, dari kejauhan tampak seperti bercumbu rayu, si suami menceritakan kisah lamanya. Bahwa saat mereka bertemu dulu, dia sedang luntang lantung selepas dari tahanan. Dia bisa bebas karena mengantungi surat wasiat ortunya yang sedang menunaikan ibadah haji.

Dia tak berani mengungkap pandangan politiknya kepada sang istri, karena takut melukai dan melibatkan sang istri dalam kesulitan. Betapa, sepasang suami istri yang sedemikian menyatunya pun ternyata masih mempunyai rahasia yang sangat mendasar. Karena tak ingin kehilangan cinta, suami rela bersandiwara dalam tiga dasawarsa berumah tangga.

Cerita kelima tentang seorang istri yang 30 tahun lalu ditinggal suaminya menghilang, hanya menyisakan anak-anak yang perlu dibesarkan. Betapa kesulitan menghadang sepanjang perjalanan, karena tanda penyakit lepra di ujung kanan KTPnya, kode ET. Dua huruf yang mempunyai implikasi sangat luas, berkaitan dengan penerimaan lingkungan, kehormatan, bahkan peluang berbuat.

Cerita keenam juga tentang seorang istri. Saat pengantin baru pada tahun 1965, suaminya tiba-tiba menghilang, dan dia dipaksa untuk mengungkap keberadaan suaminya. Sesuatu yang dia tahu pasti, bahwa dia tak tahu jawabnya. Suatu hari dia diselamatkan seorang kapten, dibawa ke suatu rumah, dijadikan budak. Siang mengerjakan pekerjaan rumah, malam dikerjai tuan rumah. Tanpa bayaran. Tanpa ikatan. Sampai suatu saat dia berbadan dua, sang kapten menghilang entah kemana.

Tak ada anak haram untuk seorang ibu, yang ada hanya bapak yang jadah. Dibesarkannya sang anak dengan segala upaya. Saat sudah cukup modal, dia membuka kursus bahasa Inggris. Hingga hari ini, saat satu demi satu muridnya mengundurkan diri, karena hanya disini kursus masih “manual”. Ada laptop, ada in focus, tapi bu guru ini tak berupaya untuk menggunakan. Tetap menggunakan mesin tik sebagai ungkapan setia, pada diri, pada profesi, pada masa lalu.

Cerita ketujuh tentang seorang perempuan yang tersakiti oleh pamannya. Sang pamanlah yang menjadi penyebab ayahnya meninggal dengan tidak bernisan. Sang pamanlah yang secara terus menerus selama empat puluh tahun sedikit demi sedikit mengurangi luas sawah mereka yang bersebelahan dengan sawahnya. Ketiadaan nisan ayahnyalah yang menyebabkan rumah tangga bahagianya bubar begitu saja, karena nisan bernilai penting bagi suku bangsa mantan suaminya.
Marahnya perempuan itu telah berkembang menjadi dendam, dendam yang membawa sumpah, sumpah yang mempersulit pamannya berkalang tanah.

Cerita kedelapan tentang kematian seorang haji pedagang kopiah, yang berdakwah dengan lelucon. Saat hidupnya dia disegani dan dikangeni warga. Dia seorang hafiz Qur'an. Hidup berjalan mulus-mulus saja. Kalaupun ada kendala, hanya di akhir 60-an. Haji Johansyah, begitulah namanya, sempat ditahan beberapa bulan karena dianggap sebagai penyedia kopiah dalam pertunjukan teater saat peringatan ulang tahun PKI. Cerita ini yang tampaknya paling "ringan", tak ada pemenggalan kepala, tak ada penodongan senjata. Tetapi, kisah ini tampaknya untuk menggambarkan langkah membabi buta pihak berwenang. Bahkan seorang hafiz Qur'an pun dikategorikan komunis.

Cerita pamungkas saya duga sebagian besarnya merupakan penceritaan kisah pribadi penulis saat bekerja di majalah Tempo selama 13 tahun. Sebagai salah seorang yang turut membidani kelahiran Tempo, Martin -tokoh di cerpen ini sama dengan nama penulis- digantung statusnya secara administratif maupun pemberian kerja, tak lama setelah orang-orang tahu bahwa dia eks tapol. Tampaknya, sudut yang ingin dibidik penulis dari cerpen ini adalah bahwa profesionalitas, hubungan pertemanan, dan kapasitas diri tidak ada hubungannya dengan kesempatan berkarya, jika kamu punya cap dua huruf di KTP.



Itulah penggalan kisah dan ilustrasi dari kesembilan cerpen dalam buku ini. Saat membaca, dan setelahnya, saya larut dalam suasana yang dibentuk penulis. Saya terhenyak, karena semua yang diceritakan menggambarkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Sebagai kelahiran akhir 60-an, saya hanya kenal 2 zaman sepanjang masa sekolah saya. Masa Orla sebelum saya lahir, dan Orba setelah saya lahir. Itu saja. Saya mengetahui tentang peristiwa 1965 hanya dari pelajaran sekolah, film, dan bacaan yang boleh dibaca saat itu. Saya terbentuk dengan masukan seperti itu. Saya bukan petualang yang berani mencari-cari yang tidak ada di permukaan, kebetulan pula saya memang tidak punya ketertarikan ke arah itu.

Saya menjadi dewasa dengan gambaran betapa mengerikan kekejaman yang dilakukan PKI. Sadis. Saya tidak pernah memikirkan ada kemungkinan lain.

Membaca buku ini, saya seperti mengetahui hal baru. Teringatkan. Iya ya ada kemungkinan seperti ini. Ada orang-orang yang berada pada situasi tragis, berada pada tempat yang salah pada saat yang salah. Bahwa, organisasi yang pimpinannya komunis, anggotanya belum tentu komunis, bahkan mungkin saja kehadirannya di organisasi tersebut hanya karena kesamaan minat dan profesi, tak ada hubungan sama sekali dengan sikap politik. Bahwa walaupun komunis itu salah, orang per orangnya adalah manusia biasa, yang butuh cinta dan kasih sayang, yang punya urusan sosial sehari-hari, seperti manusia lainnya.

Mudah-mudahan ini bukan efek pendidikan…. Jujur, saya masih punya kekhawatiran dianggap sebagai pendukung paham kiri dengan mengirim tulisan ini…