Senin, 24 Februari 2014

FINANCIAL CHECK UP!: In What Stage Are You?



Ditulis oleh Tejasari Asad dan Ilustrasi oleh Rana Wijaya
Penerbit Gaia, 2013


     Menjelang bulan baru, sangat tepat jika kita membaca buku ini dulu. Mumpung masih Februari, masih hitungan awal tahun. Tejasari menguraikan dengan asyik bagaimana memahami posisi keuangan kita hari ini, menetapkan situasi yang diharapkan di masa depan, dan mengetahui bagaimana mencapainya. Ilustrasi cantik di banyak halaman makin mencerahkan dan menyemangati kita untuk terus menyimak.

     Saya ulang ya, yang asyik itu adalah uraian dari Tejasari. Bukan posisi keuangan kita :). Saat membaca ke-144 halaman, saya ditemani kertas dan pensil. Mengikuti alur yang dia sajikan. Mungkin teman-teman juga bisa melakukan hal yang sama.

     Pertama-tama, mendata aset hari ini. Segala macam aset yang kita punya, tulis. Rumah, tanah, kendaraan, tabungan, emas, koleksi. Kemudian, beri nilai rupiahnya. Syukur kalau kita bisa  memberi angka tepat. Jika tidak, kira-kira saja. Tak usah dibuat stres.

     Karena...stres akan muncul di tahap berikutnya, pada saat kita mendata utang. Seperti rasa takjub saat menyadari betapa banyak aset yang kita punya, mendata utang pun bisa membuat kita terhenyak. Semua dicatat. Tak perlu malu, karena ini kan hanya untuk kita sendiri. Tagihan kartu kredit, pinjaman kepada teman/saudara, cicilan panci, bahkan tunggakan kepada tukang sayur langganan.

     Selanjutnya, buat catatan pemasukan dan pengeluaran. Pengeluaran bisa kita bagi dalam 4 kelompok besar: cicilan utang bulanan, tabungan/investasi, pengeluaran rutin keluarga,  dan pengeluaran pribadi. Dari uraian Teja, saya menangkap yang dimaksud dengan istilah pengeluaran pribadi ini tidak sekedar kebutuhan diri kita sendiri saja, tetapi juga urusan keluarga, hanya bukan sesuatu yang “wajib”. Misalnya, membeli tas atau makan di restoran. 

     Setelah informasi awal ini lengkap, kita bisa mulai melakukan cek kondisi. Saya suka cara Teja menguraikan bagian ini. Kondisi kita diketahui dengan pembanding diri sendiri, bukan standar orang lain. 

     Ada 5 angka yang kita perlu hitung:
1.      Rasio Menabung. Angka ini didapat dari perbandingan total tabungan&investasi bulanan dengan penghasilan bulanan. Kondisi bagus jika didapat angka lebih besar  dari 10%.
2.      Rasio Cicilan Utang. Angka ini didapat dari perbandingan total cicilan  bulanan dengan penghasilan bulanan. Kondisi bagus  jika  didapat angka lebih kecil dari 35% .
3.      Rasio Utang. Angka ini didapat dari perbandingan total utang dengan total aset. Kondisi bagus jika didapat angka lebih kecil dari 50%.
4.      Rasio Dana Darurat. Angka ini didapat dari perbandingan total dana darurat dengan biaya bulanan. Kondisi bagus jika setidaknya ada dana darurat 3 x biaya bulanan. Paling aman jika di posisi 12 x biaya bulanan. Dana darurat adalah tabungan/emas/barang yang bisa dicairkan dengan mudah. Sehingga jika, misalnya, di-PHK, keluarga masih bisa bertahan selama 3-12 bulan berikutnya. Cukup waktu untuk mendapatkan pekerjaan baru.
5.      Rasio Investasi.  Angka ini didapat  dari perbandingan total investasi dengan total aset. Kondisi bagus jika didapat angka lebih besar dari 50%.
Dari kelima angka di atas, yang memenuhi syarat kondisi bagus, kita beri tanda check-list (V). Jika tidak, beri tanda silang (X).
Sudah? Ada berapa tanda check-list (V)? Tak ada? Tenang...belum kiamat. Setidaknya, kita tahu posisi kita ada dimana.
Teja membagi 5 kondisi keuangan kita sebagai:
1.      Financially Shocked (5  tanda X)
2.      Financially Stressed (3-4 tanda X)
3.      Financially Stressless (1-2 tanda X)
4.      Financially Stressfree (tak ada tanda X)
5.      Financially Free (punya aset aktif)

     Jika  masih ada tanda silang, tak perlu gelisah. Bisa kita atasi dan hadapi. Justru, dengan mengetahui kondisi ini, kita bisa merencanakan langkah yang lebih terarah. Jika sudah tak bersilang, juga tak bisa lengah. Apalagi, sifat manusia tak pernah puas. Pasti kenyamanan akan memunculkan keinginan-keinginan baru. Harus tetap berhati-hati.

     Teja mengajak kita menganalisis penyebab keberadaan tanda silang, dan memberi saran jalan keluar agar kita bisa mencapai tingkat keuangan berikutnya. Dalam buku dijelaskan rinci setiap point dari ke-5 kondisi keuangan di atas.

     Garis besar yang bisa kita terapkan dalam pengeluaran keluarga adalah komposisi pengeluaran bulanan yang tepat. Usahakan selalu sisihkan terlebih dahulu untuk tabungan minimal sebesar 10%. Kemudian bayar total cicilan hutang yang angkanya harus dijaga, tak boleh lebih dari 30%. Baru setelah itu pengeluaran rutin yang bisa mencapai 40% dari penghasilan. 20% terakhir, baru dialokasikan untuk pengeluaran pribadi.

     Saya merasa langkah terdekat ada pada alinea terakhir ini. Saya akan coba buat rencana pengeluaran keluarga untuk bulan Maret dengan mencoba ketat terhadap komposisi tersebut. Semoga saya bisa konsisten dan mencatat detil selama sebulan. Sehingga, pada akhir Maret, saya bisa menyampaikan kepada Teja: Berhasil! Aamiin...

     Setelah itu, baru memikirkan langkah-langkah selanjutnya. Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa konsultasi privat ke Tatadana Consulting, atau di ruang tanya-jawab masalah keuangan Tabloid Nova. Keduanya, Tejasari Asad yang mengelola.

Jumat, 17 Januari 2014

HUJAN MALAM JUMAT




 Tak ada yang lebih romantis dari hujan pada malam Jumat. Kita bisa melakukan apa saja bersama "kekasih".   

Hanya suara tetes-tetes air yang terdengar. Andante allegreto berganti-ganti menandai volume dan kecepatan turunnya.

Sudah tak tercium bau tanah basah pertama. Seminggu berlalu dengan curah hujan tinggi. Polutan yang melayang telah dikebumikan, dalam arti harfiah. Dijatuhkan ke permukaan bumi. Diserap tanah atau dialirkan ke laut. Segar saja yang tersisa.

Hujan berkelanjutan juga mengantar dingin. Menusuk hingga ke tulang. Menembus hati. Mematikan amarah. Damai saja yang ada.

Selimut menjadi kekasih setia merangkai mimpi. Melindungi. Menghangatkan. Nyaman. Matapun memejam dengan tenang.

Jikapun terjaga, bercumbu dengan Sang Maha terasa jauh lebih luar biasa.
Saat 7 bagian tubuh menyentuh sajadah, diri seakan dipeluk-Nya ke dalam samudera bahagia. Seolah hanya ada kita dan Dia di semesta. Mesra. Tak bosan berlama-lama sujud. Hujan sebagai suara latar menyempurnakannya.

Sayangnya, bahagia itu kini tak tuntas. Kala terlintas nasib banyak saudara yang lebih rendah kedudukannya. Ini pun dalam arti harfiah. Lebih rendah kedudukannya di permukaan bumi. Tempat air mengalir sampai jauh dan akhirnya ke laut.

Hujan yang banyak tak sanggup diartikan rahmat oleh mereka. Karena ini berarti peluang banjir menerpa. Banjir yang semakin hari semakin kerap dan tinggi. Yang biasanya 5 tahunan kini jadi hampir tiap tahun. Yang tadinya selutut jadi serambut. Meninggi.

Terpuruk di tempat sujudpun menjadi ruang perenungan. Pantaskah kita bermanja kepada-Nya jika syukur kita belum sempurna? Bukan sekedar tentang buang sampah sembarangan saja. Banjir ini juga mungkin akibat kita merasa cukup dengan sekedar sujud secara harfiah.

Sujud kita dalam bentuk penghormatan kepada hukum alam terabaikan. Syukur kita terlalu vertikal, berhenti di ucap "alhamdulillah". Syukur horisontal luput dari keseharian. Mengingat sesama. Ini pun tak bisa sekedar ingatan, perlu tindakan.

Di tingkat individual, kita bisa beri perhatian pada sampah dan tanaman. Perlakukan mereka dengan benar. Sampah tak dibuang sembarangan. Tanaman, tumbuhkan di tanah. Sehingga tak sekedar menyumbang oksigen, tanaman membantu menahan air lebih lama saat hujan. Ini berarti juga, sedapat mungkin sediakan ruang terbuka di rumah, bebas semen.

Di tingkat pengambil keputusan, kita harap mau memperluas jangkauan pemikiran, tempat, dan waktu.  Tak sekedar di wilayah jabatannya, dan tak sekedar pada masa jabatannya.

Solusi yang muncul akan lebih kompehensif dan untuk rentang waktu yang panjang. Hujan pada malam Jumat pun bisa menjadi saat paling romantis bagi semua orang.

Bogor, 18 Januari 2014

Sabtu, 28 Desember 2013

HATTA DI PERANCIS




Bulan Desember 2013 bioskop dibanjiri film bagus. Saya yang jarang menonton pun, dalam beberapa minggu ini berkali-kali ke studio XXI. Setiap kali selalu mengajak anak gadis saya. Tak selalu dia ikhlas saat diajak pergi, tetapi tak pernah pulang tanpa membawa kesan tentang film yang ditonton.

Film pertama, Frozen. Ini film yang memang ingin dia lihat. Terutama setelah membaca berita yang mengatakan Frozen sebagai film fenomenal lagi setelah Lion King. Status menontonnya menjadi wajib, karena Lion King sangat berkesan baginya. Bahkan, di hari pertama masuk Play Group, kepada guru dan teman-teman dia mengenalkan dirinya bernama Simba :).

“Let it go” adalah ungkapan yang dia suka dari film Frozen. Kalimat-kalimat yang digunakan, terutama dalam lagu-lagu, sangat cantik. Pemilihan kata-katanya mewakili makna, berima, namun mudah dicerna. Di rumah dia mengunduh lagu Let It Go, dan memutarnya berulang-ulang.

Film kedua, 99 Cahaya di Langit Eropa. Usai UAS, saya jemput dan langsung melihat pertunjukan siang. Dia agak enggan, tapi saya merasa dia harus menonton film ini. Anak saya Jepang-mania. Jadi saya merasa perlu mengenalkannya dengan sisi lain dunia. Eropa. Dan dari novel, Hanum Rais mengisahkan bahwa justru di Eropa dia menemukan pemahaman lebih dalam tentang Islam.

Kami memasuki ruangan bioskop saat film sudah hampir mulai. Lampu sudah dipadamkan. Pemandangan yang terlihat oleh anak saya adalah...penontonnya semua ibu-ibu! Proteslah dia. Mengapa aku harus menonton film ibu-ibu, katanya. Saya jawab, ini film umum. Dalam hati, saya mengajukan pertanyaan yang sama juga, mengapa yang terlihat perempuan berkerudung semua. Ketika film usai, ternyata mata kami tadi tak sepenuhnya benar. Yang berkerudung bukan hanya ibu-ibu, jauh lebih banyak remaja. Dan ternyata banyak juga laki-laki di kursi penonton.  

Dua hal yang dia garisbawahi dari film ini. Pertama, ungkapan Aysha, “Hai masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar”. Kedua, pernyataan Ibu Aysha, Fatma, bahwa setiap diri kita adalah agen Islam. Jadi setiap tingkah laku kita, akan dinilai publik sebagai perbuatan orang Islam secara umum. 

Saya kurang puas dengan beberapa adegan. Misalnya keberadaan Fathin serta potongan gambar sekuel filmnya nanti. Mestinya kan begini, jangan begitu. Analisis saya dikomentari telak oleh anak. “Kalau memang film ini tidak bagus, mengapa saya dipaksa nonton?” Jleb! Saya pun jadi ‘terpaksa’ menjelaskan lebih detil mengapa dia saya anggap perlu menonton. 

Berikutnya, film Soekarno. Kami menonton bertiga. Anak saya duduk di tengah, di antara saya dan suami. Saya sangat puas karena Hanung Bramantyo menyampaikan pandangannya tentang kisah sejarah ini dengan cara yang sama seperti yang saya pahami dari berbagai bacaan. 

Kami menonton di hari kedua pemutaran. Sengaja. Khawatir masa edarnya tak lama karena ada pihak yang tak nyaman dengan isi film dan menggugatnya ke pengadilan.

Saya berharap semangat nasionalisme yang disebarkan sepanjang film, menular kepada anak saya. Saya merasa, tak hanya anak saya, tetapi seluruh caleg 2014 dan politisi secara umum harus menonton agar berkaca pada sejarah. Bahwa, para pejuang bersikap sebagai negarawan sejati. Cara boleh beda, tapi respek satu sama lain tetap ada, karena semua punya tujuan yang sama. Untuk Indonesia. 

Usai menonton film ini, yang kena ‘jleb’adalah suami. “Papa kan dosen. Jaga pandangan ya...” Rupanya, anak saya menilai rusaknya hubungan Bung Karno dengan Bu Inggit bermula dari pandangan guru kepada murid yang tak terjaga :) *anak baik, puji mamahnya dalam hati, hehe.

Malam Minggu terakhir di 2013 kami ngapelin XXI lagi. Kali ini Edensor yang jadi pilihan. Lanjutan kisah Laskar Pelangi yang mengambil lokasi di Perancis, yaitu saat Arai dan Ikal studi S2.

Dalam perjalanan pulang, kami bahas film ini. Nilai-nilai apa yang didapat. Adegan mana yang paling berkesan. Dan lain-lain.
Saya mengulang kalimat dalam film yang saya ingin diingat anak, “Gantungkan mimpimu setinggi langit, agar Tuhan dapat memeluknya.”
Suami menekankan unsur persahabatan dengan mengatakan, “Ikal dan Arai saling mendukung. That’s the friends are for...”
“...Hatta di Perancis,” anak saya melanjutkan ucapan ayahnya.
Saya dan suami terpesona.
“Keren sekali bahasamu, Nak.”
“O ya?” respon dia.
“Itu pilihan kata tingkat tinggi.” 
Hatta = meskipun. Tak umum digunakan dalam bahasa sehari-hari, saat ini, dan oleh anak SMP pula.
Mendengar uraian ini, giliran anak saya yang terpesona.
Dia lantas berkata, “Ikal itu kan Bung Hatta.”
Ternyata, dia hanya bermaksud bicara tentang Lukman Sardi.... :)

Rabu, 11 Desember 2013

11.12.13



                 TANGGAL CANTIK. 11 Desember 2013. Sejak jauh hari sebelumnya, saya banyak menerima pesan tentang keunikan tanggal ini.Ada yang mengatakan ini adalah tanggal cantik berurutan yang terakhir, setelah sejak awal 2000 kita banyak melalui tanggal-tanggal yang menarik. Entah itu berurutan (misalnya 6 Juli 2008 = 06.07.08, sepupu saya Vanti menjadikan hari nikahnya), berulang (misalnya 8 Agustus 2008. Ingat Olimpiade Beijing yang dibuka secara resmi pukul 08 08’ tanggal 08.08.08), atau simetris (misalnya 30 November 2003, ditulis 30.11.03).

                Buat keluarga saya, tanggal 11 Desember 2013 memang cantik. Sangat cantik. Tanggal itu bertepatan dengan ulang tahun nikah kami ke-19. Perkenalan seumur jagung kami ternyata bisa kami jaga sampai hampir menginjak 2 dasawarsa pernikahan. Menjadi menarik, karena dulu kami menikah tanpa memperhitungkan tanggal  ini cantik atau tidak. Baik itu cantik dari sisi “penampilan”, maupun cantik dari sisi “kebudayaan”.

                Tanggal 11 Desember 1994 kami pilih karena...itu satu-satunya tanggal kosong perias pengantin kami sebelum pergantian tahun. Ibu Tati Roni, perias pengantin di Bandung, yang saya inginkan. Beliau telah merias beberapa saudara saya. Saya suka riasan khas Sunda garapan tangannya. Sejak jauh hari sebelumnya, saya hanya ingin dirias beliau saat menikah, entah pernikahannya dirayakan atau sekedar di KUA.
                 
                Seperti yang selalu saya bayangkan, proses pernikahan itu tidak perlu rumit.

    Kepraktisan saya benar-benar mewujud bahkan sampai ke proses mengenal calon suami.Kami kenal tak sampai setahun sebelum dia mengajak menikah. Dalam setahun itu pun, bertemu tak sampai 10 kali. Itu pun di forum diskusi. Bukan pertemuan pribadi. Agustus pertama kali ke rumah, September mengajak menikah, Oktober melamar resmi, Desember ijab kabul. :) Tapi saya tak merasa terburu-buru, karena saya menyiapkan diri sudah dari jauh hari sebelumnya. Saya sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis, karena ingin memberi semua yang terbaik untuk suami saya kelak. Jadi ketika terasa "kereteg hate", saya yakin dia orangnya, bismillah, langkah tegap maju...jalan! hehe

   Setelah mengantongi tanggal kesiapan perias, saya menghubungi tetangga yang biasa masak dan aula kampus di dekat rumah. Semua bisa. Alhamdulillah. Baru kemudian urusan berikutnya. 

   Saat melamar, (calon) suami memberi uang Rp 500.000. Berarti, dia bisa membantu biaya pernikahan sebesar Rp 5 juta. Sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa biasanya pihak laki-laki memberi tanda seberapa besar dia bisa membantu untuk resepsi pernikahan dengan cara memberi sepersepuluhnya saat lamaran. Saya menyiapkan biaya yang sama dari tabungan. Jadi langkah berikutnya adalah menghitung mundur. Dengan biaya sepuluh juta rupiah, resepsi pernikahan seperti apa yang bisa kami siapkan.

   Sejak remaja saya tahu saya tidak mau pacaran. Dan konsekuensinya, saya akan menikah secara “mendadak”. Untuk itu, sejak awal saya menabung, agar jika tiba-tiba menikah, saya tidak perlu membuat panik orang tua. 

   Di luar biaya cetak undangan, makanan, gedung, perias, dan acara, ternyata tetap ada biaya lain-lain di luar budget. Total sekitar 13 juta rupiah terpakai. Tabungan saya benar-benar menjadi nol. :)

   Upacara pernikahannya sendiri pun berlangsung praktis. Selain acara ijab kabul, acara adat yang dijalani hanya sungkem dan sawer. Saweran hanya berisi uang dan permen, tidak pakai beras karena  menurut saya itu akan menjadi mubazir, terbuang. Sedangkan rangkaian acara adat yang lain, dengan sengaja tidak dilaksanakan. Menginjak telur dan mencuci kaki suami. Itu simbol dari ketaatan istri, dan semacam arahan tentang berkeluarga. Bagus. Tapi di sisi lain, itu saya lihat sebagai pelecehan perempuan, hehe...

Mengenai pelaksana acara, saya beruntung memiliki banyak saudara. Kebetulan 3 bulan sebelumnya baru ada sepupu menikah, jadi panitianya sama. Bedanya, saya tidak menyediakan pakaian seragam. (Terima kasih semua atas keikhlasannya...)

3 hari setelah resepsi, saya ikut suami ke Jakarta, karena dia sudah harus masuk kerja. Di Jakarta, kami tinggal sementara di kamar kosnya, sambil mencari tempat yang lebih nyaman untuk berdua.

Saat berbincang-bincang tentang rumah, apakah kami akan kontrak paviliun, kontrak atau membeli rumah, saya baru tahu. Uang 5 juta rupiah yang dia serahkan untuk resepsi pernikahan, ternyata adalah keseluruhan uang tabungan yang dia punya. O....o...

Jadi, saat hari Rabu, pukul 08 09' 10", 11-12-13, kami rayakan dengan ngopi berdua di rest area tol Jagorawi dengan pemandangan di luar kafe adalah SPBU Pertamina, kami tersenyum. Napak tilas. Perjalanan yang kami lalui 19 tahun ini, benar-benar seperti mengisi bensin....dimulai dari nol.