Rabu, 03 November 2010

BUKU KELIMA DARI TETRALOGI LASKAR PELANGI

Judul Buku : Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang, 2010


Bagaimana bisa ada buku kelima? Tetra itu empat. Seharusnya suatu tetralogi hanya terdiri dari empat buku, tetapi Andrea Hirata menuliskannya dalam lima buku. Bahkan, buku kelima ini berisi dua novel sekaligus.

Andrea telah menulis empat novel yang merupakan satu kesatuan. Laskar Pelangi yang fenomenal adalah novel pertamanya. Novel yang dibuat berdasarkan kisah masa kecil penulisnya ini, bercerita tentang sepuluh orang anak dari tanah Belitong. Mereka menjalani hari-hari yang luar biasa di bawah bimbingan guru yang istimewa. Guru-guru yang mampu membuat mereka bermimpi tinggi meskipun mereka adalah anak-anak dari kelompok bawah. Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov : Mimpi-mimpi Lintang adalah tiga buku berikutnya.

Sejak awal Andrea sudah menetapkan akan menuntaskan kisah para Laskar Pelangi ini dalam empat buku. Sehingga selain menyebut ini adalah suatu tetralogi, judul-judulnya pun sudah dia sebutkan sebelum bukunya terbit. Tak heran, kemunculan buku ketiga dan keempat sangat dinantikan pembaca setianya. Pihak penerbit dan toko buku pun melakukan promosi luar biasa saat buku terakhir lahir. Saat itu, nama Andrea Hirata sudah sangat populer, dan film dari buku pertama telah beredar dengan sukses menuai pujian.

Berkat Andrea, tanah Belitong terdengar lagi secara nasional maupun internasional. Buku-bukunya mengurai adat dengan lengkap, filmnya mengeksploitasi keindahan alam dengan sempurna.

Memang ada sedikit yang mengganjal. Ada yang hilang dan belum usai dari kisah pamungkas. Kisah tentang Mimpi-mimpi Lintang, nama kapal buatan Ikal si tokoh utama, tidak bersinggungan sedikitpun dengan sesuatu yang dinamai Maryamah Karpov. Pembaca mungkin berpikir, penamaan judul buku keempat hanya karena telanjur disebut pada buku kedua. Sementara saat menuliskan novelnya, Andrea telah berubah rencana.
Cerita tetralogi Laskar Pelangi pun ditutup dengan ditemukannya A Ling, gadis yang menjadi obsesi Ikal sejak di buku pertama.

Setelah jeda beberapa lama, Andrea kembali meluncurkan novel. Kali ini berjudul Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Dua buah novel dalam satu buku. Unik. Apalagi keduanya disajikan secara berkebalikan. Terlihat upaya penulis untuk menjauhkan pemikiran pembaca bahwa ini lanjutan dari Laskar Pelangi. Desain sampulnya menggunakan gaya yang sangat berbeda. Dia pun menyebut novelnya ini sebagai suatu dwilogi.

Pada bagian awal novel pertama, pembaca akan merasa sedang dibawa ke suatu kisah baru, walaupun lokasi cerita tetap di tanah Belitong. Memasuki mozaik ke-8, istilah yang digunakan Andrea untuk membahasakan bab, baru muncul lagi nama A Ling. Pada mozaik ke-10, disebutkan Laskar Pelangi dan nama anggotanya. Menjadi jelas bagi pembaca, bahwa ini masih lanjutan kisah sebelumnya.

Mengapa Andrea terkesan tidak konsisten? Tampaknya, respon pembaca yang sangat luar biasa dan kehendak untuk mengenalkan sebanyak mungkin tentang tanah kelahirannya menjadi alasan. Banyak hal menarik dan unik dari bangsa Melayu yang diungkap dalam bukunya. Kebiasaan minum kopi beramai-ramai saja digelar habis-habisan sehingga pembaca seolah turut merasakan suasana di warung tempat berkumpul mereka.

Andrea mengurai panjang kisah pemberian nama julukan bagi banyak orang pada buku keempat, tetapi justru seolah lupa menjelaskan nama yang ada pada judul. Ternyata ada kisah seru dibalik pemberian nama Maryamah Karpov. Sehingga, untuknya Andrea menjelaskan dalam buku lain, dwilogi yang merupakan buku kelimanya ini. Ada hasrat mengungkap ini secara lebih komprehensif, entah itu dari sisi tampilnya perempuan di ranah laki-laki, maupun dari pengungkapan berbagai karakter manusia disekitarnya.

Andrea jeli menangkap sisi khas kehidupan di kampung halamannya. Dengan uraian yang detil, pembaca dapat membayangkan bagaimana tingkah polah warga di desanya. Dan, jahilnya Andrea, dia membuat pembaca menginterpretasikan urusan lokal ini dengan suasana serupa di lingkup nasional.

Perpanjangan kisah juga membuat mantan karyawan BUMN terkemuka ini berkesempatan mengungkap sikap politiknya secara lebih leluasa, dan tentu saja aman, karena ini sebuah cerita fiksi. Dengan cerdas dia mengutip kata-kata Megawati saat kampanye pemilihan presiden. Diungkapnya bahwa saat itu sang ibu dengan mata berkaca-kaca mengatakan bahwa jika menjadi presiden dia tidak akan membiarkan ada darah menetes di tanah rencong. Hanya itu yang ditulis Andrea. Tidak dia lanjutkan pembahasan tentang ini, karena semua orang sudah tahu apa yang terjadi kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar