Rabu, 04 Juni 2014

3 CUKUP, 4 TERLALU BANYAK



          Pertama-tama, mohon maaf kepada bapak-bapak yang berharap-harap senang. Judul di atas tidak berkaitan sama sekali dengan jumlah istri. :)

          Saya tergelitik untuk menulis tentang 3 mengingat pengalaman belakangan ini berkaitan dengan pesta besar bangsa  kita, memilih presiden. Mungkin teman-teman juga mengalami peristiwa yang sama atau serupa. 

          Komunitas-komunitas di sekitar kita dengan semangat berpartisipasi aktif dalam mempromosikan calon presiden jagoannya. Baik komunitas di dunia maya ataupun nyata. Berbagai jaringan media sosial dipenuhi status menjual kelebihan pujaannya dan mengorek kelemahan lawannya. Kelakuan ini tidak merujuk ke satu pihak saja, tetapi kedua tim pendukung capres. Mohon maaf, tak ada yang berhak mengklaim pihak lawan tak sopan, karena dari yang saya alami, kedua kelompok pendukung melakukan over-fanatisme yang  setara. 

          Saya tidak berencana membahas isi kampanyenya, tetapi lebih tertarik untuk menghitung jumlah pernyataan. Di  satu grup pertemanan BBG, pernah ada yang mengirim data kelebihan-kelebihan capres andalan dia. Tak kira-kira, sampai 3 kali pengiriman. Saking banyaknya point hebat dari calon dia. 14 point-an. Tahu apa yang saya rasa? Berlebihan. Kelebihan sang calon menjadi tak menarik lagi di mata saya karena promosi yang berlebihan dari sang pendukung. Walau dia bilang tak bermaksud memaksakan kehendak, kiriman sebanyak itu memberi kesan intimidasi. Itu di dunia maya. 

         Di alam nyata, minggu lalu  saya mendapat daftar 25 kesalahan aliran tertentu dalam agama saya di sebuah pengajian. Dari awal saya sudah dipihak yang  tidak sepakat dengan aliran itu. Tetapi ketika sang  pembicara merasa tak cukup menjelaskan dengan point-point utama kesalahannya saja, saya tak suka. Apalagi saat saya baca, beberapa point terkesan memaksakan. Misalnya, kesalahan  cetak di sebuah buku kok  dimasukkan ke dalam daftar kesalahan aliran tersebut. 

          Di Facebook, ada beberapa teman yang berulang-ulang membuat status tendensius. 1x okelah. 2x, “ngapain nih orang”. 3x, “Oh, dia pendukung A”. 4x? Unfriend :D 

          Saya jadi teringat pelajaran dari 2 orang guru saya. Pelajaran yang “sangat  sedikit” tapi berefek besar. Sama sekali bukan mengecilkan arti pelajarannya, tapi ini memang asli pelajaran tentang sesuatu yang sangat sedikit, 3.

          Pertama, dari Clara Ng. Penulis yang karyanya selalu menarik. Saya sempat berguru pada beliau di sebuah kelas online. Salah satu tugas saya, yang menurut saya sangat kuat karena  ada unsur pengulangannya, dinilai jelek oleh beliau. Berlebihan. Setelah ditelisik, rupanya karena ada pengulangan informasi hingga 5x. Mbak Clara bilang, ada yang disebut aturan 3. Sesuatu yang diulang, cukup 3 kali. Lebih  dari itu, efeknya tak cantik lagi.

          Awalnya ada rasa sedih karena karya hasil jerih payah ini harus diedit dengan cara membuangnya, bukan mengganti dengan kalimat lain. Pilih 3 saja. Sulit, karena sebagai penulisnya, saya merasa semua tulisan saya  sudah pas. Tetapi, setelah berhasil memenuhi saran mbak Clara, saat tulisan itu saya baca ulang, terasa  jauuuh lebih bagus (u-nya cukup 3, hehe). Efek aturan 3 kali pengulangan itu luar biasa, ternyata.

          Ini berlaku untuk banyak bagian lain  dari tulisan. Misalnya, menulis titik-titik. 3 titik saja cukup. Itu sudah menunjukkan banyak. Jika kita tulis titik lebih dari 3, sudah tak ada artinya lagi, bahkan berlebihan. Pengulangan sering muncul juga  pada puisi. Kata pertama atau kalimat pertama yang diulang-ulang. Dulu saya membaca puisi yang banyak pengulangan biasa-biasa saja. Tak kagum, tapi juga tak mengapresiasi. Sekarang, jika menghadiri acara dan diberi hiburan puisi, saya menyimak. Ada beberapa pujangga yang suka memainkan ulangan kalimat atau kata. Kini, jika itu dilakukan sang penyair lebih dari 3x, respek saya berkurang.

          Guru lain yang menekankan pentingnya angka 3 adalah mas Jamil Azzaini. Para trainer/writer yang dilatihnya, diberi penekanan besar tentang pentingnya 3. 

          Pertama, dari perjalanan kelasnya. Materi disajikan dalam 3 kelompok besar. Pembuka – isi – penutup. Isi, dibagi dalam 3 bagian lagi. Tentang yang harus dilakukan seorang trainer: persiapan – pelaksanaan – evaluasi. Untuk masing-masing bagian, diberi 3 kata kunci. Sehingga, saat usai pelatihan, peserta pulang  dengan membawa materi yang sudah nempel di benak, tak perlu membuka diktat lagi untuk sekedar mengingat point utama yang diajarkan.

          Kedua, para peserta diminta berlatih menuliskan atau merencanakan materi pelatihan yang biasa mereka sampaikan dalam 3 point utama, menurunkan 3 sub bagian untuk setiap point, dan demikian terus ke bawah. 

           Sebagai efek dari pelatihan tersebut, saat menulis, saya sangat memperhatikan pengulangan dan pembagian jumlah bahasan. Karena saya memperhatikan betul, kenyamanan yang harus dirasakan pembaca. Jika pun bahasannya memang banyak, saya coba pilah-pilah dan kelompokkan per-3 item. Tentu tak kentara dalam tulisan akhir. Saya rangkai dalam sebuah alinea  saja. 

          Dari pengalaman ini, saya belajar. Jika ingin mempengaruhi orang lain secara optimal, mulailah dengan menyederhanakan materi menjadi 3 point  saja untuk sekali sesi. Dan jangan ulangi lebih dari 3x.

1 komentar: