Senin, 31 Oktober 2011

Semua Orang Tua Sukses

Mendidik anak itu unik.

Tidak ada kursusnya, tetapi kita diharapkan terampil.
Tidak ada sekolahnya, tetapi ada kurikulum dengan mata pelajaran yang sangat banyak dengan nilai KKM masing-masing.
Tidak ada ujian nasionalnya, tetapi setiap orang tua harus lulus tanpa ada kesempatan remedial.

Kabar baiknya, semua orang tua berhasil.

Benarkah tidak ada orang tua yang gagal? Ya.

Karena, setiap orang tua mempunyai keleluasaan yang luar biasa untuk menggunakan kurikulum yang mereka rancang sendiri. Setiap orang mempunyai latar belakang, standar nilai, prioritas, dan jenis aplikasinya sendiri. Ketika dua orang yang unik ini bergabung dalam satu rumah tangga, ada kompromi dan pengejawantahan baru atas penerapan cara hidup ini. Ini pun tidak bisa diterapkan sama kepada setiap anak, karena setiap anak unik. Mempunyai ciri khas dan kehidupannya sendiri. Satu aturan atau nilai yang sama dari orang tua akan disikapi dengan cara maupun kadar yang tidak sama oleh setiap anaknya.

Tetapi buktinya ada anak yang gagal hidup...

Benarkah dia gagal hidup?
Siapa yang mengatakan?

Jika orang lain yang mengatakan, apa hak dia?
Sejauh mana pengetahuan dia tentang anak ini?
Terhadap apa dia sandarkan standar nilai untuk sampai ke kesimpulan?
Jika pembandingnya adalah nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang dia anut, apakah itu "fair"? Karena anak ini dibesarkan tidak dengan koefisien variabel yang sama dengan si penilai.

Jika orangtua si anak yang mengatakan, benarkah dia sudah menilai secara menyeluruh?
Bahwa, setiap langkah yang kita lakukan itu menjadi "sebab". Konsekuensi logis dari suatu sebab, adalah adanya "akibat". Apakah si orang tua sudah memperhitungkan SEMUA kemungkinan sebab-akibat dari kombinasi semua langkah yang telah dilakukannya selama ini?

Selain itu, pertanyaan "kapan penilaian itu dilakukan?" juga memberi andil.
Membesarkan anak adalah "timeless".

Andai hanya ada 5 variabel saja yang dilihat. Membandingkan 5 orang anak berusia 5 tahun dengan menggunakan ke-5 variabel ini sangat tidak adil. Karena sangat mungkin terjadi setiap anak berkembang dominan pada 5 variabel yang berbeda, dan urutan perkembangan yang berbeda.

Misalkan A berkembang dominan dalam hal kemandirian, B dalam hal kejujuran, C dalam hal kepedulian sosial, D dalam hal cinta lingkungan, dan E dalam religiusitas. Demikian pula urutan waktu perkembangan dan pencapaian anak untuk setiap hal yang dinilai. A mandiri, cukup jujur, agak peduli teman, mulai rajin berdoa, tetapi belum peduli kebersihan lingkungan. Yang lain akan mempunyai kondisi yang berbeda.

Orang tua A mungkin memang lebih memberi lingkungan yang merangsang anak mandiri, sedangkan orang tua E menekankan ibadah didahulukan atas apa pun. Definisi dan standar tuntutan setiap orang tua pun belum tentu sama. Ada yang lebih mengutamakan anak disiplin shalat sejak kecil, ada yang lebih menekankan rasa ingat pada Tuhan. Masing-masing punya alasan. Yang pertama meyakini anak harus dibiasakan melakukan ibadah ritual dari kecil, agar saat dewasa tidak merasa beban. Orang tua yang kedua lebih yakin bahwa jika anak selalu ingat Tuhan, pada saatnya akan menggerakkan diri sendiri untuk melaksanakan semua ritual dengan ikhlas dan sebagai kebutuhan, bukan keharusan.

Tuh kan, sudah terlihat banyak perbedaannya... Padahal ini baru dari 5 kategori, dengan standar penilaian sederhana.
Sementara, jumlah mata pelajaran hidup yang harus dikuasai anak sebenarnya jauh lebih banyak lagi variabelnya. Bayangkan akan semakin kompleks jika kita hitung kemungkinan atas perbedaan nilai koefisien dari setiap variabel tersebut. Belum lagi kalau kita tambahkan variabel waktu.

Jadi, tak perlulah kita memusingkan diri dengan mencari dan menghitung ada koefisien apa saja dan bagaimana koefisien setiap variabel tersebut yang dapat menilai dan menghasilkan anak-anak sukses.

Cukup kita kaji apa yang kita punya, apa yang kita yakini, apa yang kita inginkan, dan apa yang telah dan ingin kita lakukan, terhadap anak-anak kita. Semua. Lengkap. Kita akan tahu, hal itu akan mengarah kepada terwujudnya apa yang kita harapkan.

Jika ternyata berbeda, kita bukan gagal, tetapi kita kaji kembali. Mungkin ada beberapa faktor yang luput dari perhitungan menyeluruh tadi. Biasanya, faktor sebab akibat dari kombinasi segala hal tadi yang lupa kita perhitungkan.

3 komentar:

  1. very inspiring notes, just adding....menjadikan anak memiliki jati diri yang kuat dan mentally health adalah bekal tuk kehidupannya agar dapat hidup adaptif and survive. Kita perlu jeli pd kebutuhan dan potensinya, memfasilitasinya agar teraktualisasi optimal. Strength dan keunikan pribadinya menjadikan hidupnya bermakna bagi dirinya dan lingkungannya. Ia nyaman dengan dirinya dan orang lain nyaman dengan kehadirannya bahkan membutuhkan kehadirannya.Ia menjadi figur inspiring, at least for his/her family....hal itu bisa dicapai just when we are an ispiring model for her/him...to educate kids is to educate ourselves...be bold always dear Annis....all the best...

    BalasHapus
  2. Setuju, mbak. Menilai anak itu harus dari segala sisi. Ibaratnya jangan pernah bilang seorang ikan tolol, krn tidak bisa memanjat pohon seperti kucing. Masing2 anak ada kelebihan-kekurangan. Yang bisa dilakukan sbg ortu adalah menilai dg jeli dan mendampingi :)

    BalasHapus
  3. Nuhun Arti, makasih Indri...

    Bener bangetttt...

    BalasHapus