Senin, 12 Mei 2014

LUTUT KITA BERSAHABAT



         Pendidikan Seks  Usia Dini. Kalimat ini sekarang lebih seksi daripada tujuan pendidikannya itu sendiri. 

         Terlepas dari topik yang sedang  marak, sebagai seorang ibu saya belum layak berpendapat. Anak saya masih 13 tahun, justru baru memasuki masa pancaroba. Saya masih harus fokus pada doa dan upaya menemani anak melewati tahapan pendewasaannya.

         Tulisan ini bertujuan mendokumentasikan hasil ngobrol dengan beberapa ibu saat arisan RT Sabtu lalu. Mereka sudah berhasil mengantar anak-anaknya melewati masa remaja. Saya ingin menyimpan, dan membaca ulang jika suatu saat memerlukan. Semoga juga memberi penguatan kepada ibu-ibu yang lain.

         Ibu Mawar bercerita tentang kenangan masa kecil yang tak pernah lupa. Orang tuanya sering  mengingatkan bahwa kedua lututnya itu bersahabat. Sebagai sahabat, mereka selalu ingin berdekatan, mereka tak nyaman terpisahkan. Kapanpun, dimanapun, kedua lutut ini tak mau berjauhan.

         Usia ibu Mawar bertambah, pesan dari kedua orang tua semakin tampak mudah dan menjadi keseharian. Persahabatan sang lutut tak lekang oleh waktu. Maunya berdekatan terus. Bahkan kelak setelah menikah, setiap ke dokter kandungan selalu mendapat teguran. Kedua lututnya seperti sepasang kutub magnet, saling menarik. Pun ketika dokter meyakinkan, bahwa itu tidak apa-apa. Ibu Mawar selalu merasa malu dan tak nyaman.

         Jargon yang sama dia kenalkan kepada sang putri yang kini mahasiswi, sejak kecil. 

         Cerita Ibu Mawar mengingatkan saya pada Ibu Melati. Ibu Melati yang tinggal di Jakarta, membekali jurus pergaulan yang sederhana saat anaknya memasuki usia remaja. Pesan sang bunda kepada anak gadisnya, jangan biarkan kancing kedua bajumu terbuka, apalagi dibuka orang lain.

         Itu saja. Tapi kalimat singkat itu cukup efektif membentuk pola sikap sang anak. Anak-anak kita itu cerdas kok, kata Ibu Melati. Kita tak perlu ajari detil, apalagi vulgar. Mereka dapat menyerap, menerjemahkan, dan mengaplikasikan sendiri.

         Justru dengan keterlibatan kita yang seperti “sambil lalu” itu, sang anak lebih terpupuk rasa tanggung jawabnya. Walau anak ini besar di Jakarta yang gaya bergaul ABGnya membuat ketar-ketir orang tua, Putri Ibu Melati tidak membuat ortunya khawatir, dan selamat melampaui masa pancarobanya.

         Kisah ketiga datang dari ibu Cempaka. Ibu tiga putri yang kini memulai masa dewasanya. Dia mengajari  anak-anak gadisnya sejak kecil. Bagian tubuh yang ditutupi pakaian, tak boleh disentuh apalagi dibuka oleh orang lain. Karena ketiga anak perempuannya dipakaikan kerudung sejak kecil, jelas bagi sang  anak, bahwa nyaris tak ada ruang yang bisa digunakan untuk bersentuhan dengannya.

         Ketiga kisah ini mengingatkan saya, bahwa tak selalu perlu kata-kata eksplisit untuk menyampaikan hal sensitif. Karena alih-alih membuat anak waspada, yang seringkali terjadi malah dia semakin takterkendali.

        Semoga anak-anak kita selalu berada di jalan yang benar dan setiap langkah mereka selalu dalam bimbingan-Nya.

2 komentar:

  1. Terima kasih catatannya mbak, sangat menggugah :)

    BalasHapus