Kamis, 10 Mei 2012

Cerpen: BULAN KE-19 KEHAMILAN VIERTA


Vierta lelah sekali. Usai menidurkan Rene dan Haya, dia melangkah pelan menuju dapur. Sangat perlahan. Telapak kakinya nyaris tak beranjak dari lantai. Terseret-seret.
 
Andai kata hati diikuti, Vierta pasti sudah ikut bermimpi di samping kedua bayinya. Sejak pagi tak henti Vierta bergerak. Menyiapkan nasi goreng untuk sarapan dia dengan Rounti, suaminya. Membuat bubur beras merah untuk Rene dan Haya. Memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Dan, mengaktifkan robot pengepel lantai.

Vierta tahu, seharusnya Haya masih dalam masa ASI eksklusif. Belum tepat makan bubur beras merah, walaupun diencerkan. Sayangnya air susu Vierta kurang, karena asupan gizinya harus dipilah tubuh untuk perkembangan janin yang sudah 7 bulan di dalam perut. 

Keberadaan calon adik Haya inilah yang membuat fisik Vierta tidak prima. Mudah mengantuk. Tetapi, kondisi rumah memaksanya menguatkan diri. Vierta masih harus memasukkan peralatan masak dan piring kotor ke mesin pencuci piring dan memindahkan pakaian yang sudah dicuci tadi pagi ke mesin pengering. 

Satu tendangan mendorong perut gendutnya dari dalam. Refleks tangan kanan Vierta mengusap gelembung di bawah dada, menenangkan sang janin. Senyum ironis pun terbentuk, ujung bibirnya terangkat sebelah. Sang penabuh tambur marchingband kebanggaan sekolah itu kini bertahan memanggul tambur kehamilannya selama hampir 20 bulan.

Sejak mulai mengandung Rene sampai hari ini, 19 bulan sudah Vierta hamil. Dua bayi sudah dilahirkan 10 dan 5 bulan lalu. Kini, janin ketiga berusia 7 bulan. Senyum Vierta berubah menjadi senyum lega membayangkan dua bulan lagi semua ini akan usai. Kehamilan tumpuk yang melelahkan lahir maupun batin. Kehamilan yang bagai kepulauan Nusantara, sambung menyambung menjadi satu. 

Sambil memasukkan piring dan panci ke dalam mesin pencuci, Vierta mengenang hari-harinya  satu setengah tahun terakhir. Pada awalnya Vierta mengalami gangguan mual parah. Mungkin itu reaksi psikis atas kehamilan yang diintervensi negara. 

Vierta mendapat panggilan dari Puskesmas saat memasuki bulan ketujuh pernikahan. Karena belum hamil setelah 6 bulan menikah, Vierta dan Rounti terkena pasal percepatan kehamilan. Ada semacam hormon yang disuntikkan kepada para Pengantin Setengah Tahun, istilah untuk mereka yang sudah menikah 6 bulan tetapi istri belum hamil.

Pemerintah menetapkan aturan ini sebagai bagian dari langkah terpadu memutus masalah bangsa yang saling lilit selama puluhan tahun. Sebelumnya, berbagai pihak dilibatkan untuk menganalisis dan mempertimbangkan segala aspek. 

Hasil evaluasi komprehensif menyatakan bahwa segala tindak kejahatan manusia dewasa, termasuk korupsi dan narkoba, dapat direduksi secara signifikan jika pada 5 tahun awal hidupnya seorang anak dibesarkan oleh tangan ibu kandung. Karena itu perempuan wajib mengurus  anak sendiri  di masa emas mereka.

Untuk mengatasi kesempatan aktualisasi diri, kampanye menikah di awal usia 20 tahun pun digalakkan. Jika 6 bulan belum hamil, pasangan pengantin itu akan mendapat perlakuan seperti Vierta. Tujuannya baik, agar pihak istri tidak membuang usia dalam penantian datangnya anak.

Sedangkan pembatasan dua anak karena pertimbangan demografi, budaya, daya dukung lingkungan, dan hak perempuan bekerja. Andai jarak kedua anak ini 5 tahun pun, kewajiban mengurus anak sendiri ini akan usai dalam 10 tahun, saat sang ibu masih di awal 30-an. Masih sangat panjang peluang berkarir. Pengambil keputusan sangat memperhitungkan tingkat kenyamanan seluruh warga negara. 

Sebagai bentuk keadilan, mereka yang mempunyai anak lebih dari dua, harus rela membayar pajak progresif kelahiran. Dalam arti, pajak kelahiran anak ke-4 lebih besar dari pajak kelahiran anak ke-3. Aplikasi turunan dari aturan ini berantai, misalnya untuk biaya pendidikan maupun asuransi kesehatan.

Pendekatan yang pas tapi tegas dari pemerintah disukai banyak penduduk. Termasuk Vierta. Dia sangat mendukung. Apalagi Vierta menyukai sejarah. Dia sangat paham betapa carut marutnya negeri ini sejak para perempuan bebas beraktivitas demi haknya semata. 

Sambil melipat pakaian yang sudah kering di ruang televisi, Vierta mengajak janinnya berbincang-bincang.

“Pagi, Sayang.” Sebuah tendangan ringan terasa. Segera ditangkapnya sisa tonjolan itu. “Ini kakimukah? Atau tangan? Wah, langsung hilang lelah Mamah.” Ajaibnya kehamilan! Rasa berat, lelah, ingin marah atau menangis entah untuk apa, selalu hilang saat sang calon bayi memberi perhatian kepada bundanya. 

Satu demi satu pakaian terlipat, dan kenyamanan Vierta tetap terjaga karena sesekali dia sapa perutnya untuk mendapatkan penguatan diri. Dengan cara seperti ini dia bisa bertahan naik roller-coaster hampir 3x9 bulan! 

Kenangan Vierta membayang. Empat bulan pertama paling menyiksa. Mual dan muntah tanpa alasan. Dokter mengatakan dia hamil, tapi kan tidak ada tanda apa pun. Baru setelah janin mulai memberi tanda kejutan ringan seperti tersetrum listrik, dan semakin hari gerakannya semakin kuat, Vierta menikmati kehamilannya. Bangga, bahagia, dan penuh cinta. 

Sampai tiba hari itu. Pemeriksaan USG di bulan ke-7. Gambaran di monitor membuat kening dokter berkerut. Calon orang tua ini heran, karena yang mereka rasakan justru tersanjung luar biasa. Dokter mengarahkan cursor ke satu titik yang tampak berdenyut-denyut. Bukan dari janin.
 
Setelah berkali-kali melihat, akhirnya dokter memastikan bahwa ada sebuah kantung kehamilan lain, dengan janin yang jauh lebih kecil dari calon bayi pertama. Sungguh fenomena yang tak terduga.
 
Saat seorang perempuan hamil, kadar hormon progesteronnya tinggi. Sedangkan hormon estrogen lemah, sehingga tidak ada produksi dan pematangan sel telur. Jadi, tidak mungkin ada kehamilan baru selama hamil. Kasus Vierta segera menjadi perhatian dunia kedokteran. Vierta pun diminta bolak-balik ke rumah sakit menjalani pemeriksaan. Akhirnya diperoleh kesimpulan, bahwa ini adalah efek dari penyuntikan hormon pemercepat kehamilan.

Vierta mempunyai gen kembar dari keluarga ibunya. Pada generasi sebelumnya, ibu dan nenek Vierta meminum pil KB untuk mencegah kehamilan sesudah memiliki 2 anak. Produsen hormon di tubuh Vierta sudah terganggu sebagai efek obat yang diminum ibu dan neneknya itu. Penyuntikan hormon pemercepat kehamilan, menciptakan reaksi unik di tubuh Vierta, yaitu hormon progesteron dan hormon estrogen diproduksi sama tinggi. Sehingga  tetap ada proses pematangan sel telur di tubuh Vierta selama dia hamil. Dan si telur yang dibuahi ini matang serta menjejakkan diri di kantong kehamilan baru di rahim Vierta.

Walau sempat kaget, Vierta kemudian bersyukur. Kehamilan tumpuk ini membuat dia tidak perlu mengalami mual tanpa hiburan. Saat janin baru belum terasa keberadaannya, ada sang kakak yang sudah banyak bergerak. Gerakan yang selalu berhasil meredakan segala ketegangan Vierta, seperti yang dirasakan seluruh ibu hamil. Dengan hamil bersambung seperti ini pun, masa grounded Vierta untuk membesarkan anak menjadi singkat. 5 tahun 7 bulan saja dua anak usai ditimang. Dia bisa segera menekuni cita-citanya menjadi peneliti benda purbakala. 

“Sayang, kita lihat kakak Rene dan Haya yuk, sambil memasukkan pakaian ke lemari,” ujar Vierta sambil bangkit perlahan. Langkahnya masih pelan, tetapi tidak lunglai seperti tadi. Wajah bayi yang damai dalam tidur pun menjadi obat penenang lain. Bersihnya wajah anak-anakku, Vierta bersyukur dalam hati.

Perlahan Vierta berbaring di samping Rene dan Haya. Diusap perlahan perutnya, “Kita temani kakak tidur, yuk.” 

Mata Vierta pun terpejam, tetapi pikirannya malah terjaga. Teringat saat proses serupa terjadi pada kehamilan ketiga ini. Terdeteksi ada janin baru saat janin Haya berusia 7 bulan. Dilema mulai muncul pada diri Vierta, mengingat peraturan untuk anak ketiga. Vierta tidak lagi menikmati kehamilan seperti saat hamil Rene dan Haya. Pajak yang akan ditarik pemerintah setiap tahun sejak bayi dilahirkan sampai usia 20 tahun selalu terbayang di pelupuk mata. Bagaimana dia harus menghemat pengeluaran untuk menyiapkan dana pembayar pajak? Tiba-tiba dia teringat untuk menelepon Rounti.

Vierta tak jadi tidur. Denyut jantung yang cepat tak bisa mengimbangi langkah berat. Tak sabar Vierta ingin segera sampai di ruang tengah. Dengan terengah, dia menjatuhkan diri di sofa lembut hijau tua favoritnya. 

Vierta menelepon Rounti melalui I-is. Sosok hologram Rounti pun segera muncul di hadapan Vierta, berasal dari pancaran layar I-is-nya. Ini saja sudah melegakan napas Vierta.  “Tenang,” ujar Rounti, “Surat yang kita ajukan kan sedang diproses. Dan menurut penasihat hukum, besar sekali kemungkinan kita menang.” 

Dengan melampirkan data dari pihak dokter, PUSKESMAS, dan rumah sakit, Rounti sedang meminta pemerintah agar tidak menerapkan aturan pajak progresif itu kepada anak ketiganya. Proses kehamilan Vierta kan di luar kekuasaannya. Bahkan merupakan efek dari program pemerintah. Proses hamil yang bahkan para dokter pun baru mengetahui peristiwa seperti ini bisa terjadi.

“Iya,” jawab Vierta, “Tetapi kan dokter sudah menyarankan kita puasa dulu selama belum diketahui cara penyelesaiannya?” Terngiang di telinga Vierta ucapan dokter, “Sementara, satu-satunya cara sederhana menghentikan kehamilan beruntun ini adalah dengan tidak melakukan hubungan suami istri.
 
“Saya kan sudah sampaikan juga kepada dokter itu, ‘Yang benar saja…kita kan pengantin baru,” Rounti mengingatkan Vierta akan jawabannya kepada dokter, sambil tertawa.

Bahkan, siang ini suratnya akan direvisi. Permohonan itu tidak hanya untuk anak ketiga, tetapi juga untuk anak-anak selanjutnya, sampai pihak kedokteran menemukan terapi yang paling tepat untuk kasus kita.” 

“Hah?” Vierta ternganga memahami makna ucapan suaminya. Terdengar Rounti tertawa terrbahak-bahak. Puas sekali.

“Sungguh, saya malah bersyukur. Ini jalan yang diberi Tuhan. Mimpi punya anak setim bola voli bisa terwujud tanpa harus membayar pajak berlipat-lipat.”

“Dasar!” Vierta mengakhiri perbincangan dengan suaminya. Antara lega, geli, dan pasrah. Dari sofa, tampak kedua bayinya masih pulas. Senyum bahagia seorang ibu memancar di wajah lembut Vierta. Terlebih ketika tatapannya beralih ke perut. Dielus-elus dengan lembut perut gendutnya sambil berguman, “Kamu dengar tadi, Nak? Papamu jahil, ya? Kita minum susu saja dulu, sambil menunggu kak Rene dan kak Haya bangun” 

Vierta sempat diam di depan kulkas yang sudah dia buka. “Kamu mau yang rasa coklat atau vanili, Sayang,” sambil menunduk menatap tonjolan dibalik pakaian longgarnya. “Coklat saja, ya, segar di udara panas seperti ini. Tak sabar Mamah menanti 2 bulan lagi untuk bertemu kamu, dan puas bermain dengan kalian bertiga.”  Vierta teringat saat Rene mulai bisa mengucap “Mama” dengan jelas, Haya berhasil menggulingkan tubuhnya di tempat tidur, dan si kecil mulai terasa tonjokan sayangnya di perut Vierta. Kebahagiaan apalagi yang harus dicari? Belum ada perempuan lain yang merasakan tiga hal itu secara bersamaan di satu waktu. 

Baru saja Vierta menusukkan sedotan ke kotak susu, I-is nya bergetar. Ada pesan masuk. Dari laboratorium.

Jantung Vierta serentak berdebar lebih cepat. Sejenak dia ragu, dilanjutkan atau tidak membaca pesan yang diterima. Ketika akhirnya tombol “terima” ditekan, muncullah di layar data hasil pemeriksaan kemarin.

Napas Vierta tertahan, dadanya nyaris meledak. Tiba-tiba saja benda-benda di rumahnya tampak berputar-putar. Lemari es di hadapannya seolah-olah membesar, mendekat, dan menabraknya, mengantarkan sebuah keranjang bayi. Vierta refleks mundur selangkah, tetapi kakinya terantuk kursi makan. Sedetik sebelum jeritan kaget dan putus asa siap keluar dari mulutnya, dia sadar. Dihempaskan tubuh ke kursi tersebut. Gemuruh degup jantung berlomba mengirim sinyal. Bertalu-talu, saling susul, semakin lekas dan bertambah cepat. Udara dihembuskan dari kedua hidungnya. Lama. Dan panjang sekali. 

Vierta sempat berharap napasnya tinggal itu saja. 

Laboratorium melaporkan keberadaan satu janin tambahan lagi, berusia 2 bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar