Sabtu, 01 Maret 2014

KM 100-an Tol Cipularang




     Rabu pagi akhir Februari, teman saya mengalami kecelakaan tunggal  di tol Cipularang arah ke Bandung, km 103. Teman yang lain, rupanya pernah juga mengalami kejadian serupa tahun lalu di km 100. Jadi teringat, beberapa tahun lalu, penyanyi Saiful Jamil juga mengalami kecelakaan di km 100-an. Bahkan pihak pengelola jalan tol memberi peringatan khusus agar pengendara berhati-hati di antara km 90 s.d. 100. Ada apa sebenarnya?

     Korban kecelakaan hari Rabu bercerita, bahwa pada saat kejadian tidak ada yang mengagetkan, tidak sedang nyalip, dan juga tidak melewati lobang. Kondisi hujan rintik normal. Mobil kecepatan 90 km/jam. Artinya kecepatan normal, bahkan cenderung rendah. Mobil tiba-tiba saja seperti tidak menapak di aspal. Mobil bergerak tegak lurus badan jalan, hingga roda berputar berlawanan arah dengan mobil. 

     “Saya sadar kalau saya lakukan pengereman akan mengakibatkan keadaan yang lebih buruk”, katanya. “Maka saya membiarkan mobil hingga berhenti. Saya hanya mengarahkan mobil jangan sampai menyeberang ke jalur lain. Alhamdulillah, hanya cedera ringan  di bahu kanan, karena kalau lihat kejadiannya sungguh mengerikan.”

     Uraiannya menimbulkan kewaspadaan lain. Mobil tidak menapak? Jangan-jangan...gosip horor Cipularang benar adanya. Pernah mendengar kan, bahwa di jalur tol itu sering terjadi hal-hal yang tak terjelaskan? :)

     Isu dunia lain ini dipatahkan oleh analisis beberapa teman yang paham permobilan dan perfisikaan. Khususnya berkaitan dengan peristiwa Rabu pagi di km 103.

     Dari kondisi jalan. Tol Cipularang adalah tol paling berbahaya. Kontur alamnya berat. Kondisi jalan kurang sempurna. Sementara, pengguna merasa itu jalan tol sehingga cenderung ngebut. Tidak memperhatikan peringatan kecepatan maksimal 80 km/jam.

     Fenomena apa kok bisa mobil tiba-tiba kayak terbang?
     Kata sahabat korban : Teman kita itu kan nyupir sendiri dari Jakarta mau menemui istri di Bandung. Tampaknya sudah kangen berat. Sampai-sampai kecepatan 190 km/jam terbacanya 90 km/jam. Hehe, ini analisis lebay, tetapi sangat mungkin kecepatan lebih dari yang disebutkan korban. 
 
     Hujan rintik-rintik itu bahaya, karena air tercampur debu itu licin, beda dengan hujan lebat. Hujan lebat tidak licin karena jalan bersih dari lumpur debu tipis. 

     Jalan bergelombang mengakibatkan kolam kecil. Bila dilindas oleh ban kecepatan tinggi, dia akan mengakibatkan permukaan ban tidak sepenuhnya menapak. Jumlah kolam kecil yang banyak, mengakibatkan beberapa kali ban tidak menapak. 

     Perlu diingat gaya pada mobil berjalan tidak hanya satu arah, ada angin dan juga momentum waktu jalan bergelombang. Lengkap deh.

     Beberapa kali ban tidak menapak sepenuhnya, arah angin, lumpur tipis, dan momentum gelombang mengakibatkan arah gaya simultan yang menyebabkan slip. Kalau sudah slip, gaya friksi sangat kecil. Udah deh, susah ngontrol

     Langkah sudah benar: jangan di rem. Meskipun remnya canggih pakai ABS, malah akan bahaya kalau direm. ABS baik untuk jalan kering. ABS: anti blocking system, pada sistem pengereman.

     Jadi, penyebabnya:  kecepatan tinggi, jalan bergelombang, hujan rintik-rintik.

     Begitulah uraian fisika dari kecelakaan di Cipularang. Sama sekali bukan sesuatu yang gaib,  walau sama-sama melibatkan sesuatu yang tak menapak dalam pembahasannya.

     Oke, paham penyebabnya. Ke depannya, kalau kita nyetir dalam kondisi jalan bergelombang dan hujan rintik-rintik, supaya gak kejadian seperti itu, apa yang harus kita lakukan?
     Mas tukang insinyur ini menjawab dengan santai: Baca bismillah dong.
     Jawaban seriusnya, usahakan sesuai aturan, maksimal 80 km/jam. Dan jangan sampai ngerem mendadak.

10 komentar:

  1. ya boleh juga tuh penjelasannya.... cukup melogika... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Iya, ini awalnya obrolan santai. Karena ilmiah, saya izin share di blog ke teman-teman.

      Hapus
  2. ih iya ya mak, sampe pernah dibahas dalam tayangan apa ya waktu itu. eh itu tayangan malah ngajak kita buat percaya yg selain Alloh deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mak. Betul, menarik karena sama-sama bicara soal "gak napak", tapi yang ini dari sisi logis.

      Hapus
  3. memang perlu TTDJ (ati ati di jalan ya mak ) hehe :) salam kenal mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Salam kenal juga, Mak Santi (mau nyebut Mak Agus, kayaknya gak pantes ya :).). TTDJ selalu yang utama.

      Hapus
  4. hehehe....kalau ngg horor ngg seru ya...tapi memang masuk akal penjelasannya...semoga kita selalu ingat dan berhati-hati di jalan..makasih sharingnya mak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, iya mak Indah. "bumbu"nya yang bikin "enak". Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  5. Pernah nonton acara Indigo, pembangunan tol Cipularang memang mengganggu para arwah di sana :D Banyak lelembut berkeliaran, makanya yang muslim harus selalu bershalawat ketika melewati jalan itu, atau jalanan manapun :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Melodia. Yup, selalu berusaha ingat Allah kapanpun dimanapun.

      Hapus