Kamis, 27 Oktober 2011

Cerpen: GELISAH DIAH


“Tidak!” seru Diah tertahan. Kepala lima orang lelaki di ruang tamu itu serentak bergerak. Menoleh ke arahnya. Sementara, langkah Diah malah terhenti. Permukaan air teh di lima cangkir bening itu bergelombang. Imbas dari getaran kedua tangan Diah yang memegang nampan. Mewakili gemuruh yang tiba-tiba runtuh di hatinya.
”Kenapa, Say?” Kata salah seorang dari kelima lelaki itu. Mas Hadi. Suaminya.
”Saya tidak setuju.”
”Apa yang dikau tidak setujui?”
”Pencalonan itu.”
”Mengapa, Bu?” suara salah seorang tamu suaminya. Suara yang sama dengan yang tadi didengarnya, selangkah sebelum memasuki ruang tamu. Suara yang mengatakan ’Partai-partai kami sepakat untuk mengusung Pak Hadi sebagai calon Walikota Cirebon pada pilkada awal tahun depan.’
Hadi pun berdiri. Berjalan ke arahnya. Mengambil nampan yang sedang bergetar di tangan Diah. Sesaat mata mereka bertatapan. Hanya sekejap, tapi Diah tahu, kekhawatirannya berlebihan. Kerlip mata itu, yang sudah dikenal dan dipujanya selama 15 tahun, berkata banyak. ’Tenang saja, Say. Aku tidak macam-macam.’
”Maaf kalau saya mengganggu pembicaraan Bapak-bapak. Permisi, saya akan meneruskan pekerjaan saya,” kata Diah. Dia pun meninggalkan ruang tamu.
Sayup terdengar suara Mas Hadi menyilakan para tamu untuk meminum air teh yang baru saja dihidangkan.
==========
Dan, mulailah hari-hari itu. Silih berganti telepon, sms, dan kunjungan tamu-tamu yang menggunakan jaket berbeda-beda warna. Belakangan, bahkan ditambah dengan kunjungan para pedagang atau wirausahawan yang selama ini memang sering berkunjung. Hanya saja, kali ini yang dibicarakan berbeda.
Tidak terdengar orang-orang yang bertanya kiat sukses jadi pengusaha, atau meminta bantuan modal. Suara yang terdengar sayup dari dalam rumah semua tentang satu hal. Membujuk Mas Hadi agar berkenan menjadi bakal calon Walikota Cirebon 2009-2014.
Sampai saat ini, Diah masih memegang kata-kata suaminya yang diucapkan pada malam itu, setelah kelima orang tamu Mas Hadi pulang.
”Tenang saja, Say, aku bilang belum bisa memutuskan.”
”Kok belum, sih. Bilang saja, tidak mau.”
”Kan tidak bisa begitu. Kita harus tetap menghargai pendapat orang lain. Apa yang sebenarnya mereka harapkan. Apa alasan mereka berpikir begitu. Kita hanya bisa memberi alternatif pemikiran lain yang mungkin.”
”Tapi... Kalau dikau tidak eksplisit menolak, mereka akan merasa ada peluang dikau berkenan. Mereka akan terus berusaha meyakinkan dikau. Itu kan buang-buang waktu mereka dan waktu dikau juga.”
”Insya Allah tidak begitu. Aku tetap yakin, kalau kita berpegang pada kata hati, sikap dan ucap kita akan selaras. Sehingga, esensi yang kita sampaikan akan tertangkap dengan jelas oleh kata hati mereka. Kita malah punya teman baru lho.”
”Pokoknya, aku sama sekali tidak setuju dengan usulan itu.”
”Memangnya, dikau tidak ingin jadi ibu walikota, Say?” Mas Hadi mulai menggoda. ”Kan enak. Kakak ke sekolah bisa jalan kaki, jadi dikau tidak perlu mengkhawatirkan angkot ngebut lagi. Rumah dinasnya kan dekat SMPN 1. Dikau juga akan tambah sering masak enak, kan pasar Pagi dekat.”
”Iya juga, ya,” Diah meladeni pancingan suaminya. ”Tapi, nanti Pak Walikota masih mau diajak ngejamblang di trotoar gunungsari gak ya?”
”O itu toh alasan utama penolakan dikau,” Mas Hadi semakin menggoda. ”Pak Wali kan bisa menyuruh tim Kamtib menciduk pedagang yang berjualan di trotoar. Kalau mereka bertanya, memangnya kami salah apa, akan dijawab, Bu Wali sedang ingin makan nasi jamblang. Hehehe...”
”Iiih, ini yang orang-orang itu tidak tahu. Mereka akan menyesal mengusulkan dikau. Pak Jaya akan ke Cirebon, memberi anugerah Rekor Nasional untuk kategori Walikota paling jail se-Indonesia,” ujar Diah menutup percakapan mereka malam itu.
Diah sedang menyiapkan makan siang untuk kedua anaknya ketika bel berbunyi. Si Sulung yang baru saja pulang sekolah membukakan pintu.
”Mah, ada tamu.”
”Siapa?”
”Gak tahu. Rasanya Kakak baru lihat deh.”
”Ya sudah. Makasih. Kakak makan dulu saja ya.” Diah pun melangkah ke ruang tamu.
”Assalamu’alaikum, Bu,” sapa suara itu. Suara yang beberapa hari lalu mengucapkan hal yang paling tidak ingin didengar Diah.
”Wa’alaikum salam. O, Bapak. Maaf, Pak, suami saya sedang tidak ada.”
”Tidak apa-apa, Bu. Saya datang ke sini memang untuk menemui Ibu.”
”Menemui saya? Ada apa, Pak? Apa yang terjadi dengan suami saya?” Diah tiba-tiba khawatir.
”Oh, tidak apa-apa, Bu. Saya bahkan tidak tahu Bapak sekarang dimana. Saya hanya ingin ngobrol dengan Ibu.Mengganggu?” tanya tamu tersebut.
”Ini saat menemani anak makan siang sih, tapi tidak apa-apa. Silakan masuk.”
”Begini, Bu, saya ke sini mewakili teman-teman. Saya ... ,”
”Sebentar, Pak. Boleh saya tahu, Bapak siapa?”
”O iya, maaf, Bu. Saya Rudi. Kita baru kali kedua bertemu. Tapi, saya dan Pak Hadi sudah saling kenal sejak kecil. Kami sesekolah di SD dan SMA. Saya atas nama teman-teman ingin menyampaikan, betapa kami melihat Bapak sebagai sosok yang paling istimewa di Cirebon saat ini. Sangat menginspirasi generasi muda seperti kami. Dalam usia yang sama dengan kami, Bapak sudah berbuat sangat banyak untuk masyarakat.”
Diah diam mendengarkan. Dia belum bereaksi, walau dalam hati ada banyak kata yang ingin diungkapkan.
”Ibu tahu, langkah Bapak membina pedagang docang, memodali, dan membantu promosi, sangat luar biasa. Docang yang selama ini dipersepsikan makanan rakyat jelata, bahkan keberadaannya sudah mulai punah, dibangkitkan lagi oleh Bapak. Sekarang, tidak ada orang yang ke Cirebon tanpa mencicipi docang. Tidak ada warga Cirebon yang dalam seminggu tidak sarapan docang. Tidak lengkap wisata kuliner di Cirebon tanpa makan docang. Nasi jamblang yang semula primadona saja kalah pamor.”
”Tapi, pada saat yang sama, kaum marjinal pun merasa terangkat harga dirinya. Makanan yang semula dibeli karena terpaksa, karena tidak sanggup membeli jajanan yang lain, kini naik gengsi tanpa naik harga.”
”Bapak telah secara jenius mengubah imej. Atraksi menghancurkan kerupuk menggunakan siku tangan yang dulu dianggap jorok, kini malah menjadi atraksi yang merupakan daya tarik utama pedagang docang.”
Diah masih belum berkomentar. Tidak salah yang diungkap Pak Rudi. Tapi Diah tahu, awalnya, sama sekali tidak ada alasan kemanusiaan seperti itu. Docang adalah jajanan murah meriah favorit Mas Hadi sejak kecil.
Setiap pagi, dia mengantar ibunya berjualan di Pasar Kanoman. Setelah usai mengangkut barang dagangan, ibunya memberi upah sekedarnya. Dia pun biasanya segera berlari ke bagian belakang pasar, menuju tukang docang. Sarapan. Irisan ketupat yang ditaburi kelapa parut, cacahan daun singkong rebus, kerupuk yang digeprek menggunakan siku tangan si pedagang, kemudian disiram kuah panas berbumbu oncom tumbuk. Ditambah sambal, lengkap sudah pagi harinya. Pemuda kecil itu pun siap berlari lagi. Menuju sekolah.
Kembali ke Cirebon setelah 10 tahun merantau. Kuliah sambil bekerja. Yang dicari pertama kali, docang. Perlu waktu untuk menemukan penjual langganannya dulu. Mereka pindah lokasi karena setelah pasar direnovasi, mereka tidak sanggup membayar sewa di lokasi yang lama. Sempat berkeliling Cirebon mencari penjual docang lain. Dia hanya berhasil menemukan dua lagi. Di Pasar Drajat dan di Pasar Gunungsari.
Sangat kontras dengan penjual nasi jamblang yang bertebaran di banyak tempat di Cirebon saat itu. Bahkan, di foodcourt setiap mal, selalu ada gerai nasi jamblang. Jika di sekitar penjual nasi jamblang parkir berderet mobil-mobil mewah, maka pembeli docang adalah kelompok pinggiran. Hampir tidak ada yang memakai mobil. Ketika harga sebungkus kecil nasi jamblang Rp 1.000,- (padahal orang makan minimal 3 bungkus, belum lagi lauk pauknya), docang masih bisa dibeli dengan Rp 700,- seporsi. Lengkap.
”Selain itu, Bu,” terdengar Pak Rudi bicara lagi. Dengan agak tergagap Diah mengembalikan fokusnya ke tamu yang ada di hadapannya. ”Di tengah kesibukan Bapak mengembangkan bisnis batik cirebon, Bapak masih berkenan membantu mengembangkan usaha daur ulang. Membuat tas dari plastik bekas kemasan sabun. Pada saat bersamaan, Bapak mendekati para pengelola mal untuk menggunakan produk ini menggantikan tas plastik sekali pakai.”
”Semua orang tahu siapa sosok dibalik anugerah ”Kota Hijau” dari Green Community yang diterima Cirebon tahun lalu. Semua berawal dari lomba antar mal dan pasar swalayan dalam mereduksi penggunaan tas plastik sekali pakai yang digagas Bapak. Beberapa tahun terakhir, berbagai hadiah bagi pengunjung yang membawa tas sendiri jika berbelanja, terutama yang membawa tas daur ulang dengan merk supermarket yang sama, bertebaran. Semakin hari semakin kreatif. Dan, kini, pola seperti itu mulai ditiru supermarket-supermarket di kota lain. Luar biasa!”
”Terima kasih, Pak, atas segala yang Bapak sampaikan,” Diah akhirnya bersuara. ”Sesungguhnya, tidak ada yang istimewa dari semuanya. Itu kan kerja keras, kesadaran dan kerja sama semua pihak. Siapalah suami saya. Maaf, Pak, kalau saya boleh tanya, apa maksud Bapak dengan menceritakan semua ini?” Diah mencoba bertanya, walau dalam hatinya dia sudah menduga arah segala puja-puji ini.
”Ini dia,” kata Pak Rudi dengan semangat, ”Dengan segala sepak terjang Bapak, ide dan kekonsistenan Bapak memberdayakan kaum marjinal dengan tetap memberi peran pemilik modal, Bapak saat ini menjadi tokoh muda yang paling dikenal masyarakat Cirebon. Bapak dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Sehingga kami yakin, tidak akan ada yang keberatan jika Cirebon dipimpin oleh Bapak. Muda, mapan, putra daerah, dan kiprahnya di masyarakat tak ada yang meragukan. Kami ingin mengusung Bapak sebagai calon Walikota pada Pilkada awal tahun depan.” Deg! Walaupun sudah menebak arah pembicaraan, Diah kaget juga mendengar usulan ini.
”Terima kasih atas kepercayaannya. Tetapi, suami saya itu pengusaha, bukan politisi. Tak adalah pengalamannya memimpin birokrasi.”
”Ibu jangan memandang rendah kemampuan suami sendiri. Kami semua yakin kok Bapak mampu. Bahkan, sebagai pengusaha, Bapak malah punya nilai lebih. Tak akan ada yang menggugat sumber dana pencalonan Bapak, karena Bapak sudah diketahui sebagai pengusaha yang mapan.”
”Lho, memangnya perlu dana juga?” Diah berlagak tidak paham.
”Ya iyalah, Bu. Bagaimanapun terkenalnya Bapak, tetap perlu ada usaha sistematis untuk lebih menguatkan posisinya.”
”Oooh...” gumam Diah. Sungguh, ada nyeri yang tiba-tiba menusuk di hati Diah. Jujurkah alasan yang Pak Rudi kemukakan, bahwa suaminya tokoh yang paling pantas memimpin Cirebon? Apakah bukan hanya karena, suaminya seorang yang mapan secara ekonomi, dan dikenal tidak segan memberi bantuan atau pinjaman modal kepada pengusaha pemula? Mereka yakin, suaminya akan mudah pula mengucurkan dana untuk mendukung pencalonannya ini.
Diah tahu, tidak ada yang mencalonkan seseorang untuk pilkada secara gratis. Partai-partai yang mendukung itu pada saatnya akan minta imbalan. Entah dengan alasan untuk logistik atau bahkan atas nama kepentingan dakwah. Belum lagi untuk persiapan kampanye, pembicaraan konsep, dan segala tetek bengeknya. Dan, tentu bukan hanya uang, tapi waktu pun akan banyak terpakai. Rapat ini itu, konsolidasi, ataupun kunjungan ke masyarakat.
”Jadi, Bu, kami harap Ibu dapat mendukung pencalonan ini.” Lanjut Rudi demi melihat Diah terdiam.
”Mengapa saya, Pak? Mengapa bukan suami saya yang dimintai pendapat?”
”Sudah, Bu. Ibu ingat kan pada malam saya datang dengan teman-teman? Kami sudah menyampaikannya kepada Bapak. Waktu itu Bapak memang belum mengatakan bersedia atau tidak. Tapi, kami berani bertaruh, saat itu Bapak lebih cenderung menyetujui. Nah, belakangan ini kami merasa, Bapak lebih cenderung untuk menolak. Kami jadi teringat ucapan Ibu saat itu. Kami berkesimpulan, Ibu yang tidak setuju. Akhirnya, kami sepakat untuk meminta seseorang menjelaskan alasannya kepada Ibu. Saya yang mendapat tugas itu. Kami yakin, jika Ibu paham kondisinya, Ibu malah akan mendukung pencalonan ini. Ini kan tidak hanya untuk kebaikan Cirebon, tapi juga untuk kebaikan Ibu sekeluarga.”
”Begitu ya Pak?” Komentar singkat Diah. Sungguh, ada magma yang mulai memanas di hati Diah. Sangat ingin dia mengucapkan penolakan secara tegas. Tetapi, Diah masih ingat sopan santun. Laki-laki ini tamunya, dan sikap dia akan berpengaruh juga terhadap kondite suaminya.
”Saya sangat yakin pada kemampuan Bapak. Saya tahu sejak dulu, saat kami sesekolah, bahwa Bapak pekerja keras. Dia sering berjualan atau usaha apa saja di luar jam sekolah,” lanjut Rudi.
Mendengar ini, magma di hati Diah tiba-tiba bergejolak. Marah. Seberapa jujur dia bicara? Seberapa dekat hubungannya dengan suaminya? Lima belas tahun menikah, baru kali ini Rudi mengunjungi rumahnya, padahal katanya dia teman masa kecil suami. Kemana saja dia selama ini? Kemana dia ketika Diah dan Mas Hadi harus puasa Daud untuk menghemat pengeluaran? Dimana dia ketika usaha yang baru mulai menampakkan hasil jatuh lagi karena tertipu rekan yang berlagak akan membantu pemodalan? Mengapa dia baru teringat lagi mempunyai teman kecil bernama Hadi sekarang ketika suaminya sudah menjadi pengusaha sukses?
Di luar kemungkinan daya tarik Mas Hadi dari sisi materi, Diah juga takut akan kemungkinan kehilangan waktu suaminya. Selama ini saja, dia harus sering menahan diri untuk meminta waktu suaminya sendiri. Karena, Mas Hadi selain selalu bekerja keras untuk menghidupkan perusahaannya, dia juga hampir tak pernah menolak permintaan orang-orang yang mengajaknya bertemu. Diah ingat malam-malam suburnya yang berlalu begitu saja karena Mas Hadi tidak bisa pulang. Mata Diah panas mengingat berkali-kali masalah keluarga yang sudah di ujung lidah tidak jadi diungkap karena tak tega melihat Mas Hadi masuk rumah dengan fisik yang sudah sangat lelah.
Apakah, ketika kini waktu Mas Hadi sudah mulai menjadi miliknya, harus diserahkannya lagi kepada kepentingan masyarakat? Apakah, ketika kini dia mulai bisa menabung untuk masa depan kedua anaknya, dana cadangan itu harus direlakannya untuk dimanfaatkan orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya? Apakah, semua pengorbanan, air mata, dan doa yang bertahun-tahun dijalaninya dengan sabar harus diikhlaskan untuk dinikmati orang lain?
Sungguh, dada Diah sangat gemuruh dengan segala tanya dan marah. Tapi, seperti semula, dia tidak sanggup untuk mengungkapkan semuanya itu kepada sang tamu. Benar-benar tidak mudah berlaku santun di tengah kemarahan.
Diah sudah sangat ingin mengusir tamunya, tapi dia masih mencoba bersikap sopan. ’Ya Allah, tolong....’ harap Diah dalam hati.
Allah Maha Mendengar. Tiba-tiba, terdengar suara mobil berhenti di muka pagar rumahnya. Putri bungsunya yang masih di Taman Kanak-kanak pulang sekolah. ’Alhamdulillah,’ Diah merasa sangat lega. Tak pernah suara mobil jemputan yang menderu-deru terdengar semerdu itu di telinganya.
”Maaf Pak Rudi, anak bungsu saya sudah pulang. Kalau yang ini, masih harus saya bantu ganti pakaian dan makannya,” Diah menutup percakapan sambil berdiri dan berjalan menuju pintu. Sikap tubuh Diah sangat jelas, meminta sang tamu untuk segera meninggalkan rumahnya.
Bandung, Agustus 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar