Kamis, 03 Juli 2014

M. NATSIR : PESAN ISLAM TERHADAP ORANG MODERN (3)


                   
          Buku bagian ketiga tulisan saya tentang pak Natsir menampilkan ringkasan sambutannya pada pembukaan Konferensi Islam dan Tata Internasional Baru di Tokyo, Jepang tahun 1976. Serta ringkasan ceramah beliau di jakarta pada accara yang diselenggarakan yayasan Idayu, untuk menyampaikan pengalaman Pak Natsir di London, Inggris, menjadi pembicara pada World of Islamic Festival. Kepakaran beliau diakui banyak pihak. Seumur hidupnya, M. Natsir menerima 3 gelar Doktor Honoris Causa. 1 dari Libanon dan 2 dari Malaysia.

          Ketiga. Sambutan tahun 1981 di Jepang. Moral Islam untuk Solidaritas.  
 *saya pikir ini sambutan yang dibacakan saja. Karena berdasarkan data, M.. Natsir sebagai salah satu penandatangan petisi 50 tahun 1980, dicekal untuk ke luar negeri. tak ada keterangan dalam buku yang saya baca tentang ini.

          Inti sambutan pendek ini adalah, menyampaikan kembali sepuluh program aksi hasil KTT Taif yang menyertai Deklarasi Mekkah. Mengingatkan juga bahwa tantangan terbesar awal abad 15 H adalah penciptaan suatu orde ekonomi yang lebih berimbang. Dan, harapan serta apresiasi atas dukungan moral pemerintah Jepang terhadap kegiatan konferensi Islam di sana sebagai suatu prospek cerah bagi terbitnya era baru, suatu era kemauan dan  pengertian bersama, dimana yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, bersama-sama menyusuri jalan bagi akomodasi bersama sebagai ganti konfrontasi yang tak pernah selesai.

          Keempat. Ceramah di Jakarta 1976. World of Islam Festival Dalam Perspektif Sejarah.

          M. Natsir sempat hadir 10 hari di London menghadiri World of Islamic Festival. Acara ini sendiri berlangsung selama 3 bulan. Banyak hal dilakukan untuk mengenalkan Islam kepada dunia. Pameran, misalnya, mendatangkan koleksi dari puluhan negara Islam, termasuk Indonesia. 

          Ada 30 pameran selama festival. Pertunjukan-pertunjukan, walau ada 1-2 yang ternyata justru tidak Islami karena ketidaktahuan dan terlalu bersemangat mengenalkan Islam. Misalnya ada tari-tarian dengan pakaian terbuka, atau lukisan yang bersiluet Rasulullah. 

         Pemutaran film. Panitia membuat 6 film, yang diputar sebagai pengantar ceramah yang berkaitan dengan film tersebut. M. Natsir sendiri datang ke sana menjadi pembicara di salah satu sesi ceramah  dan konferensi. Ada 62 pembicara. 

          Publikasi, ada 8. Pelaksanaannya tentu tak hanya di satu tempat, tetapi menyebar, termasuk di kampus-kampus utama Inggris.

          Intinya, “Untuk menunjukkan kepada Dunia Barat betapa besarnya sumbangan yang telah diberikan Islam kepada kebudayaan-kebudayaan di seluruh dunia.”

          Sambutan dari pemrakarsa dan direktur acara ini, Paul Keeler, nonmuslim. Diantaranya, “Dewasa ini Islam sedang bangun dari penderitaan akibat dominasi Eropa selama 200 tahun atasnya. Sekarang sedang berlaku satu reformasi, satu proses perubahan yang pada hakikatnya di seluruh dunia. Menurut hemat saya, orang Barat belum lagi memahami rasa dan pemikiran orang Islam. Saya berpendapat, festival ini akan mempertemukan manusiamuslim dan manusia Eropa...” Natsir menulis, untung bukan saya atau seorang muslim yang mengatakan itu, karena akan dianggap melakukan apologi.

          Festival ini tentu dinilai beragam oleh berbagai pihak, termasuk organisasi yang bukan Islam. Setidaknya, sudah ada upaya yang dilakukan.

          Natsir menuliskan juga beberapa teman pembicara dan topiknya. Diantaranya Abul A’la Al-Maududi dan Muhammad Qutb. Subhanallah, tulisan mereka adalah bacaan wajib aktivis mesjid generasi saya, dan pak Natsir satu panggung dengan mereka.

          Demikianlah "salinan" saya dari sebagian buku M. Natsir, Peran Islam Terhadap Orang Modern. Orang besar yang lahir di Solok 17 Juli 1908 dan wafat di Jakarta, 6 Februari 1993 ini menginspirasi banyak orang, bagaimana cara berdakwah dalam politik dan berpolitik dalam dakwah. Hampir semua yang mengenalnya mengakui berlimpahnya contoh sifat mulia yang beliau punya.

          Buku ini hanya salah satu dari 45 buku yang M. Natsir tulis seumur hidupnya, di samping ratusan karya tulis lepas lain. 

          Pak Natsir adalah "lawan"  Bung  Karno secara ideologi, sehingga  mereka berdua sering berbeda pendapat. Satu hal yang sering menjadi pembeda mereka berdua, dalam nuansa canda, adalah urusan poligami. Pak Natsir sebagai pejuang nilai-nilai Islam, tentu termasuk di dalamnya topik poligami sebagai sesuatu yang dibenarkan dalam aturan agama. Tetapi, sampai akhir hayatnya, pak Natsir setia pada satu istri, Nurnahar, yang dinikahinya 20 Oktober 1934,  dan memberinya 6 anak. Sedangkan Bung Karno, tak pernah sekalipun kita mendengar pendapat beliau tentang  poligami, tetapi beliau adalah pelaku aktif. Maka, jika anda seorang perempuan ingin bersuamikan politisi, tanyakan dahulu, kepada siapa laki-laki ini berguru, Bung Karno atau Pak Natsir. :)

          Salah satu yang merupakan contoh langka pada masa kini adalah kesederhanaannya. M. Natsir dikenal sebagai menteri yang tak punya baju bagus, jasnya bertambal, tak punya rumah, dan menolak hadiah mobil mewah. puntak meninggalkan warisan banyak, sehingga rumah beliau di Menteng dijual keturunannya karena tak sanggup membayar pajak.

          Berikut petikan puisi Taufik Ismail dalam peringatan 100 tahun wafat M. Natsir. dan penetapan beliau sebagai pahlawan nasional Indonesia 10 November 2008.
"... Rabbana...Rabbana...Rabbana...
Jangan biarkan kami menunggu 100 tahun lagi untuk tibanya pemimpin-pemimpin bangsa yang mencerahkan, dan bercahaya kilau kemilau, serupa berlian... "

M. NATSIR : PESAN ISLAM TERHADAP ORANG MODERN (2)



          Buku saku tipis kumpulan 4 tulisan M. Natsir tak sanggup saya ringkas. Takut mengubah makna, atau salah tafsir akibat keterbatasan saya. Akhirnya, saya lebih banyak mengutip kalimat-kalimat utama dari semua kalimat yang sudah utama. Bagian kedua ini lanjutan, sebaiknya dibaca setelah membaca bagian pertama dari judul yang sama.

          Kedua. Ceramah 1976 di Pakistan. Pesan Islam Terhadap Orang Modern. 

          Kembali, dalam ceramah ini, M. Natsir menggunakan QS Ali Imran ayat 112 sebagai dasar. Sementara, penggunaan kata modern dalam judul, merujuk pada definisi orang modern menurut Profesor Alex Inkeles dari Universitas Harvard. Inkeles menyebutkan ada 9 ciri-ciri tentang orang yang modern. Dan  M. Natsir mencoba menyampaikan bahwa ke-9 ciri tersebut sebenarnya sudah sangat lazim bagi telinga kaum muslimin. M. Natsir membahasnya bagaimana pendapat Islam tentang itu, persamaan-persamaannya sampai batas tertentu, dan awal perbedaan.

1.      Inkeles : kesediaan untuk menerima pengalaman baru, dan keterbukaan bagi penciptaan baru dan perubahan.
Natsir : Islam pada asal mulanya adalah suatu revolusi terhadap kecanggungan dan kekakuan cara berpikir. Kisah Nabi Ibrahim menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Islam memajukan penggunaan akal pikiran, bahkan untuk mencari kebenaran tentang keberadaan Tuhan.

Inkeles : kesediaan untuk pembaharuan dan mengadakan perubahan haruslah menjadi “sikap jiwa”. Atau, need for achievement (Cavid C Mc Celland, Harvard).
Natsir : dalam Islam, itu harus menjadi sikap hidup. Salah satu penggambarannya, dari hadits “Jika kiamat sudah diambang pintu, dan ada sebutir biji korma di tangan, maka tanamlah. Engkau mendapat pahala karenanya.” Hadits ini menggiring kita pada jangkauan terjauh dalam mendorong orang untuk melakukan perbuatan benar, tak peduli apakah kita akan mendapat keuntungan dari perbuatan ini atau tidak, di dunia.

Inkeles : kemajuan kebendaan dan kepesatan teknologi haruslah dianggap sebagai batas akhir yang dicapai oleh modernisasi.
Natsir : Dalam pandangan Islam, kemajuan teknologi itu hanyalah suatu cara ke arah tujuan yang lebih tinggi, yaitu al ihsan—melakukan perbuatan yang benar, tanpa mengharapkan suatu imbalan (lihat QS Al Qashash ayat 77).

2.      Inkeles : mempunyai tanggapan untuk menyusun atau memiliki pendapat terhadap aneka persoalan yang luas serta terhadap pokok-pokok acara yang terbit tidak saja di lingkungannya yang dekat, tetapi juga di luarnya; dan tanggapannya terhadap lingkungan pendapat adalah lebih demokratis.
Natsir : Islam mengajarkan kepada pemeluk-pemeluknya untuk berpikir dalam ukuran jangkauan cakrawala sejarah yang luas. Lebih luas lagi adalah, tak hanya perhatian pada urusan keduniaan tetapi juga mencakup kehidupan akhirat.

Tentang demokratis, Natsir mencontohkan Rasulullah. Walaupun selalu dalam bimbingan Allah secara real, beliau membuat cara bermusyawarah dengan sahabat sebagai dasar basgi setiap laku sehari-hari, dari mulai hal remeh sehari-hari sampai ke penempatan pasukan tentara dalam perang.

Banyak orang menganggap diri “modern” dengan melekatkan kata “demokratik” pada perilakunya, padahal seringkali tak sesuai.

Seringkali ditemukan bahwa demokrasi dilekatkan lebih banyak kepada bentuk-bentuk struktural daripada kepada hakikatnya. Demokrasi dijabarkan dengan berdirinya berbagai cabang pemerintahan, seperti legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Demokrasi dibuktikan dengan pemilihan umum setiap  waktu, dimana pemilih disuguhi dengan seorang, dua orang, atau lebih calon yang dipungut melalui cara yang samar-samar di ruang belakang, penuh dengan dagang sapi, basa-basi,  dan janji-janji yang tidak ditepati.

Menurut Natsir, saripati demokrasi bukanlahbentuk lahirnya serta strukturnya, melainkan keyakinan yang murni terhadap martabat orang per orang. Oleh karena itu, sukses setiap usaha demokratis, tidaklah dapat dinilai dari seringnya mengadakan pemilihan umum, tetapi haruslah dilihat dengan ukuran-ukuran tentang seberapa jauh tindakan-tindakan dan kelakuannya itu sesuai dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menambah martabat manusia sebagai orang seorang..

3.      Inkeles : orientasinya kepada masa kini dan masa depan, melebihi kepada masa lampau.
Natsir : bagi umat Islam, waktu adalah keyakinan, perbuatan yang benar, dan saling memperingatkan satu dengan yang lainnya kepada yang haq dan kesabaran. (lihat QS Al ‘Ashr). Maksud shalat beberapa waktu bergantian, peredaran siang dan malam, semata-mata menanamkan kesadaran kepada kaum muslimin akan penghargaan terhadap waktu.

4.      Inkeles : mengarah kepada keterlibatan dalam perencanaan dan organisasi, dan percaya terhadapnya sebagai suatu cara untuk menangani kehidupan.
Natsir : kembali kepada al ihsan. Selain berarti memberikan sadaqah, kebaikan, dan belas kasih, al ihsan juga adalah melakukan suatu pekerjaan dengan cara yang sebaik-baiknya. Termsuk di dalamnya perencanaan dan pengorganisasian. Setelah melakukan sesuai dengan kemampuan kita, sepenuh daya dan usaha, kita serahkan segala urusan kembali kepada Allah Yang Mahakuasa.

5.      Inkeles : percaya bahwa manusia itu bisa belajar, dalam tingkat yang nyata, untuk menguasai alam lingkungan demi untuk memajukan tujuannya dan sasarannya sendiri, daripada sebaliknya dikuasai sepenuhnya oleh alam lingkungannya itu.
Natsir : dalam hal ini Inkeles agak terpeleset. Benar bahwa kemajuan ilmu pengetahuan sangat pesat dan mengesankan. Tetapi, itu hanya setitik jika dibandingkan dengan keluasan cakrawala yang hendak dijangkaunya. Selain itu, seringkali kita temukan, pemecahan terhadap suatu masalah menuntun kepada terungkapnya sejumlah persoalan baru akibat pemecahan masalah sebelumnya.

Ajaran Islam mengedepankan penggunaan pikiran, mendukung peningkatan ilmu pengetahuan, tetapi tidak diperkenankan untuk mengagung-agungkan alam pikiran itu, atau lebih buruk lagi mempertahankannya.
Seluruh alam semesta diciptakan bagi kemanfaatan manusia. Di sisi lain, alam semesta menjadi sarana bagi manusia untuk berterimakasih dan adil. Di balik kekuatan kita, keterampilan dan kecerdasan kita, ada kekuatan dan kemurahan dari Allah yang memberikan semua itu kepada kita.

6.      Inkeles : lebih yakin bahwa dunia dapat diperhitungkan; orang-orang dan lembaga-lembaga dapat dijadikan andalan untuk memenuhi atau mencukupi kewajiban serta tanggung jawabnya.
Natsir : menjadi keyakinan setiap muslim, bahwa kepercayaan kepada yang diperhitungkan dan diandalkan itu tidak mengurangi keyakinannya kepada Allah, bahwa semua itu hanya akan berjalan sepanjang Allah memperkenankan kepada manusia. Kemauan  dan kekuatan yang mutlak hanya ada pada-Nya.

7.      Semakin sadar  akan martabat orang lain dan semakin tanggap untuk menunjukkan penghargaan kepada mereka.
Natsir : kemuliaan orang sebagai manusia adalah titik pusat ajaran Islam. Tak ada pembedaan terhadapnya yang dibenarkan, baik berdasarkan warna kulit, bahasa, tradisi, kebudayaan, serta kepercayaan maupun keturunan. “Kita menghormati anak keturunan Adam”.

8.      Inkeles : percaya kepada ilmu dan teknologi
Natsir : bahwa capaian ilmu dan teknologi saat ini banyak berdasarkan penemuan ilmuwan muslim masa lampau. Mungkin benar bahwa kondisi saat ini, mayoritas penemuan bukan dilakukan kaum muslimin. Tetapi kita harus terus berupaya dan bekerja berkesinambungan, karena Allah sendiri menjanjikan: Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia, agar mendapat pelajaran. (lihat QS Ali Imran ayat 49)

9.      Inkeles : Berpaham yang kuat tentang keadilan yang merata.
Natsir : dalam Islam, seseorang akan mendapatkan sesuatu buah hasil dari perbuatannya, baik ataupun buruk.

          Pada akhirnya, sebagai seorang muslim, Natsir berpendapat bahwa kita tak perlu terlalu memperdulikan label modern atau tradisional, karena tugas utama yang kita emban adalah mewujudkan ummat yang berkeseimbangan.


          Kembali, ini tulisan 30 tahunan lalu. Saya tak sempat mempelajari, bagaimana penerimaan ilmu pengetahuan tentang pendapat Inkeles itu hari ini. Karenanya, saya sama sekali tak hendak memberi suatu pendapat. Ini benar-benar hanya membaca buku, dan mencoba menyampaikan pemikiran M. Natsir dari apa yang saya baca.

Bersambung...

M. NATSIR : PESAN ISLAM TERHADAP ORANG MODERN (1)



Buku saku 124 halaman, kumpulan 4 sambutan M. NATSIR.
Penerbit  Media Da’wah. Cetakan I 1982, Cetakan II 2008.

          Hari ketiga Ramadhan, saya mulai manfaatkan sistem  arisan ide. Saya ambil satu gulungan. Topiknya renungan. Wah, pas saya sedang tidak bisa khusyuk merenung. Saya pun ambil gulungan kedua. Membaca buku kumpulan sambutan M. Natsir dan menuliskan resumenya. Saya sudah mendapatkan buku ini beberapa tahun lalu pada peringatan 100 tahun M. Natsir. Belum menyempatkan diri saja membacanya. Padahal hanya sebuah buku saku dan tipis.

          Kemarin pagi saya membaca halaman-halaman awal. Oh, tidaaak! Bahasa diplomatik. Pusing. Buku ini memuat 4 buah tulisan M. Natsir yang dibacakan pada 4 peristiwa. Pertama, Pidato Utama pada Sidang ke-8 Muktamar  Alam Islamy, 1980 di Cyprus. Kedua, ceramah pada Musyawarah Umat Islam, 1976 di Pakistan. Ketiga, sambutan pada pembukaan Konferensi Islam dan Tata  Internasional Baru, 1981 di Jepang. Keempat, ceramah, 1976, di Jakarta, tentang World of Islamic Festival di London yang beliau hadiri. 

          Saya sangat tergoda untuk mengambil gulungan ketiga. Tapi saya kuatkan hati. Tak boleh! Saya harus mencoba konsisten. Bukankah salah satu tujuan sistem arisan ini untuk memaksa diri membaca buku-buku yang belum tersentuh? Jika saya menyerah dengan kerumitan bahasa dan bahasan buku tipis ini sekarang, maka kemungkinan besar saya tak akan membaca buku ini untuk selamanya. 

          

           Akhirnya, pelan-pelan saya baca. Sedikit demi sedikit. Dengan stabilo di tangan, untuk memudahkan. Mencoba menemukan intisari bahasan. Ternyata, bertebaran mutiara. Padat sekali. Buku berpenampilan sederhana ini pun penuh dengan stabilo kuning. 

         


           Dr. M. Natsir adalah salah satu tokoh politik Islam di Indonesia dan sempat menjadi menteri penerangan 3 kali ( on-off dalam rentang 1946-1950), dan Perdana Menteri Negara  Republik Indonesia pada tahun 1950. Beberapa bulan sebelum menjadi PM, 3 April 1950, dalam sidang pleno parlemen, M. Natsir menyampaikan apa yang kemudian dikenal sebagai Mosi Integral Natsir. Beliau mendorong semua pihak untuk berjuang dengan tertib. Wapres M.  Hatta menyatakan sangat terbantu dengan mosi ini, karena memulihkan keutuhan bangsa dalam NKRI, setelah sebelumnya berpola “serikat”. Mosi ini sering disebut sebagai Proklamasi Ke-2 RI.

          Sebagai Perdana Menteri, Natsir menentukan kabinet. Artinya, pengaruh beliau terhadap roda kehidupan negeri ini saat itu cukup signifikan. Tak lama menjadi PM, 26 April 1951 beliau mundur, karena berselisih paham dengan Presiden Sukarno tentang Islam sebagai ideologi. Bung Karno mendukung sekularisasi Mustafa Kemal Ataturk di Kesultanan Utsmaniyah (Turki). Sementara Natsir justru menyayangkan itu dan menunjukkan efek sekularisme. 

          Setelah tak menjadi PM, Natsir semakin lantang menyuarakan Islam. Kiprah di usia lanjutnya, selain mendirikan Dewah Dakwah Islamiyah Indonesia, beliau sempat menjadi Presiden World Muslim Congress dan menjadi ketua Dewan Masjid sedunia. Beliau juga termasuk salah satu penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980.

          Informasi tentang M. Natsir di atas saya dapat dari beberapa sumber lain. Alhamdulillah, membaca sepak terjang beliau membuat saya lebih mudah memahami apa yang beliau sampaikan pada 4 tulisan di buku ini. 

          Saya  mencoba menyampaikan apa yang saya pahami dari tulisan beliau. Situasi tentu telah berubah selama 30-an tahun ini. Semoga saya tidak keliru dalam merajut informasi dari buku dan memori situasi dari pelajaran sekolah maupun berita utama media masa itu.

          Pertama. Pidato di Cyprus tahun 1980, Dunia Islam Berhadapan dengan Dunia Modern. Situasi dunia pada tahun-tahun itu sedang berubah dengan cepat. Dari 2 kubu (Amerika-Rusia, demokratis-komunis) sebagai pusat penguasa, menjadi banyak kubu koalisi baru, bertebaran serpihan karena menolak pengendalian terpusat. Antar negara berselisih paham. Sedihnya, mayoritas menimpa negara-negara muslim yang saat itu mayoritas merupakan negara muda.

          Bidang politik dan ekonomi menjadi primadona. Sekjen PBB Dr. Kurt Waldheim sendiri menyatakan, “Telah terjadi pergeseran mendadak dalam kesetimbangan politik, dalam berbagai bidang kekuasaan, baik ekonomi, politik, maupun keagamaan...”

          Dari sini, dapat disimpulkan bahwa secara potensial, bentuk dunia di masa depan tak akan ditentukan oleh satu negara besar saja, pun bukan oleh negara-negara barat saja,melainkan akan turut dipengaruhi oleh negara-negara yang kini masih mengembangkan potensialitasnya masing-masing.

          Ketika semua pihak fokus pada perubahan politik dan ekonomi, M. Natsir mengajak semua pihak memikirkan satu aspek lain yang juga berubah, dan sama vitalnya: Jiwa nan berubah-ubah dari Peradaban ( The Changing Mood of Civilization ). “Dalam waktu yang relatif singkat untuk skala sejarah, masyarakat sedang bergeser ke arah sistem nilai baru, atau lebih tepatnya ke satu sistem tanpa sesuatu nilaipun.” Salah satu wujudnya adalah, pemujaan yang berlebihan terhadap kebebasan individu, sebagai interpretasi dari Hak-hak Asasi Manusia, dengan mengabaikan kewajiban dan tanggung jawab yang pokok-pokok.

          Di sisi lain, bangsa-bangsa muslimin yang kebanyakan baru merdeka, justru sedang berusaha keras memodernisir diri. Berusaha melepaskan diri dari segala penderitaan dan kekurangan dalam kehidupan tradisional kuno mereka. Alternatif-alternatif yang terlihat ada dari dua kubu berseberangan. Sehingga sering ditemukan indikasi pengaruh liberal maupun sosialisme sedang bertanding dalam benak pemimpin-pemimpin mereka. Untungnya kita mempunyai agama yang memiliki garis-garis pedoman universal dan petunjuk yang abadi.

          M. Natsir menyitir 2 ayat dari Al Qur’an. QS Ali Imran ayat 112, yaitu bahwa Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian)  dengan manusia. *”Mereka”  di sini, pada sebuah Qur’an tafsir, disebut eksplisit sebagai Yahudi, pada terjemahan yang lain, Ahli Kitab.

          Sedangkan dari QS Al Baqarah ayat 143, dan demikianlah pula kami telah jadikan kalian (ummat Islam) ummat jalan tengah dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.
Kedua ayat ini digunakan untuk mengajak Muktamar Alam Islami, sebagai organisasi rakyat, selalu mengemukakan pandangan dan pendirian rakyat berkaitan dengan aspek yang menyinggung ummat, baik itu bersifat politik, ekonomi, maupun kultural. Dengan mengutarakan segi pandangan Islam terhadap aspek hidup yang berlain-lainan, diharapkan dunia dapat memperoleh suatu gambaran benar dan tepat dari prinsip-prinsip sosial yang wajib kita pelihara.

          Muktamar ini hanya mengabdi kepada ummat, tidak menuntut kepemimpinan. Hanya mengingatkan bahwa di atas segala perselisihan, kita adalah bersaudara.

Bersambung... (Tulisan ini saya bagi tiga. Semoga lebih memudahkan bagi yang membaca.)