Senin, 16 Juni 2014

HONEYMOON ALA BACKPACKER



Penulis :           Gol A Gong
Penerbit:          Pelangi Indonesia, 2014

          Suatu pagi di awal April 2012, saya membaca satu kicauan mas Gol A Gong  di Tweeter, “Tias minta dicium di Taj Mahal.” Bikin iri saja!

          Beberapa saat sebelumnya, saya sempat ngobrol jarak jauh dengan mbak Tias. Mbak Tias dan  mas Gol A Gong berencana  melakukan perjalanan panjang ke beberapa  negara dan akan diakhiri dengan umroh. “Buat kami, ini bekerja, Teh,” begitu penjelasan mbak Tias. “Di setiap kota yang disinggahi, kami akan memberi pelatihan menulis.” Dan sebagai penulis, perjalanan perlu dilakukan untuk memperluas wawasan dan memperkaya rasa, sehingga mempunyai bahan dan gairah baru untuk ditulis. Saya sepakat.

          Hanya saja, usai membaca tweet di atas, saya sempat terperangah. Pertama, agak sulit membayangkan mbak Tias, putri Solo yang anggun dan santun, bersikap agresif di muka umum seperti itu, apalagi di negara orang. Kedua, saya semula terlalu percaya bahwa ini hanya sebuah perjalanan dinas dari dua orang penulis. Jadi saya terkejut, plus iri :), dengan segala kemungkinan pengalaman mereka berduaan saja selama 50 hari.

          Iri saya ternyata beralasan. Kemarin saya mendapat buktinya. Sebuah buku. Karya terbaru mas Gol A Gong, Honeymoon ala Backpacker. Buku setebal 196 halaman dari penerbit Pelangi Indonesia ini mengisahkan perjalanan panjang mereka.

          Perjalanan yang sangat panjang, karena bermula dari 16 tahun yang lalu. Saat menjelang nikah, mas Gol A Gong sempat mengatakan sambil bercanda bahwa dia akan memberi mas kawin perjalanan keliling dunia kepada mbak Tias. Mungkin mbak Tias tak menganggap itu serius, apalagi ketika fakta berbicara. Dari kenyamanan hidup terjamin gaji bulanan, tak lama usai punya anak, mas Gong malah keluar dari kerja kantoran. Mengajak mbak Tias menepi ke sebuah kampung di kota Serang. Perumahan, tapi bagian belakang berbatasan dengan padang ilalang. Kelak, sedikit demi sedikit tanah di belakang rumah itu dibeli, dan digunakan mewujudkan mimpi. Membangun generasi membaca. Hari-hari mas Gong dan mbak Tias pun tak pernah jauh dari urusan 4 anak dan Rumah Dunia.

          Jauh di dalam hati, mas Gong tak main-main dengan niatnya. Dia menganggap janji perjalanan keliling  dunia sebagai hutang  mas kawin. Dia ingin mewujudkannya bagi istri tercinta. 50 hari keliling dunia pun dirancang.

          16 Maret 2012 sampai 6 Mei 2012 berkeliling ke-7 negara. Singapura, Malaysia, Thailand, India, UAE, Qatar, dan Saudi. Jika teman-teman pernah membaca Balada si Roy, kisah yang merupakan hasil petualangan mas Gong saat muda, maka backpacker-an kali ini sangat jauh berbeda. Selain karena usia, juga karena ada permaisuri bersamanya. Membawa-bawa ranselnya iya, tetapi tak pakai liften atau tidur  di stasiun.

          Simbol-simbol utama dari setiap negara wajib dikunjungi. Merlion Park, Petronas Twin Towers Malaysia, Burj Khalifa, Taj Mahal, dan tentu saja Masjidil Haram. Perjalanan mencapai puncaknya dengan umroh. Tapi, nyawa kota juga ikut dikelana. Aura khas India di Kalkuta, penampungan TKW bermasalah di Saudi, dan semacamnya.

          Transportasi yang dipilih juga tidak terlalu nge-backpacker. Sisi kenyamanan istri sangat diperhatikan. Seperti saat menuju Johor Bahru dari Singapura, Gol A Gong mengikuti saran teman-teman di sana untuk memilih pakai taksi daripada bus. Untung saja. Karena jauh lebih nyaman. Di perbatasan tak perlu naik turun kendaraan dan menyeret-nyeret koper saat pemeriksaan. Duduk manis saja di taksi, dan supir taksi yang menguruskan.

          Begitu juga masalah penginapan. Mas Gong menekan keinginan untuk mencoba  penginapan spesialis backpacker, karena dia melihat istrinya butuh istirahat dengan tenang di tempat yang nyaman. Ini bukan tentang kemewahan, tapi lebih ke kebersihan tempat atau ketersediaan kamar mandi representatif.

          Di hampir semua tempat, rekan-rekan mas Gong tak sekedar menyambut, tapi juga  menyediakan  fasilitas antar jemput dan kamar di rumah atau apartemen mereka. Tentu pasangan ini senang, karena bisa berbincang lebih lama dengan teman. Pun kelancaran perjalanan. Tetapi, DNA petualang mas Gong membuatnya meminta izin 1-2 hari di setiap kota untuk berkelana berdua saja dengan mbak Tias, ranselan. 

          Bulan madu sejatinya bukan sekedar merengguk kemanisan.  Tapi tentang mengenali pasangan. Karena bulan purnama sekalipun, punya sisi yang tak terpendar cahaya. Jadi, perjalanan menyusuri setengah punggung bumi ini pun banyak menyodorkan tantangan  dalam rangka lebih memahami istri atau suami. Dalam hal ini, karena penulis adalah suami, dia lebih banyak menekankan pengetahuan barunya tentang  sang  istri.

          Salah satu contoh, standar kebersihan. 16 tahun, mas Gong sudah terbiasa dengan aturan main mbak Tias. Tak disangka, aturan ketat itu tetap diterapkan saat berpetualang seperti ini. Cuci tangan dan kaki sebelum tidur, ternyata tak boleh ditawar, walau badan sudah lelah usai jelajahi berbagai wilayah. Mas Gong menurut saja dengan pertimbangan, ini honeymoon,  istriku harus mendapat yang terbaik, termasuk kenyamanan hatinya.

         Dalam kerangka berpikir dan bertindak begitu, tentu saja mas Gong sangat terkejut ketika suatu hari mbak Tias  tiba-tiba menangis usai mas Gong memberitahu sudut pengambilan gambar yang lebih bagus. Selama perjalanan ini, mereka seperti berbagi tugas. Mas Gong sebagai penulis, dan mbak Tias fotografer. Laporan perjalanan ini nantinya akan dimuat di sebuah majalah. Makanya, mas Gong ingin mendapatkan hasil terbaik. Ini kaitannya dengan pekerjaan, bukan bulanmadunya. Ternyata, instruksi “sebaiknya begini, jangan begitu” diterima mbak Tias sebagai teguran, begini salah begitu salah. 1-2 hari masih tahan. Lama-lama, tak kuasa pura-pura, langsung berurai airmata. Niat baik pun harus dikomunikasikan dengan baik, bahkan terhadap istri.

          Pengenalan lain, terutama, adalah bahwa sangat berbeda laki-laki dan perempuan dalam perjalanan, khususnya bagi mereka yang  sudah mempunyai anak. Mas Gong menemukan, mbak Tias sering terganggu karena rindu pada anak-anak. Di hari-hari awal,  terlihat belum lepas. Apalagi ini perjalanan panjang berdua. Pertama kali anak-anak ditinggal ayah dan ibunya sekaligus dan dalam waktu lama. Di pertengahan perjalanan, tersebut nama satu anak saja bisa membuat mbak Tias tiba-tiba menangis. Kangen. Mas Gong menjadi jauh lebih respek terhadap ibu anak-anaknya ini. 

          Membaca buku ini mengasyikkan. Tak sekedar membuat kita mengenal tempat-tempat yang dikunjungi, kita juga diajak  ikut menjalani. Entahlah, mas Gong membuat saya merasa sedang bersama suami  di sana. Saat tiket yang sudah dipesan lama tiba-tiba tak berlaku karena maskapainya pailit, saya paham kepanikan mbak Tias, dan saya merasa tindakan menenangkan dan mencari solusi itu akan dilakukan suami saya juga pada kondisi serupa. 

         Ada berderet tips yang bisa diterapkan para calon petualang. Ada pengetahuan bagaimana kita mengoptimalkan perjalanan agar banyak yang dilihat. Ada pesan penting, jaga pertemanan, karena bisa menjadi pembuka jalan dari segala kemungkinan.

Rabu, 04 Juni 2014

3 CUKUP, 4 TERLALU BANYAK



          Pertama-tama, mohon maaf kepada bapak-bapak yang berharap-harap senang. Judul di atas tidak berkaitan sama sekali dengan jumlah istri. :)

          Saya tergelitik untuk menulis tentang 3 mengingat pengalaman belakangan ini berkaitan dengan pesta besar bangsa  kita, memilih presiden. Mungkin teman-teman juga mengalami peristiwa yang sama atau serupa. 

          Komunitas-komunitas di sekitar kita dengan semangat berpartisipasi aktif dalam mempromosikan calon presiden jagoannya. Baik komunitas di dunia maya ataupun nyata. Berbagai jaringan media sosial dipenuhi status menjual kelebihan pujaannya dan mengorek kelemahan lawannya. Kelakuan ini tidak merujuk ke satu pihak saja, tetapi kedua tim pendukung capres. Mohon maaf, tak ada yang berhak mengklaim pihak lawan tak sopan, karena dari yang saya alami, kedua kelompok pendukung melakukan over-fanatisme yang  setara. 

          Saya tidak berencana membahas isi kampanyenya, tetapi lebih tertarik untuk menghitung jumlah pernyataan. Di  satu grup pertemanan BBG, pernah ada yang mengirim data kelebihan-kelebihan capres andalan dia. Tak kira-kira, sampai 3 kali pengiriman. Saking banyaknya point hebat dari calon dia. 14 point-an. Tahu apa yang saya rasa? Berlebihan. Kelebihan sang calon menjadi tak menarik lagi di mata saya karena promosi yang berlebihan dari sang pendukung. Walau dia bilang tak bermaksud memaksakan kehendak, kiriman sebanyak itu memberi kesan intimidasi. Itu di dunia maya. 

         Di alam nyata, minggu lalu  saya mendapat daftar 25 kesalahan aliran tertentu dalam agama saya di sebuah pengajian. Dari awal saya sudah dipihak yang  tidak sepakat dengan aliran itu. Tetapi ketika sang  pembicara merasa tak cukup menjelaskan dengan point-point utama kesalahannya saja, saya tak suka. Apalagi saat saya baca, beberapa point terkesan memaksakan. Misalnya, kesalahan  cetak di sebuah buku kok  dimasukkan ke dalam daftar kesalahan aliran tersebut. 

          Di Facebook, ada beberapa teman yang berulang-ulang membuat status tendensius. 1x okelah. 2x, “ngapain nih orang”. 3x, “Oh, dia pendukung A”. 4x? Unfriend :D 

          Saya jadi teringat pelajaran dari 2 orang guru saya. Pelajaran yang “sangat  sedikit” tapi berefek besar. Sama sekali bukan mengecilkan arti pelajarannya, tapi ini memang asli pelajaran tentang sesuatu yang sangat sedikit, 3.

          Pertama, dari Clara Ng. Penulis yang karyanya selalu menarik. Saya sempat berguru pada beliau di sebuah kelas online. Salah satu tugas saya, yang menurut saya sangat kuat karena  ada unsur pengulangannya, dinilai jelek oleh beliau. Berlebihan. Setelah ditelisik, rupanya karena ada pengulangan informasi hingga 5x. Mbak Clara bilang, ada yang disebut aturan 3. Sesuatu yang diulang, cukup 3 kali. Lebih  dari itu, efeknya tak cantik lagi.

          Awalnya ada rasa sedih karena karya hasil jerih payah ini harus diedit dengan cara membuangnya, bukan mengganti dengan kalimat lain. Pilih 3 saja. Sulit, karena sebagai penulisnya, saya merasa semua tulisan saya  sudah pas. Tetapi, setelah berhasil memenuhi saran mbak Clara, saat tulisan itu saya baca ulang, terasa  jauuuh lebih bagus (u-nya cukup 3, hehe). Efek aturan 3 kali pengulangan itu luar biasa, ternyata.

          Ini berlaku untuk banyak bagian lain  dari tulisan. Misalnya, menulis titik-titik. 3 titik saja cukup. Itu sudah menunjukkan banyak. Jika kita tulis titik lebih dari 3, sudah tak ada artinya lagi, bahkan berlebihan. Pengulangan sering muncul juga  pada puisi. Kata pertama atau kalimat pertama yang diulang-ulang. Dulu saya membaca puisi yang banyak pengulangan biasa-biasa saja. Tak kagum, tapi juga tak mengapresiasi. Sekarang, jika menghadiri acara dan diberi hiburan puisi, saya menyimak. Ada beberapa pujangga yang suka memainkan ulangan kalimat atau kata. Kini, jika itu dilakukan sang penyair lebih dari 3x, respek saya berkurang.

          Guru lain yang menekankan pentingnya angka 3 adalah mas Jamil Azzaini. Para trainer/writer yang dilatihnya, diberi penekanan besar tentang pentingnya 3. 

          Pertama, dari perjalanan kelasnya. Materi disajikan dalam 3 kelompok besar. Pembuka – isi – penutup. Isi, dibagi dalam 3 bagian lagi. Tentang yang harus dilakukan seorang trainer: persiapan – pelaksanaan – evaluasi. Untuk masing-masing bagian, diberi 3 kata kunci. Sehingga, saat usai pelatihan, peserta pulang  dengan membawa materi yang sudah nempel di benak, tak perlu membuka diktat lagi untuk sekedar mengingat point utama yang diajarkan.

          Kedua, para peserta diminta berlatih menuliskan atau merencanakan materi pelatihan yang biasa mereka sampaikan dalam 3 point utama, menurunkan 3 sub bagian untuk setiap point, dan demikian terus ke bawah. 

           Sebagai efek dari pelatihan tersebut, saat menulis, saya sangat memperhatikan pengulangan dan pembagian jumlah bahasan. Karena saya memperhatikan betul, kenyamanan yang harus dirasakan pembaca. Jika pun bahasannya memang banyak, saya coba pilah-pilah dan kelompokkan per-3 item. Tentu tak kentara dalam tulisan akhir. Saya rangkai dalam sebuah alinea  saja. 

          Dari pengalaman ini, saya belajar. Jika ingin mempengaruhi orang lain secara optimal, mulailah dengan menyederhanakan materi menjadi 3 point  saja untuk sekali sesi. Dan jangan ulangi lebih dari 3x.

Selasa, 03 Juni 2014

OLEH – OLEH



          Jika suami dinas ke luar negeri, saya selalu minta dibawakan magnet-kulkas khas negara tersebut. Senang saja mengumpulkan satu demi satu. Mengingat di mana saja suami telah meninggalkan jejak. Untuk suami pun tidak merepotkan, tidak memberatkan.
 
          Permintaan oleh-oleh bertambah jika ke dinas ke Amerika atau Singapura. Atau mungkin jika kelak ada tugas ke Inggris. Saya minta oleh-oleh buku. Dengan pertimbangan, buku-buku teks di sana lebih murah dan lengkap. 

          Minggu lalu suami pergi lagi ke Amerika Serikat. Suami sempat bercerita bahwa kali ini dia ingin mampir ke kampus Harvard. Saya pun sudah titip daftar buku yang sedang saya ingin baca. Diantaranya, buku tentang Logic, History, Differential Equations in Farming or Desease, atau buku lain keluaran terbaru. Ceritanya kan sedang ingin membaca lagi tentang Matematika.

          Kemarin suami saya baru  datang dari New York. Dia keluarkan 2 buah magnet kulkas bertema Newyork. Dan..... 1 buah buku setebal 5 cm! 

          Tapi bukan buku Matematika. 

          Buku ini berjudul The Seven Basic Plots, karya Christopher Booker, terbitan Bloomsbury. Wow banget

          Wow pertama, penerbitnya adalah penerbit  yang pertama kali menerbitkan buku Harry Potter di Inggris. Penerbit nekad sekaligus berani berpikir beda. Terbukti buku Harry Potter laku keras, padahal sebelumnya ditolak banyak penerbit. Buku HP ditolak karena tak sesuai pakem, yaitu bahwa buku anak-anak tak boleh tebal. Saya merasa akan mendapat bahasan tak umum dari buku terbitan Bloomsbury.
          Wow kedua, buku setebal 728 halaman ini tulisannya kecil-kecil. Berarti ada lebih banyak kata di dalamnya. Bahasa Inggris semua :). Baiklah, ini perintah belajar bahasa secara kasat mata dari sang pemberi... Saat masih aktif sebagai dosen, buku setebal bantal makanan  biasa. Hanya saja, buku matematika kan banyak hiburannya. Lambang dan rumus. Sehingga, tak terlalu banyak kata yang perlu dieja.

          Wow lagi, dari daftar isi, terlihat buku ini dikerjakan dengan serius. Semacam buku teks. Jangan-jangan berasal dari disertasi seseorang. Betapa topik tentang fiksi pun disajikan secara nonfiksi, secara ilmiah.

          Satu hal menarik bagi saya. Mengapa buku tentang plot ini yang dibeli suami? Memang sih, dia tidak jadi ke Harvard karena waktu luangnya Sabtu dan Minggu justru pada saat kampus tutup. Dia hanya sempat mampir ke toko buku di Newyork. Dan buku ini merebut perhatiannya. Padahal di toko buku kan banyak juga buku ilmu pengetahuan atau matematika.

          Apakah ini menunjukkan arah kenyamanan suami? Bahwa, dia lebih suka saya fokus melatih diri untuk menjadi penulis daripada membaca-baca lagi buku berumus? Hanya dia dan Dia yang tahu. :)
 
          Baiklah, saya akan coba fokus membaca buku ini dulu. Mungkin akan saya rangkum secara berseri, per bab. Agar saya lebih paham. Dan jika saya bagikan pun, yang membaca lebih nyaman.


          Ada oleh-oleh lain yang mulai suka suami bawa terutama jika dinas ke negara yang bukan berbahasa Inggris. Terinspirasi dari titipan temannya saat suami tugas ke Rusia. Sahabat suami titip oleh-oleh Qur’an dengan terjemahan bahasa Rusia. 

          Dua hal yang diharapkan manfaatnya. Pertama, kita bisa membaca huruf arabnya. Dan mengenal jika ada sedikit perbedaan cara memberi tanda  baca. Manfaat lain, walau kita tak paham artinya, kita bisa menunjukkan kepada anak, bahwa umat Islam di belahan dunia manapun, kitab sucinya sama. Sumbernya sama. 

          Karena idenya belakangan, maka saat ingin Qur’an dari negara yang telah pernah didatangi, suami titip oleh-oleh kepada teman yang sedang di negara tersebut. Ini kami dapat untuk Qur’an terjemahan bahasa Jerman dan Turki. 

          Ukuran dan berat Qur’an juga membuat kami memerlukan pendekatan khusus  kepada yang  dititipi. Pastinya mereka orang baik. Sangat baik. Karena titipan ini makan ruang di koper, dan makan berat bagasi.



          Untuk itu saya perlu berterima kasih secara khusus kepada Ibu Heti Mulyati dan keluarga, di Gottingen, Jerman, serta kepada tim dosen IPB yang menjadi “kurir”. Serta terima kasih saya juga untuk Nadira Kusaeni, putri sulung Bapak A. Kusaeni dan Bu Tanti dari LKBN Antara. Nadira saat ini kuliah di Ankara, Turki.

          O ya. Jika dinasnya di dalam negeri, oleh-oleh yang saya minta tak jauh dari.....makanan! Karena tiap wilayah punya makanan khas. Tak akan kehabisan oleh-oleh jika kita kelilling nusantara.

          Itu saja. Terima kasih.

Sabtu, 31 Mei 2014

BAWA BOTOL MINUM, YUK!



          Banyak manfaat jika kita membawa botol minum sendiri. 

          Kita tahu persis apa isi botolnya, kebersihannya, dan jumlah air yang sudah kita konsumsi. Ini berkaitan erat dengan kesehatan diri pribadi. Di perjalanan, kita tak perlu khawatir hadapi macet. Saat haus, tinggal minum. Banyak pedagang asongan menjual air minum kemasan, tetapi banyak kisah juga tentang pemalsuan. Jadi, selain mempengaruhi budget, kita juga mengurangi resiko tertipu. “Sakitnya itu disini (sambil memegang dada)” versi “lebay” ABG sekarang untuk menunjukkan rasa tak nyaman. :)

          Di kantor, di sekolah, atau di rumah teman, kita bisa isi ulang. Jika makan di restoran, kita tak perlu sakit hati membayar tinggi untuk sebotol air. Di restoran bagus, air putih saja harus membeli dengan harga berlipat dari harga warung. Di warung makan atau kaki lima, air masih banyak yang gratis, tetapi mungkin kita tak yakin kebersihan gelasnya. Jadi, membawa botol minum sendiri juga merupakan solusi yang baik.

          Membawa botol minum sendiri juga menunjukkan rasa cinta kita kepada keluarga. Banyak orang bekerja keras mengumpulkan harta agar anak cucunya terjamin secara materi. Mengurangi pembelian air minum kemasan menjadi bagian dari itu. Dengan berhemat, simpanan untuk tujuh turunan bisa lebih cepat terkumpul. 

          Kita bisa memberi “hadiah” kepada diri sendiri untuk membuktikannya. Setiap minum di luar rumah dari botol minum kita, sisihkan uang sejumlah harga minuman kemasan. Jika biasanya membeli air kemasan gelas, sisihkan Rp 500. Jika biasanya membeli air dalam botol, sisihkan Rp 3.000. Apalagi jika di restoran atau bandara, sisihkan Rp 10.000 pengganti harga air kemasan. Lakukan setiap kali minum, bisa beberapa kali sehari, kan? Kumpulkan di dompet/kotak khusus. 

          Hari ini tanggal 1 Juni. Mumpung awal bulan, kita bisa coba terapkan. Silakan kotaknya dibuka tanggal 9 Juli bersamaan dengan dibukanya kotak suara di TPS. Kita akan terkejut dengan jumlah rupiah yang berhasil kita hemat. Kebahagiaan kita akan sempurna jika capres pilihan kita menang, dan kita akan tetap terhibur walaupun capres pilihan kita kalah. Siapapun capres pilihannya, setiap orang akan tetap gembira, hanya gara-gara tak membeli air minum kemasan! 

          Selain harta, semua orang ingin hidup sehat. Untuk apa harta banyak tapi sakit-sakitan. Membawa botol minum sendiri juga menunjukkan bahwa kita sangat cinta keluarga. Tak hanya mewariskan materi, tetapi juga kita berusaha agar anak-cucu kita sehat tujuh turunan. Kok bisa? Sangat bisa!

          Membawa botol minum sendiri berarti mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Agar kesehatan terjaga, tubuh kita perlu minimal 2 liter air per hari. Jika dipenuhi dari air kemasan ukuran gelas, itu sama dengan 10 gelas. Jika terbiasa minum dari air kemasan botol, itu setara dengan 4 botol. 

          Jika kita ambil angka maksimal, berarti, dalam sebulan, kita menyisakan 300 gelas plastik atau 120 botol plastik. Dalam setahun, kita meninggalkan di muka bumi sebanyak 3600 gelas plastik atau 1440 botol plastik. Jika usia produktif keluar rumah (sekolah+kerja+dll.) 50 tahun dari usia “standar” 60-70 tahun hidup di dunia, maka kita mewariskan 180.000 gelas plastik atau 72.000 botol plastik saja! Ini hitungan satu orang lo. Di muka bumi ada sekitar 7 milyar manusia.

          Produk plastik adalah inovasi manusia yang memberi banyak kemudahan. Tetapi, di sisi lain meninggalkan bom waktu bagi keturunan kita. Satu gelas plastik baru akan terurai setelah bertahun-tahun. Saat kita wafat, gelas bekas minum kita itu mungkin baru melalui tahap menjadi serpihan. Untuk menjadi hancur dan menyatu dengan alam, perlu 100-200 tahun.

          Ada sih alat penghancur sampah yang sekarang mulai banyak digunakan  di Indonesia, insinerator. Ironisnya, alat ini justru sedang mulai ditinggalkan di negara-negara yang sudah memakainya lama. Plastiknya hancur, tapi gas buangan dari alat ini, mengandung zat beracun yang dikenal dengan nama dioksin. 

          Dioksin ikut terhirup saat bernafas, dan betah tinggal di tubuh kita. Dia tak ikut terbuang melalui keringat, air seni, ataupun pengeluaran lain. Seorang laki-laki lebih setia kepada dioksin daripada kepada istrinya, karena akan dibawa mati. Tetapi seorang wanita akan berbagi dioksin kepada anak yang dikandungnya.

          Akumulasi dioksin yang terhirup dapat berakibat fatal. Masih mending jika “hanya sekedar” kanker, karena itu hanya diri sendiri yang terpapar. Tetapi seorang wanita, berpotensi melahirkan anak-anak cacat. Kita tak pernah tahu dioksin dari seorang wanita akan mempengaruhi sel yang mana dari janin yang dikandungnya. Bisa mempengaruhi fisik, mental, atau bahkan keduanya. 

          Jika ini yang terjadi, jangan-jangan harta untuk tujuh turunan yang kita kumpulkan, hanya akan habis untuk pengobatan turunan pertama atau kedua. Dan kalaupun mereka masih bisa memberi kita turunan ketiga dan seterusnya, plastik yang kita gunakan hari ini akan menjadi tempat berpijak mereka. Sehingga lagu nasional kita akan berubah menjadi..... “Tanah plastik...ku tidak kulupakan...” cucu-cicit kita akan menyanyi sambil membayangkan eyang-canggahnya minum air dari botol plastik. Bernyanyi tidak dengan sikap sempurna  karena mungkin ketidaksempurnaan fisiknya, dan tangan di dada bukan menyatakan bangga, tapi....”sakitnya itu disini”.

          Na’udzubillah min dzalik. Tak ada yang mau seperti itu. Kalau begitu, mau ya kita mulai kurangi penggunaan gelas plastik dan botol plastik sekali pakai?