Senin, 02 Maret 2015

Belajar Menulis ala Wartawan Tempo



Enak dibaca dan perlu. Jargon yang sangat melekat pada Majalah Tempo. Sesuai betul motto dan isi. Karena itu, ketika mendapat informasi ada pelatihan menulis artikel yang dibimbing oleh wartawan majalah berita legendaris ini, saya langsung meluangkan waktu. Saya ingin tahu bagaimana jurnalisnya membuat tulisan.

Mas Bagja Hidayat adalah wartawan Tempo yang menjadi pembicara pelatihan. Acara diselenggarakan ikatan alumni ITB angkatan 89, Sabtu 28 Februari 2015. Bertempat di gedung FMIPA, program studi Farmasi, Universitas Pakuan, Bogor. Saya hadir pukul 08.00 s.d. 14.00. Materi selama waktu itu saya tuliskan disini. Selain untuk memperkuat ingatan, juga sekaligus ajang praktikum. Apalagi mas Bagja menekankan bahwa hanya satu kunci agar mahir menulis. LATIHAN!  Perbanyak latihan. Dan, berkesinambungan.

Setiap kali menulis, setiap saat itu pula kita belajar. Semakin banyak menulis, semakin berlimpah pelajaran yang dikuasai. Bahkan seorang Goenawan Muhammad pun, saat  menulis Catatan Pinggir, menyiapkan materi seperti pemula. Untuk kolom sepanjang 1 halaman,  beliau memerlukan waktu setidaknya 5 jam. Padahal kita membaca hasil tulisannya tak sampai 10 menit. Sekitar 2 jam pertama, pak GM akan membaca ulang beragam informasi penunjang topik yang dibahas. Setelah itu baru beliau menuliskannya. Kisah ini disampaikan mas Bagja sebagai motivasi bagi kami. Tak perlu gundah, karena menuliskan ide tak selalu mudah.

Artikel yang baik adalah tulisan yang jelas dan ringkas. Tulisan seperti ini cirinya pasti, fokus.  Artinya, intisari yang dibicarakan harus tertangkap pembaca. Cara mencapainya ditentukan oleh pemilihan angle. Sudut pandang. Ini yang akan menjadi pembeda. Di dunia ini tak ada yang baru. Perbedaan akan diperoleh dari bagaimana penulis melihat sesuatu, dan bagaimana dia menyampaikannya.

Merumuskan sudut pandang, bisa melalui teknik paling kuno dari jurnalistik tapi sampai sekarang masih valid, yaitu membuat daftar pertanyaan sesuai prinsip 5 W + 1 H.  Who, What, When, Why, Where, dan How. Jika perlu, buat sampai 200 pertanyaan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi isi tulisan kita. Pikirkan semua pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca. Tulisan yang baik, isinya memberi jawaban atas apapun pertanyaan yang terpikir oleh pembaca.

Agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa keluar dari benak, seorang penulis harus mempunyai sikap curious dan skeptis. Selalu penasaran atas apapun, dan tak mudah puas menerima apapun. Sikap ini dapat diterapkan untuk menulis berbagai genre. Tak hanya untuk berita.

Pertanyaannya, sampai seberapa detil tulisan itu perlu dibuat? Seberapa jelas penjelasan perlu disampaikan? Cara memeriksanya cukup mudah. Setiap informasi yang tampil harus relevan terhadap sudut pandang yang sudah ditentukan di awal.  

Sekian banyak pertanyaan telah diajukan, sementara yang dituliskan hanya yang relevan dengan sudut pandang. Apakah ini tak akan menjadi mubazir? Tidak. Sama sekali tidak. Dengan informasi yang berlimpah, penulis justru bisa memilah-milah. Dari rencana menuliskan satu artikel dengan sudut pandang tertentu, kini bisa saja berkembang biak. Menghasilkan tulisan lain dengan sudut pandang berbeda, atau topik berbeda, atau menjadi pemicu ide pengumpulan informasi lainnya. Oya, dengan pengetahuan lebih banyak, penulis akan lebih utuh menangkap situasi dari tema yang akan dia tuliskan.

Jenis tulisan dapat dikategorikan seperti berikut:
a.      Hardnews
b.      Newstory
c.       Features
d.      Opini, editorial
e.       Esai, kolom
f.       Ruang tafsir.

Point a sampai e adalah wilayah jurnalistik, sedangkan f masuk kelompok sastra (prosa/puisi). Dari 5 jenis tulisan jurnalistik, point a dan b milik eksklusif wartawan. Penulis umum bisa masuk di point c, d, dan e. 

Features istilah untuk liputan human interest. Cara penyampaiannya naratif (bertutur). Lebih bersifat menghibur daripada memberi informasi. Salah satunya adalah tulisan tentang hasil perjalanan.

Opini bukan reportasi, karena tak sekedar menyampaikan informasi, melainkan ada gagasan di dalamnya. Karena itu, gagasan harus terlihat lebih dahulu, pemaparan data tidak utama. Jika plot reportasi adalah info yang disampaikan secara adegan demi adegan, maka plot opini lebih ke penyampaian gagasannya. Info yang disertakan akan mengikuti sikap dari gagasannya itu.

Jika tadi kita sudah mengetahui tentang jenis tulisan, selanjutnya kita perlu memahami kriteria berita. Artinya, bagaimana sesuatu bisa kita terima sebagai berita.

-          Magnitude. Skala informasi. Tsunami Aceh jauh lebih besar dibandingkan pencurian sepeda motor di pasar, misalnya.
-          Tokoh. Bersepeda di jalur Car Free Day yang saya lakukan biasa saja, tapi ketika presiden yang melakukan, menjadi berita.
-          Proximity. Kedekatan masalah dengan pembaca. Efek kenaikan harga BBM, contohnya. Semua lapisan masyarakat merasa terkena imbasnya.
-          Aktual. Masih hangat dibicarakan publik.
-          Relevan
-          Tren. Menulis tentang batu akik hari ini pasti dibaca orang banyak.
-          Unik. Buku Blackswan-nya Malcolm Goldwell bisa dijadikan contoh.
-          Dramatik 

Cukup memenuhi satu saja kriteria di atas, sesuatu bisa menjadi berita.

Sebuah artikel yang baik secara fisik memuat judul, lead, bridging, isi, dan ending. Penyebutan ini secara berurut menyatakan posisinya dalam tulisan, dan besar porsinya dalam hal menarik minat pembaca. Hal ini tak berkaitan dengan jumlah tulisannya. Sebagai ilustrasi, tulisan 1 halaman majalah setara dengan sekitar 4500 karakter (termasuk spasi), atau sekitar 13 alinea (@ 35-40 kata). Lead cukup 1-2 alinea, bridging 2 alinea, isi 10 alinea, ending 1 alinea/kalimat. 

Menulis kalimat juga tak perlu panjang-panjang. Satu kalimat cukup 9-12 kata. 1 alinea, cukup 3-4 kalimat.

Mas Bagja menjelaskan satu demi satu. Lead adalah pintu masuk dan setting cerita. Hindari banyak koma dan angka. Pernyataan lead bisa berupa deskriptif, naratif, kesimpulan, atau bahkan pertanyaan. Lead sangat penting. Pembaca akan memutuskan melanjutkan atau berhenti membaca dari lead ini. Bridging, sesuai namanya, menjembatani lead dan isi. Isi adalah pemaparan pokok pikiran secara keseluruhan. Ending bisa putus, melingkar, atau kesimpulan, dalam kaitannya dengan bagian pembukaan. Judul harus menarik, penting, dan relevan dengan isi. Cukup 3-4 kata. Sifat judul harus anekdotal, parodi, sebagai etalase, dan memikat karena membangkitkan keingintahuan pembaca. Jika sudah terbuat judul, jangan lupa cek ulang. Jika menjadi seperti judul jurnal, jangan ragu menggantinya.

Dari sisi bahasa, artikel sebaiknya memakai kalimat aktif. Selain itu, setiap kalimatnya memenuhi unsur S – P – O – K. Juga, sesegera mungkin tampilkan pokok kalimat. Selengkap apapun infomasi yang kita sampaikan.

Artikel populer ditujukan kepada siapa saja. Ke arah siapa saja. Karena itu, semakin sederhana, akan semakin mudah dicerna. Kalimat dan istilah juga tak perlu rumit. Semua itu agar tulisan kita menghibur. Perlu diingat pula, pembaca artikel populer ingin tuntas membaca dalam satu kali duduk. Tak perlu panjang-panjang. Toh jika artikel kita baik, pembaca akan menceritakannya lagi kepada orang lain. 

Beberapa tips.

-          Selalu setia kepada angle/sudut pandang.  Jika angle-nya tajam, maka tulisan akan fokus. Karenanya, pembaca akan dapat menangkap gagasan yang disampaikan.

-          Saat mau menulis, siapkan dulu daftar pertanyaan. Karena ini akan mengantar kita berpegang pada plot yagn direncanakan. Tulis dulu semua, baru nanti diedit.

-          Tak perlu peduli perspektif orang lain atas tulisan ataupun gagasan kita. Tujuan kita menulis adalah menyampaikan perspektif kita. Itu saja.

Saat saya membaca ulang catatan saya selama pelatihan, saya takjub sendiri. Catatan di buku tak bergaris ini rapi. Tulisan saya tak naik turun, dan huruf-hurufnya konsisten. Apa artinya? Saya tidak mengantuk! Berarti saya sangat menikmati paparan demi paparan mas Bagja. Dari semua penjelasannya, saya hanya berkesimpulan satu, jargon majalah Tempo tak sekedar kata-kata, tetapi sudah terinternalisasi dalam setiap helaan nafas para punggawanya. Salut. 
 

Minggu, 01 Maret 2015

Kerja Cerdas atau Kerja Cerdik?

Libur kenaikan kelas tahun ini, Amira mulai dengan sebuah proposal. Dia ingin Smartphone. Hadeuh...
Di sisi lain, saya sedang ingin mempunyai copy dari buku The Analects of Confucius. Saya coba ramu menjadi sebuah tawaran bisnis.

Saya minta dia mengetikkan isi buku. Setiap bab, saya kenakan tarif tertentu. Jadi, jika tugas ini selesai, dia akan mendapat honor 20 bab kali tarif satuan per bab. Tidak cukup untuk membeli smartphone, tapi setidaknya dia akan punya tabungan awal. Sebenarnya, secara implisit, saya berharap ada kata-kata bijak Confusius yang akan terserap selama mengetik.

Amira semangat sekali. Dia menghitung jumlah honor yang akan diterima. Dia senang karena bisa berlama-lama di komputer sambil mendapat bayaran.

Sehari sebelum pekerjaan dimulai, muncul pernyataan yang mengubah tujuan.
"Mending smartphone atau kamera DSLR ya?"
Saat Bapaknya merespon cepat dengan  mendukung pembelian kamera, saya baru bertanya-tanya. Semula saya anggap mubazir kalau beli kamera, toh kami sudah punya kamera saku. Ternyata, kamera yang Amira maksud adalah kamera canggih yang biasa dipakai profesional.

Belakangan saya baru tahu. Amira mempunyai ide tentang kamera ini dari bacaannya yang bercerita tentang seorang fotografer. Saya jadi ikut senang dan mendukung. Karena dengan mempunyai kamera, dia akan punya ruang ekspresi lebih luas.

Hari Sabtu, Amira mulai bekerja. Sejak pukul 7 pagi sudah di depan komputer. Memilih font, menentukan spasi. Mulailah mengetik. Satu demi satu kata....
Untuk Amira yang tidak terbiasa mengetik di komputer, ini pekerjaan berat. Belum juga usai satu alinea. dia buka-buka laman favoritnya di dunia maya.

Saat saya lewat dan melihat dia sedang di laman lain, saya tegur dengan "Ingat kamera..."
"Tapi aku mau refreshing dulu..."
Haha, jadilah refreshing yang benar-benar refresh. Baca-baca komik, makan mie, ngemil, buka-buka laman lain... Bahkan refreshingnya kemudian ditutup dengan ISHOMA. Istirahat, SHOlat, dan MAin di taman.

Sampai usai jam kerja, selesailah dia mengetik 2 alinea pembukaan dan 4 point dari bab 1. Lumayan untuk kerja hari pertama.

Hari kedua, kami pergi seharian. Sampai di rumah hampir pukul 10 malam. Dan Amira dengan semangat malah menyalakan laptop, bukannya tidur. Berhasil dia mengetik 4 point lagi dari bab 1.

Hari ketiga, kami gantian pakai laptop. Saat menjelang siang, Amira tergopoh-gopoh ke kamar saya, dan mengatakan, "Mah, tau gak... aku searching... dan dapat tautan teks buku Confusius. Lengkap. Download e-booknya. Selesai! Honornya mana?"
mmm....

Sabtu, 28 Februari 2015

Utak-atik Statistik

"Mah, shampo merk X itu bagus ya?" tanya anak saya.
"Mengapa kamu berkata begitu?" saya balik bertanya.
"Ini. Katanya, 9 dari 10 orang memakai shampo X," ujarnya sambil menunjukkan sebuah leaflet.

Saya tersenyum.
"Apakah di situ tertulis, siapa saja yang ditanya?"
"Tidak."
"Shampo X mungkin bagus, tetapi kita tidak boleh mudah tergoda oleh tampilan angka."

Saya lanjutkan dengan memberi perbandingan berikut.
Seandainya mamah bertanya kepada teman-teman kamu yang baru selesai les di XXX, "Mana kursus bahasa Inggris yang paling bagus, XXX atau YY?", kira-kira jawaban mana yang terbanyak didapat?
"Ya XXX, dong."
Nah, itu dia kuncinya.

Membaca suatu statistik tidak bisa hanya berdasarkan angka. Kita harus jeli terhadap segala sesuatu di belakang munculnya angka tersebut, dan harus waspada tentang bagaimana angka tersebut disampaikan.

Diantaranya:
- Sumber data.
Sampel terbaik adalah sampel acak. Data yang diperoleh akan sangat representatif. Jika iklan tadi mendapatkan data secara acak, maka jika kita bertanya pada sembarang orang secara acak, akan diperoleh hasil yang serupa. 9 dari 10 orang yang kita tanya akan menjawab memakai shampo merk X tersebut.

Jika sampelnya benar-benar acak pun, ada aturan sendiri mengenai jumlah sampel dibandingkan populasi. Misalnya, 9 dari 10 murid SMA Z menggunakan shampo X. Informasi ini tidak memenuhi syarat jika pertanyaan hanya diajukan kepada 10 murid dari 1000 siswa sekolah tersebut.

Bahkan, kapan sampel diambil pun harus diungkap. Misalnya, murid SMA Z ini ditanya satu jam setelah ada pembagian gratis shampo X ukuran 200 ml dalam acara PORSENI tahun 2011.

Tentu, tidak banyak pemasang iklan mau membuat survei sempurna. Repot. Mahal. Dan hasilnya belum tentu sesuai yang diharapkan. Tak apa, itu urusan mereka.
Sebagai konsumen, kita hanya perlu waspada, tetap berpikir jernih, tidak mudah tergiur oleh iming-iming iklan yang seolah-olah intelek karena mengungkap data.

- Kriteria.
Pengelompokan data dalam suatu informasi harus jelas batasannya.
Batasan dari pembuat informasi harus eksplisit sehingga sama persepsi dengan yang membaca.
Ketika disampaikan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah 31 juta sekian orang, harus jelas apa yang disebut miskin. Bisa saja pembaca yang belum sanggup membeli mobil, tetapi memiliki 2 sepeda motor, menyebut dirinya miskin. Jadi dia merasa berhak atas penerimaan BLT :)

-Metode.

Kamis, 15 Januari 2015

Umroh3 - Tips Nyaman Shalat di dalam Masjid





Mulai bulan September, kami melakukan renovasi rumah. Atap dan kusen yang hancur oleh rayap, kami ganti. Untuk itu, semua barang dan kehidupan di rumah lama, kami pindahkan ke rumah sebelah. Jika untuk perbaiki atap di rumah seluas 55 m2 saja kami harus pindah, bagaimana pula dengan pembongkaran dinding dan 3 lantai kemudian membangun baru? Ternyata, aktivitas di dalamnya tetap berlangsung.

Begitulah yang terjadi di Masjidil Haram. Pembongkaran dan pembangunan besar-besaran boleh saja dilakukan, tapi aktivitas ratusan ribu, bahkan jutaan, orang didalamnya tetap berlangsung seperti biasa. 

Suami saya pernah membaca komentar seorang kontraktor bangunan. Katanya, proyek perluasan Masjidil Haram ini secara teknis paling sulit, karena kehidupan di dalamnya tak boleh terganggu. Pemerintah Saudi tak bisa melarang orang beribadah. Mereka hanya dapat mengurangi volume saja. Membatasi izin umroh dan haji dari setiap negara, sehingga secara total jumlah orang tak terlalu banyak.

Saya tak yakin jumlah orang berkurang. Hampir semua peziarah, tak hanya ke Makkah. Mereka mampir juga ke Madinah. Jumlah orang yang shalat di Masjid Nabawi, selalu berlimpah. Bahkan ada askar perempuan yang berkata bahwa dia melihat yang umroh kali ini lebih banyak daripada saat musim haji lalu.

Di bandara Doha saat antri boarding, saya mendengar 2 laki-laki berbincang. Yang satu menanyakan kepada yang lain. Dari rambutnya, saya yakin dia baru umroh juga seperti kami. Dia berkata, bahwa dalam analisisnya, kapasitas Masjidil Haram saat ini hanya 45% yang bisa dipakai ibadah.

Bisa jadi. 

Jika tak mencermati, jamaah mungkin tak menyadari bahwa banyak bagian masjid yang tak bisa dipakai. Mereka hanya akan melihat itu sebagai dinding pembatas saja. Ya, bagian yang sedang dibongkar/diperbaiki dan bagian yang dipakai, dibatasi dinding penuh sampai atas dan dicat rapi. Seolah-olah memang begitu adanya.

Teringat ziarah saya yang pertama tahun 2000. Masjidil haram adalah masjid terbuka yang sangat luas, melingkari Ka’bah. Melihat ke depan, ke belakang, ke kiri dan ke kanan, tempat shalat semata diselang-seling jajaran tiang. Dinding belakang adalah dinding terluar, tempat pintu melekat.

Shalat di bagian manapun, di depan kita adalah Ka’bah. Kini, sebagian besar tempat shalat, berhadapan dengan dinding. Sensasi shalat di Masjidil Haramnya tak terlalu terasa. 

Saya ingat saat-saat norak dulu tahun 2000. Ka’bah adalah bangunan yang selalu dibayangkan, muncul dalam mimpi-mimpi, terlihat di tempat sujud. Mengunjungi Baitullah adalah cita-cita tertinggi. Jadi, saat bangunan Ka’bah ada di hadapan mata, saya tak lepas terkesima. Saat shalat, seringkali pandangan tak tertuju ke tempat sujud, tapi ke depan, menatap Ka’bah. Alasan logisnya, saat shalat di Indonesia, saya menatap Ka’bah di sajadah. Jadi, ketika Ka’bahnya di hadapan, kenapa saya hanya menatap lantai? Hampura, mungkin ini kelemahan haji di usia muda. Semangat dan tenaga berlimpah, kedalaman pemahaman agama belum sempurna.

Belakangan, sajadah semakin beragam. Kebanyakan malah tak menampilkan gambar Ka’bah lagi di tempat sujud. Jangan-jangan ini hasil investigasi para ulama, bahwa banyak ummat yang salah kaprah seperti saya.

Memang, shalat menghadap kiblat, dengan posisi Ka’bah sebagai penentu arah. Tapi, dalam tata tertib shalat, pandangan selalu tertuju kepada satu titik di tempat sujud, agar mata tak liar kemana-mana, lebih khusyuk.

Kondisi  bulan Desember 2014, tempat shalat –khususnya bagi perempuan- yang berhadapan dengan Ka’bah, hanya di satu sisi ka’bah sebelum rukun yamani, di bawah tempat tawaf darurat. Askar membatasi dengan tali wilayah khusus perempuan.

Tempat lain adalah di depan Multazam, lantai 1.

Tempat shalat lain bagi perempuan ada di bagian belakang di sebagian wilayah. Baik itu di lantai 1 maupun di lantai 2 di dalam masjid. Disini, wilayah yang diperuntukkan bagi perempuan dibatasi oleh rak Al Qur’an yang diletakkan berjajar membentuk wilayah persegi tertutup. Ada 2 persegi besar di lantai 1 dan 2 tempat  besar di lantai 2.

Tempat shalat di lantai 1 dan di lantai dasar depan Ka’bah selalu cepat sekali penuh. Mungkin karena lebih mudah dicapai, dan usai shalat bisa langsung ke tempat tawaf. Sementara, di lantai 2, kita hanya bisa shalat. Usai shalat, jika ingin tawaf harus turun dulu, keluar masjid, dan masuk lagi melalui pintu lain untuk menuju Ka’bah. Biasanya, jika shalat baru usai, yang akan masuk dihalangi petugas. Mereka mendahulukan yang akan keluar usai shalat.

Kecuali yang di depan Ka’bah lantai dasar, saya pernah mencoba shalat wajib di tempat-tempat lainnya. Paling nyaman buat saya adalah di lantai 2. Karena persaingan tak seketat di bawah. Begitupun, kita tetap harus sudah menuju masjid sekitar 1 jam sebelum waktu shalat agar masih bisa mencari tempat yang enak. Untuk subuh dan dzuhur, 2-3 jam sebelum waktu adzan, lebih memuaskan. Kita masih bisa memilih posisi paling kosong. Saya suka mengambil tempat paling depan dan pojok, sehingga shalat kita tak diganggu lalu lalang orang kemudian. 

Ada banyak shalat yang bisa kita lakukan sambil menunggu shalat wajib, selain tahajud atau dhuha. Shalat hajat, shalat istikharah, shalat taubat, bahkan shalat sunnah mutlak. Kalau tidak salah, shalat sunnah mutlak itu bisa diterjemahkan sebagai, shalat sunnah saja, just a pray. Jumlah rakaat tak dibatasi, tapi kita lakukan 2rakaat–2rakaat.

Menjelang subuh, jangan terkecoh oleh adzan. Di Makkah dan Madinah, adzan subuh dikumandangkan 2 kali. Adzan pertama, lebih ke ajakan untuk shalat tahajud atau membangunkan yang masih tidur. Satu jam-an dari situ, baru akan adzan Subuh untuk shalat. Jadi, jika kita sedang nikmat tahajud, atau shalat sunnah lainnya, tak perlu buru-buru menutup dengan shalat Witir kala adzan terdengar. Tenang saja. Masih bisa beberapa kali shalat 2 rakaat.

Indikator shalat subuh sudah dekat biasanya justru berupa...keramaian. Saat kita menoleh dan tiba-tiba sekitar kita sudah penuh orang, itu berarti sudah mepet waktu shalat.

Masuk mesjid lebih dini, juga menenangkan hati. Memangnya enak masuk mesjid kala sebagian besar lokasi sudah terisi? Selain mata lihat kiri kanan jauh dekat mencari tempat yang masih kosong, kita juga harus memperhatikan langkah, jangan sampai menginjak properti orang, atau bahkan menginjak kepala orang yang sedang sujud.

Beberapa kali saya mengalami, masih ada banyak tempat kosong di sekitar, tapi di luar rak Al Qur’an yang menjadi pembatas wilayah perempuan, sudah tampak berdesakan orang mencari tempat tersisa. Ternyata, saya sempat alami juga telat datang ke mesjid, ada batas waktu tertentu askar menutup akses ke dalam lokasi perempuan. Jika dia lihat sekilas sudah penuh, dan sudah banyak orang yang enggan mencari sampai ke dalam langsung gelar sajadah di jalanan, maka orang-orang yang datang berikutnya akan diarahkan ke tempat shalat lain yang lebih masuk ke dalam mesjid, atau bahkan diminta cari tempat lain di luar saja.

Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, memiliki banyak sekali tiang. Jika kita sudah tak kebagian posisi pojok depan, maka posisi paling nyaman berikutnya adalah di belakang tiang. Bukan di samping. Kalau sudah kebagian lokasi ini, benar-benar bikin Pe-We. Mau shalat, ngaji, wirid sampai tiba saat shalat wajib, tak akan ada yang tiba-tiba andeprok di depan kita.



Rabu, 14 Januari 2015

28 Detik Saja




Novel karya Ifa Inziati
Penerbit Bentang belia, PT Bentang Pustaka, 2015

Hanya butuh 28 detik pertama untuk tahu ini buku keren. Pemilihan sudut pandang. Penggunaan “aku” sebagai pencerita dalam sebuah kisah perlu kehati-hatian khusus. Jika tak pandai meramu kata, akan membosankan dan kurang fleksibel mengungkap data-data penunjang cerita. Karenanya kebanyakan fiksi menggunakan penceritaan orang ketiga. Ifa Inziati memilih “aku” sebagai penutur. Siapakah aku? Temukan sendiri, dan saya yakin pembaca akan sepakat. Kreatif.

Cover dan judul buku ini juga cantik sekali. Membuat penasaran. Cerita ini mau membawa kita ke mana? 

Kalau saya tidak salah menyimpulkan, novel ini merupakan pemenang lomba yang diadakan Bentang Belia. Maaf ya Ifa dan Bentang, saya tidak mengikuti prosesnya. Tapi dari tulisan di halaman pertama, Passion Show Juara 1, saya menduga lomba ini tentang novel bertema passion atas sesuatu.

28 Detik novel yang berkisah tentang seorang barista. Lulusan ITB yang memilih bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi karena memang dia sangat mencintai dunia hitam, perkopian. Mimpinya hanya satu, menjadi barista nomor 1 di Indonesia. Demi cita-citanya itu, Candu, demikian namanya, selalu menunggu lomba 2 tahun sekali dari NBT, Nusantara Barista Tournament.

Jika pada lomba 2 tahun lalu, Candu menempati posisi ketiga nasional, maka pada tahun ini, Candu mewajibkan diri menjadi juara pertama. Bukan uang Rp 10.000.000 hadiah juara pertama yang dia incar benar, tetapi janji pak Jac sang pemilik kedai untuk mengirimnya ke Amerika Serikat, sekolah khusus tentang kopi. Adakah mimpi yang lebih indah dari seorang barista selain berkesempatan menuntut ilmu meramu kopi dari guru terbaik di bidangnya?

Candu tak menang sendiri. Dukungan dia dapatkan dari teman satu timnya di kedai KopiKasep. Kedai kecil di sebuah jalan utama kota Bandung yang digawangi 5 orang. Candu dan Satrya sebagai barista utama, Sery sebagai chef merangkap co-barista jika dibutuhkan, Nino di bagian IT, dan Winona. Pak Jac sebagai pemilik kedai, hampir sepanjang waktu penceritaan sedang berada di luar negeri. 

Namanya kumpulan anak muda, dimanapun, selalu menghadirkan cerita cinta. Ada aroma yang lebih kuat dari kopi antar mereka. Antara Winona dan Satrya, antara Shery dan Candu. Namanya aroma, terasa tapi tak terlihat.

Kedai KopiKasep sangat mewakili bisnis hari ini. Kedai kecil tapi selalu ramai. Selain karena lokasi dekat perkantoran, nama KopiKasep juga eksis di dunia maya. Nino bertugas menjaga hubungan dengan pelanggan dan mengenalkan kedai kepada pengguna internet. Sehingga orang-orang dari luar kota sudah mengenal nama KopiKasep, dan menjadikan tujuan kuliner mereka saat mampir ke Bandung.

Kemenangan Candu pada NBT juga berpengaruh pada kepercayaan publik terhadap kualitas rasa KopiKasep. Tapi, selalu, penjaga keberadaan sebuah cafe adalah pelanggan tetap, khususnya pelanggan-pelanggan awal. Seperti KopiKasep punya Teh Cheryl yang rutin mampir sepulang kerja.

Kisah mulai bergulir ketika suatu hari Teh Cheryl datang tak biasa. Siang-siang. Bersama keponakannya. Ternyata ini memberi efek takbiasa pula pada kehidupan KopiKasep.

Cinta Candu pada kopi diuji. Seorang gadis genius tapi asosial mencuri perhatiannya. Rohan nama gadis itu. Keponakan teh Cheryl. Dia pernah menjadi juara olimpiade fisika. Sayangnya, Rohan sadar, dia bisa fisika, tapi dia tak suka fisika. Rohan bingung dengan dirinya. Dia tak paham apa yang dia inginkan untuk persiapkan masa depannya. Tak bisa memilih sendiri jurusan untuk tempat kuliahnya nanti.

Rohan takjub melihat ada orang seperti Candu, yang gairahnya pada sesuatu sangat menggebu. Rohan masih mencari apa yang menjadi “sesuatu” itu baginya. 

Karena rumah Rohan sedang direnovasi, dia numpang di rumah Teh Cheryl. Secara khusus Teh Cheryl minta izin kepada kru KopiKasep untuk titip Rohan setiap hari kerja sepulang sekolah sampai Teh Cheryl jemput sepulang kerja. 

Setiap hari, Rohan hanya memesan raspberry iced tea. Selama beberapa bulan. Sehingga dia sudah dianggap sebagai bagian dari KopiKasep, dan seperti yang lainnya, dia mendapat nama panggilan. Raspberry. Rohan pun menjadi saksi, betapa serius Candu dan teman-teman menyiapkan diri untuk ikut NBT kali ini.
...


Novel Ifa ini tak hanya cover, penamaan babnya juga menarik. Memberi bonus kepada pembaca, bagaimana secangkir kopi dibuat. Istilah-istilah yang bertaburan, menguatkan pembaca bahwa kisah ini “nyata”. Seolah-olah kita memang sedang ada di dalam sebuah kedai kopi. Jika saja catatan kaki yang lengkap, seperti kata-kata dalam bahasa Sunda yang dipakai, juga diterapkan untuk istilah-istilah di kedai kopi, tentu pembaca akan lebih terhibur dan mendapat pengetahuan tambahan.

Saya kebetulan paham beberapa istilah, sebagaimana saya paham sosok seperti Candu bukan sekedar imajinasi. Ada dalam kehidupan nyata. Saya mengenal seseorang dengan passion yang kuat terhadap kopi, mas Tejo, alumni IPB, pemilik Kopi Ranin Bogor. Dari beliau juga saya mendapat sedikit pengetahuan tentang kopi dan sekitarnya. Di Kopi Ranin, pengunjung ditulari kegandrungan terhadap kopi. Ketika pesanan datang, tak hanya secangkir kopi yang tersaji, tapi juga sebuah timer. Saat timer berbunyi, itulah detik kopi kita paling nikmat untuk diminum.

Di luar topik tentang kopi dan isi novel, saya tersenyum saat Ifa menjelaskan bahwa Candu adalah alumni jurusan Teknik Fisika. Di komunitas mantan asisten PIKSI, beberapa teman laki-laki alumni dari jurusan itu suka  memasak. Ada Chef Epsi spesialis Roti Bulan Sabit, ada Chef Tito untuk masakan Jepang, bahkan Chef Endang buka warung Bakmi Cimanggu di Bogor. Jangan-jangan, sinyalemen adanya program studi kuliner di TF, benar adanya... :)

Jadi, sukses untuk Ifa. Tak sabar menunggu “sajian kopi” berikutnya...