Selasa, 22 Januari 2013

LOGIKA SOAL MATEMATIKA



“Dimana ada ibu-ibu membeli semangka sebanyak 60 buah?” tanya satu murid.
“Di ... soal Matematika!” teman sekelasnya serentak menjawab sambil tertawa.

Saya lupa sumber soalnya dari mana, tapi anak saya menceritakan minggu lalu, bahwa soal Matematika itu dibahas keanehannya oleh Pak Guru di kelas. Selanjutnya, kasus itu menjadi topik candaan anak saya dan teman-temannya. 

Kalau tidak salah, soal lengkapnya adalah: seorang ibu membeli 60 buah semangka, 50 buah rambutan, dan 150 buah stroberi. Buah-buahan itu akan dibagikan kepada sekian anak panti asuhan. Berapa buah yang didapat masing-masing anak?

Keanehannya adalah ketidakmungkinan peristiwa ini terjadi.  Kalaupun ada 60 orang anak panti asuhan, memangnya setiap anak akan makan 1 buah semangka? Kalau jumlah anak lebih dari 150 orang, siapa yang mau makan rambutan setengah buah?

Tampaknya soal ini dibuat sebagai sebuah soal cerita dari topik Faktor Persekutuan Terbesar (FPB). Tujuannya agar anak-anak paham aplikasi teori ke dalam peristiwa. Sayang pembuat soal kurang memperhatikan bahwa, logika adalah nyawa Matematika.

Rumus-rumus diperoleh dari proses berpikir logis dari fakta-fakta lebih sederhana yang sudah terbukti lebih dahulu. Tapi, tidak hanya itu. Penerapan rumus-rumus itu pun harus terhadap sesuatu yang masuk akal. Sehingga semuanya membentuk satu kesatuan pemahaman.

Saat menulis ini, anak saya sedang latihan mengerjakan soal Ujian Nasional tahun sebelumnya dari sebuah buku. Baru saja dia menyodorkan sebuah contoh soal yang membuatnya tertawa, lagi.

Ibu Siti membeli 70 buah pulpen, 60 buah buku gambar, dan 90 buah buku tulis. Barang tersebut dibagikan kepada beberapa siswa. Jika setiap siswa mendapat bagian yang sama baik jumlah maupun jenisnya, jumlah siswa yang mendapat barang tersebut paling banyak ... orang. (UN 2012, redaksi sesuai yang tertulis di buku)

“Banyak amat belanjanya!” kata anak saya. Iya, ya,  pikir saya. Angka-angka itu, FPBnya 10. Artinya, jika 10 orang yang menerima barang, seorang siswa akan mendapat 7 buah pulpen, 6 buku gambar, dan 9 buku tulis. Untuk apa? Apalagi kalau yang menerima barang tidak sampai 10 orang. Setiap siswa akan mendapat barang jauh lebih banyak. Apalagi, dalam soal tidak disebutkan Ibu Siti ini siapa. Apa urusannya ibu Siti dengan para siswa? Andaikan ibu Siti ini guru pun, dalam rangka apa dia berbaik hati membeli barang sebanyak itu kemudian membagikannya begitu saja?

Gara-gara satu soal ini, saya jadi tertarik membaca soal  berikutnya.

Pak Tio membeli 24 pensil 2B, 36 pensil HB, dan 48 pensil B. Pensil-pensil tersebut akan dimasukkan ke dalam kotak. Setiap jenis pensil dalam setiap kotak berjumlah sama banyak. Banyak pensil 2B dalam setiap kotak adalah ... buah.

Mungkin ada kekurangan pengetikan jumlah kotak. Tetapi yang menjadi pertanyaan di sini, sama seperti di atas, banyak amat belanjanya? Bahkan dalam soal ini lebih tidak jelas lagi untuk urusan apa pensil dibagi-bagi ke sekian kotak.

Konteks. Itu yang perlu kita perhatikan dalam membuat soal Matematika, selain topik bahasan, agar anak-anak dapat memahaminya dengan mudah. Anak-anak kita cerdas. Jangan sampai niat membuat mereka lebih paham Matematika, justru berbalik menjadikan Matematika bahan tertawaan mereka.

Melengkapi konteks pada sebuah soal tidak sulit. Banyak hal di sekitar kita yang bisa kita manfaatkan. Pada soal try out di buku ini, topik yang sama dengan soal Pak Tio, diterapkan pada Tino dan kelereng yang dimilikinya, masing-masing 12 kuning, 16 biru, dan 20 hijau. Ini logis, karena anak laki-laki biasanya memang memiliki kelereng dalam jumlah banyak. 

Jika ingin menerapkan soal ke jumlah barang yang besar, bisa kita gunakan toko, pasar, atau pabrik sebagai lokasi. Karena di sana biasanya barang-barang tersedia dalam jumlah banyak. Atau diterapkan ke profesi tertentu. Misalnya jumlah kancing yang dimiliki penjahit, jumlah piring atau bahan makanan suatu catering, atau buku di perpustakaan. Untuk jumlah barang yang lebih sedikit bisa kita pakai rumah sebagai lokasi. Yang penting, masuk akal.

Soal Matematika perlu logika untuk menyelesaikannya. Tetapi jangan lupa, Soal Matematika perlu logika juga saat membuatnya. Hanya peristiwa-peristiwa yang logis saja yang kita jadikan latar penerapan dari sebuah hitung-hitungan yang, juga, logis.

4 komentar:

  1. ibue bakul semangka mak makanya belinya banyak hehehe... salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Makasih Mak Rahmi sudah mampir. Salam kenal juga. Kayaknya kulakan ya :)

    BalasHapus
  3. Makasih Mak Rahmi sudah mampir. Salam kenal juga. Kayaknya kulakan ya :)

    BalasHapus
  4. Setuju banget :) jadi inget pas masa sekolah dulu...

    BalasHapus