Selasa, 03 Juni 2014

OLEH – OLEH



          Jika suami dinas ke luar negeri, saya selalu minta dibawakan magnet-kulkas khas negara tersebut. Senang saja mengumpulkan satu demi satu. Mengingat di mana saja suami telah meninggalkan jejak. Untuk suami pun tidak merepotkan, tidak memberatkan.
 
          Permintaan oleh-oleh bertambah jika ke dinas ke Amerika atau Singapura. Atau mungkin jika kelak ada tugas ke Inggris. Saya minta oleh-oleh buku. Dengan pertimbangan, buku-buku teks di sana lebih murah dan lengkap. 

          Minggu lalu suami pergi lagi ke Amerika Serikat. Suami sempat bercerita bahwa kali ini dia ingin mampir ke kampus Harvard. Saya pun sudah titip daftar buku yang sedang saya ingin baca. Diantaranya, buku tentang Logic, History, Differential Equations in Farming or Desease, atau buku lain keluaran terbaru. Ceritanya kan sedang ingin membaca lagi tentang Matematika.

          Kemarin suami saya baru  datang dari New York. Dia keluarkan 2 buah magnet kulkas bertema Newyork. Dan..... 1 buah buku setebal 5 cm! 

          Tapi bukan buku Matematika. 

          Buku ini berjudul The Seven Basic Plots, karya Christopher Booker, terbitan Bloomsbury. Wow banget

          Wow pertama, penerbitnya adalah penerbit  yang pertama kali menerbitkan buku Harry Potter di Inggris. Penerbit nekad sekaligus berani berpikir beda. Terbukti buku Harry Potter laku keras, padahal sebelumnya ditolak banyak penerbit. Buku HP ditolak karena tak sesuai pakem, yaitu bahwa buku anak-anak tak boleh tebal. Saya merasa akan mendapat bahasan tak umum dari buku terbitan Bloomsbury.
          Wow kedua, buku setebal 728 halaman ini tulisannya kecil-kecil. Berarti ada lebih banyak kata di dalamnya. Bahasa Inggris semua :). Baiklah, ini perintah belajar bahasa secara kasat mata dari sang pemberi... Saat masih aktif sebagai dosen, buku setebal bantal makanan  biasa. Hanya saja, buku matematika kan banyak hiburannya. Lambang dan rumus. Sehingga, tak terlalu banyak kata yang perlu dieja.

          Wow lagi, dari daftar isi, terlihat buku ini dikerjakan dengan serius. Semacam buku teks. Jangan-jangan berasal dari disertasi seseorang. Betapa topik tentang fiksi pun disajikan secara nonfiksi, secara ilmiah.

          Satu hal menarik bagi saya. Mengapa buku tentang plot ini yang dibeli suami? Memang sih, dia tidak jadi ke Harvard karena waktu luangnya Sabtu dan Minggu justru pada saat kampus tutup. Dia hanya sempat mampir ke toko buku di Newyork. Dan buku ini merebut perhatiannya. Padahal di toko buku kan banyak juga buku ilmu pengetahuan atau matematika.

          Apakah ini menunjukkan arah kenyamanan suami? Bahwa, dia lebih suka saya fokus melatih diri untuk menjadi penulis daripada membaca-baca lagi buku berumus? Hanya dia dan Dia yang tahu. :)
 
          Baiklah, saya akan coba fokus membaca buku ini dulu. Mungkin akan saya rangkum secara berseri, per bab. Agar saya lebih paham. Dan jika saya bagikan pun, yang membaca lebih nyaman.


          Ada oleh-oleh lain yang mulai suka suami bawa terutama jika dinas ke negara yang bukan berbahasa Inggris. Terinspirasi dari titipan temannya saat suami tugas ke Rusia. Sahabat suami titip oleh-oleh Qur’an dengan terjemahan bahasa Rusia. 

          Dua hal yang diharapkan manfaatnya. Pertama, kita bisa membaca huruf arabnya. Dan mengenal jika ada sedikit perbedaan cara memberi tanda  baca. Manfaat lain, walau kita tak paham artinya, kita bisa menunjukkan kepada anak, bahwa umat Islam di belahan dunia manapun, kitab sucinya sama. Sumbernya sama. 

          Karena idenya belakangan, maka saat ingin Qur’an dari negara yang telah pernah didatangi, suami titip oleh-oleh kepada teman yang sedang di negara tersebut. Ini kami dapat untuk Qur’an terjemahan bahasa Jerman dan Turki. 

          Ukuran dan berat Qur’an juga membuat kami memerlukan pendekatan khusus  kepada yang  dititipi. Pastinya mereka orang baik. Sangat baik. Karena titipan ini makan ruang di koper, dan makan berat bagasi.



          Untuk itu saya perlu berterima kasih secara khusus kepada Ibu Heti Mulyati dan keluarga, di Gottingen, Jerman, serta kepada tim dosen IPB yang menjadi “kurir”. Serta terima kasih saya juga untuk Nadira Kusaeni, putri sulung Bapak A. Kusaeni dan Bu Tanti dari LKBN Antara. Nadira saat ini kuliah di Ankara, Turki.

          O ya. Jika dinasnya di dalam negeri, oleh-oleh yang saya minta tak jauh dari.....makanan! Karena tiap wilayah punya makanan khas. Tak akan kehabisan oleh-oleh jika kita kelilling nusantara.

          Itu saja. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar