Selasa, 13 Januari 2015

Umroh2 - Ke Tanah Suci di Masa Renovasi




Beberapa tahun terakhir, Masjidil Haram sedang bebenah. Saya ingat, pernah ada yang memberi foto-foto rencana perluasan. Saat itu, agak sangsi. Betulkah? Karena perluasan besar-besaran ini tentu harus meruntuhkan banyak bangunan sekitar mesjid yang menurut saya masih sangat bagus. Bahkan saya ingat saat haji tahun 2000, ada 2-3 hotel besar sedang dibangun dekat pelataran mesjid. Perluasan ini pasti akan menggusur hotel tersebut. Sayang sekali kan?

Pada saat umroh 2011, saya melihat ada proses pembangunan di kejauhan, tetapi tidak terlalu memperhatikan. Mungkin karena saat itu, wilayah aktivitas jamaah tidak terganggu. Sekitar Ka’bah masih aman. Tawaf utama di lantai dasar. Lantai 1 tawaf untuk yang berkursi roda. Lantai 2 bisa dipakai tawaf oleh laki-laki, karena saat itu perempuan sudah tidak boleh ke atas. Kalau tidak salah, karena sebagian sedang diperbaiki.

Pada kunjungan Desember 2014, pekerjaan pembangunan sedang di bagian utama. Tak bisa tawaf di wilayah bangunan masjid, karena bangunan terputus-putus oleh renovasi. Dibuatkan tempat sementara untuk tawaf, dua lantai. Ini sangat mengurangi kapasitas tawaf di lantai dasar. 

Saat melihat di televisi, saya sempat berpikir, asyik juga tawaf di bawah lintasan darurat ini karena akan terlindung dari panas. Pada kenyataannya, orang hanya tawaf di bagian terbuka sekitar Ka’bah saja. Bagian bawah lintasan tawaf darurat, hanya dimanfaatkan untuk shalat, atau aktivitas ibadah lain.

Di lantai 1 tempat tawaf sementara, cukup banyak peminatnya. Mungkin karena tempat ini nyaman sepanjang hari. Beratap tempat tawaf lantai 2. Kendala yang terasa adalah, bercampurnya orang yang tawaf berkursi roda dan yang biasa di setiap lantai. Kadang-kadang  pendorong kursi roda, apalagi yang bayaran, sering tak mau tahu suasana. Main ngebut saja. 

Menurut mbak Wulan, pemilik travel, perubahan kondisi Masjidil Haram sangat cepat. Terakhir dia ke sana adalah saat Ramadhan. 3 bulan kemudian sudah banyak perubahan. Jadi, jika saya menulis tentang Masjidil Haram Desember 2014, suasana yang akan dihadapi teman-teman jika umrah/haji di bulan-bulan mendatang, pasti berbeda lagi. Katanya sih, diharapkan 2017 semua proses perluasan ini selesai.

Dulu, sebelum renovasi, sering mendengar masalah orang yang ke Masjidil Haram adalah tersesat. Bingung menemukan pintu mana yang harus dituju. Sebenarnya kebingungan itu tak perlu karena setiap pintu ada nomornya. Mungkin karena bentuknya yang serupa, banyaknya orang, dan larut dengan emosi ibadah, kadang jamaah teralihkan fokusnya dan berakibat “hilang”.

Kondisi renovasi saat ini, dari sisi peluang tidak tersesat, sebenarnya sangat menguntungkan. Sekitar separuh pintu sedang tak bisa digunakan. Sehingga, jumlah akses masuk dan keluar Mesjid jauh lebih sedikit. Lebih mudah bagi kita mengingat dari mana kita tadi masuk dan ke mana harus keluar. 

Situasi di bulan Desember 2014, jauh lebih memudahkan. Akses ke Ka’bah, tempat tawaf lantai dasar, hanya ada 2. Dari arah pintu King Fahd, dan dari arah tempat Sa’i. Memang menjadi sangat padat di waktu-waktu usai shalat, karena semua orang melewati rute yang sama. Kabar baiknya, sangat kecil peluang tersesat.

Saya pernah berkesempatan shalat dzuhur di lantai 1, tepat di lurusan antara Hajar aswad dan pintu Ka’bah. Ini posisi favorit, karena ada hadits yang mengatakan tentang kepastian doa diijabah jika dipanjatkan dari lokasi ini. Karena favorit, peminatnya pun banyak.

Usai shalat, untuk keluar ke tempat makan siang,  saya harus turun dulu ke lantai dasar yang ada Ka’bah, lalu naik lagi menuju pintu King Fahd. Saya melihat, jalur naik nyaris tak bergerak saking padatnya. Sementara orang yang tawaf pun banyak sekali walau panas terik. Disisi lain, saya tahu, kantin tempat makan sangat penuh sesaat usai dzuhur. 

Dalam situasi tak ada harapan ke segala tujuan, saya ambil keputusan melakukan tawaf sunnah saja dulu. Tak apa berdesak-desakan dan panas, kan sambil ibadah. Sementara kalau saya langsung keluar pun saya akan banyak diam tertahan dalam 2 antrian. Antri keluar mesjid, dan antri di kantin. Alhamdulillah, tak terasa 7 putaran usai, 1 siklus tawaf sunnah terlalui, sempat menikmati shalat di Hijir Ismail, jalan menuju keluar sudah leluasa, dan saat tiba di kantin, sudah lengang. Nyaman.

Meniru pengalaman teman saat haji, pada kunjungan ke tanah suci kali ini saya bertekad mencoba semua jalur tawaf. Lantai dasar sudah saat pertama kali masuk Makkah dan umroh. Lantai 1 saya jajal dengan suami saat tawaf sunnah usai shalat Dhuha keesokan harinya. Malam, usai Isya saya ajak teman seperjalanan untuk mencoba tawaf di lantai paling atas. 

Dengan penuh perjuangan, kami bisa sampai ke tempat tawaf teratas ini. Tak mudah. Bahkan bisa dikatakan, sebelum tawaf, saya sudah setengah tawaf. Menempuh jalan yang cukup panjang. Bertanya kepada setiap askar di tikungan, akhirnya kami sampai juga. Dari tempat shalat kami harus turun dulu ke lokasi tawaf lantai dasar, melipir setengah putaran ke arah tempat Sa’i, naik, kemudian menyeberangi tempat Sa’i lantai 1, keluar dari pintu Ali, naik eskalator, masuk dan menyeberangi tempat Sa’i lantai 2, baru deh sampai ke lintasan tawaf di lantai 2.

Kami tawaf tanpa membawa buku. Berdoa bertasbih sesuai kata hati saja, kecuali di antara rukun Yamani sampai ke Hajar Aswad, membaca “doa sapu jagat”. Demikian sampai 7 putaran. Lantas kami mencari tempat kosong untuk shalat 2 rakaat. Dapat. Di depan kami pagar, jadi tak ada yang lalu lalang di hadapan. 2 rakaat shalat sunnah usai tawaf kami akhiri dengan sujud panjaaang....selama yang kami kehendaki, sepuas hati mencumbu Ilahi. Kelak, saat kami meninggalkan Mekkah, teman berujar bahwa tawaf malam ini yang paling khusyuk dan berkesan.

Usai shalat, kami tak buru-buru pulang. Memandang ke bawah. Tak hentinya orang tawaf. Usai yang satu, datang yang lain. Terus-menerus. Mengitari Ka’bah. Sebagaimana semua makhluk yang sedang bertasbih kepada-Nya. Seperti bulan yang mengelilingi bumi. Bumi yang mengelilingi matahari, bersama planet-planet lain. Tata surya yang bergerak berputar di galaksi. Galaksi kita yang juga berputar di semesta.

Jika boleh jujur, berkali-kali tawaf, sebagian besar saya tak sanggup berdoa. Hanya tasbih. Hanya takbir. Tahmid dan istigfar. Rasanya tak pantas diri berharap apa-apa. Mengingat segala kebesaran-Nya saja. Saya merasa, tawaf  adalah persembahan bagi-Nya. Pengakuan atas ke-Maha-an-Nya. Bahwa tawaf adalah bukti kehambaan kita sebagai makhluk.

Dari ketinggian ini pula, saya bisa melihat dengan jelas yang terjadi di sekitar hajar aswad. Luar biasa upaya orang-orang untuk menyentuh dan menciumnya. Luar biasa pula kerja penjaga di sana untuk mengatur arus dan mengawasi agar tak sampai ada yang cedera. 

Jika tawaf saya lakukan berkali-kali selama di tanah suci, Sa’i hanya saya lakukan 2 kali. Saat umroh pertama ketika baru datang. Dan umroh kedua di malam terakhir di Mekkah. 

2 kali Sa’i saya merasa tak melakukan dengan sempurna. Yang pertama dilakukan setelah menempuh perjalanan panjang, lebih dari 24 jam. Lelah dan ngantuk luar biasa. Ada masa-masa saya merasa melayang. Tapi tak boleh berhenti di tengah jalan, 7 putaran harus dituntaskan. Saya menghibur diri, sa’i tetap sah selama jalurnya ditempuh sejumlah yang disyaratkan. Tak berdoa tak apa. 

Yang kedua, sudah tinggal sisa tenaga. Kaki beraaat sekali dipakai melangkah. Saya memaksakan diri sambil mengingat, bahwa saya hanya tinggal berjalan saja 7 kali bolak-balik dari Shafa ke Marwah. Titik. Lantai marmer, udara sejuk ber-AC. Santai. Sementara, Siti Hajar dulu melakukannya di terik gurun, antara 2 bukit tandus terbuka, lengkap dengan segala kekhawatiran seorang ibu atas bayinya yang kehausan dan tak ada setetespun air di sekitar. Tanpa suami ada disana pula. Benar-benar luar biasa perjuangan istri nabi Ibrahim ini. 

Empat hari di Mekkah, telinga sudah terbiasa. Kapanpun shalat, terutama saat sujud, doa dipanjatkan dengan iringan backsound...bunyi alat berat yang sedang bekerja. Ritual ini menjadi sensasi tersendiri. Mungkin tak akan dinikmati lagi oleh peziarah setelah tahun 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar